Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi bicara dengan orangtuanya
ilustrasi bicara dengan orangtuanya (freepik.com/freepik)

Intinya sih...

  • Langkah pertama menetapkan batasan sehat dengan orangtua adalah mengenali kebutuhan dan batas diri secara jujur.

  • Menetapkan batasan gak akan berjalan efektif tanpa komunikasi yang jelas dengan orangtua.

  • Mengatakan tidak kepada orangtua menjadi tantangan terbesar bagi anak dewasa.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjadi anak dewasa ternyata gak identik dengan hidup yang bebas. Di balik status yang harusnya mandiri, ternyata banyak dari mereka yang masih bergulat dengan rasa sungkan, bersalah, dan kelelahan emosional saat berhadapan dengan orangtua. Orangtua memang punya niat baik, tapi perhatian yang berlebihan bisa berubah menjadi campur tangan. Pelan-pelan, hubungan yang awalnya hangat justru seperti tekanan.

Banyak anak dewasa memilih diam demi menjaga perasaan orangtua. Padahal, relasi yang sehat butuh batasan yang jelas biar gak saling melukai. Menetapkan batasan bukan durhaka pada orangtua, tapi salah satu bentuk kedewasaan emosional yang perlu dipelajari. Biar lebih paham, yuk, simak ulasan berikut!

1. Kenali kebutuhan dan batasan diri sendiri

ilustrasi mengenali batasan untuk diri sendiri (freepik.com/pressmaster)

Langkah pertama dalam menetapkan batasan sehat dengan orangtua adalah mengenali kebutuhan dan batas diri secara jujur. Banyak dari mereka yang mengabaikan perasaan demi menyenangkan hati orangtua. Padahal, memahami apa yang membuatmu nyaman atau gak nyaman adalah pondasi batasan yang kuat. Kamu harus sadar kapan nasihat berubah menjadi kontrol, atau perhatian berubah menjadi tekanan.

Proses ini memang gak instan karena melibatkan refleksi terhadap pengalaman hidup. Menulis perasaan atau berbicara dengan orang lain membuat kamu bisa mengenali batas pribadi. Dengan mengenal diri sendiri, kamu gak mudah goyah oleh rasa bersalah. Sehingga batasan yang dibuat terasa lebih jelas dan bermakna.

2. Komunikasikan batasan dengan tenang dan jujur

ilustrasi bicara dengan tenang (freepik.com/donidas)

Menetapkan batasan gak akan berjalan efektif tanpa komunikasi yang jelas dengan orangtua. Banyak yang menunda bicara karena takut dipandang melawan atau gak tahu cara menyampaikannya. Padahal, kunci komunikasi batasan adalah sikap yang tenang dan jujur. Sampaikan perasaanmu dengan bahasa yang lembut tapi tetap tegas.

Hindari menyalahkan, coba fokus pada apa yang kamu rasakan dan butuhkan. Jelaskan kalau kamu butuh ruang supaya bisa mengambil keputusan sendiri. Percakapan ini mungkin awalnya canggung atau memicu reaksi emosional. Tapi, dengan kejujuran lkamu bisa membuka langkah awal menuju hubungan yang lebih sehat.

3. Belajar mengatakan tidak tanpa rasa bersalah

ilustrasi berani menolak tanpa menyakiti (freepik.com/sodawhiskey)

Mengatakan tidak kepada orangtua menjadi tantangan terbesar bagi anak dewasa. Rasa bersalah muncul karena takut membuat orangtua kecewa atau dinilai anak yang idak berbakti. Padahal, mengatakan tidak bukan berarti menolak permintaan orangtua, tapi untuk menjaga diri sendiri. Kamu berhak menolak permintaan yang melampaui batas kemampuan emosional.

Keputusan ini justru membuat kamu tetap dalam kondisi sehat secara emosional. Memaksakan diri hanya membuat lelah makin menumpuk dan emosi terpendam terlalu dalam. Belajar untuk bilang tidak juga butuh proses, bukan sikap yang langsung sempurna. Perlahan, kamu bisa lebih percaya diri dalam menjaga batasan tanpa rasa bersalah.

4. Tetap konsisten dengan batasan yang dibuat

ilustrasi konsisten dengan batasan (freepik.com/freepik)

Batasan yang sehat butuh konsistensi biar benar-benar dihormati sepenuhnya. Banyak anak dewasa goyah saat orangtua mulai menunjukkan kekecewaan atau memainkan emosi. Kalau kamu terus melanggar batas yang sudah dibuat, orangtua juga bingung dan menganggapnya gak serius. Konsistensi bukan berarti keras, tetapi teguh dengan keputusan yang sudah dipikirkan matang.

Pasti akan ada momen saat kamu ingin kembali mengalah demi menjaga suasana tetap damai. Tapi, terus mengorbankan diri hanya memperpanjang pola yang bikin kamu lelah. Kalau kamu bisa bersikap konsisten artinya kamu sedang membangun hubungan yang lebih jelas. Perlahan orangtua juga akan belajar memahami sudut pandang yang kamu punya.

5. Terima kalau reaksi orangtua bukan tanggung jawabmu

ilustrasi selalu siap menerima reaksi orangtua (freepik.com/dimaberlin-1)

Salah satu hal tersulit saat menetapkan batasan adalah menerima reaksi orangtua yang gak sesuai harapan. Mereka bisa sedih, marah, atau kecewa karena perubahan hubungan. Jadi, kamu harus memahami bahwa perasaan mereka gak sepenuhnya tanggung jawabmu. Kamu gak bisa mengontrol respons orangtua, tapi kamu bisa mengontrol sikapmu sendiri.

Tetap bersikap hormat sambil terus menjaga batasan adalah kunci utama dalam menjaga keseimbangan. Rasa gak nyaman ini biasanya hanya bersifat sementara. Seiring waktu, orangtua akan beradaptasi dengan peran barumu sebagai pribadi yang lebih dewasa. Penerimaan ini membuat hidupmu lebih tenang.

Menetapkan batasan sehat dengan orangtua adalah proses emosional yang butuh keberanian dan kesabaran. Gak semua orangtua langsung memahami perubahan sikap anaknya. Tapi, dengan batasan membantu menciptakan hubungan yang lebih jujur dan saling menghormati. Anak yang sudah dewasa berhak menjalani hidup sesuai nilai dan pilihannya sendiri.

Dengan batasan jelas, rasa lelah dan konflik batin perlahan bisa berkurang. Hubungan gak lagi dibangun atas rasa takut atau sekedar kewajiban. Sebaliknya, relasi tumbuh dari rasa saling pengertian dan kepercayaan. Sehingga, batasan bukan jarak, tapi jembatan menuju kedewasaan emosional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team