Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Dukungan Orangtua yang Paling Dibutuhkan Anak untuk Regulasi Emosi

potret ibu peluk anaknya
potret ibu peluk anaknya (pexels.com/Yan Krukau)
Intinya sih...
  • Rumah yang damai, stabil, dan aman membantu anak tumbuh dengan emosi yang sehat.
  • Orangtua perlu menenangkan diri terlebih dahulu sebelum menenangkan anak.
  • Memberikan dukungan adaptif terhadap emosi anak dan fokus pada solusi.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pada masa kanak-kanak, orangtua memainkan peran penting dalam membantu anak mengembangkan keterampilan regulasi emosinya. Hal ini dikarenakan, kemampuan anak untuk mengatur dan mengekspresikan emosinya dengan sehat tidak muncul begitu saja, melainkan terbentuk dari pola asuh, interaksi, dan lingkungan emosional yang diciptakan oleh orangtua di rumah. 

Regulasi emosi menjadi fondasi penting bagi perkembangan sosial, mental, dan akademik anak, karena dari situ, anak bisa belajar mengenali, memahami, serta menyalurkan perasaannya tanpa meledak-ledak. Dalam hal ini, orangtua sangat berperan besar dalam proses ini, tidak hanya melalui ucapan, tapi juga lewat contoh dan respons terhadap emosi anak sehari-hari. 

Berikut lima peran penting yang perlu dipahami setiap orangtua dalam membentuk regulasi emosi anak. Yuk, simak penjelasannya!

1. Menjadikan lingkungan rumah damai, stabil, dan aman

potret happy family
potret happy family (pexels.com/Arina Krasnikova)

Rumah yang tenang, stabil, dan aman adalah tempat terbaik bagi anak untuk tumbuh dengan emosi yang sehat. Suasana seperti ini membuat anak merasa nyaman, dan terlindungi setiap harinya. Ketika rumah jauh dari pertengkaran dan penuh dengan komunikasi yang jujur, anak belajar cara berbicara dan mendengarkan dengan baik. Anak juga akan memahami bahwa setiap perasaan boleh diungkapkan tanpa harus takut dimarahi.

Lingkungan yang saling menghargai membantu anak mengenal emosinya sendiri dengan lebih baik. Anak belajar membedakan kapan dia merasa marah, sedih, atau bahagia, serta bagaimana cara menanganinya. Dari situ tumbuh rasa percaya diri bahwa dia bisa mengatur dirinya tanpa tekanan. Dengan kata lain, rumah yang damai menjadi sekolah pertama bagi anak dalam belajar mengelola emosinya.

2. Mengendalikan emosimu dengan tenang sebelum menenangkan anak

potret ibu bersama dua anak
potret ibu bersama dua anak (pexels.com/Elina Fairytale)

Anak belajar paling efektif melalui pengamatan terhadap perilaku orangtuanya. Jadi ketika orangtua menunjukkan cara menenangkan diri saat marah, kecewa, atau stres, anak akan meniru strategi tersebut secara alami, karena anak melihat contoh nyata tentang bagaimana mengelola emosi dengan baik. Sikap tenang ini menunjukkan bahwa emosi bisa dihadapi tanpa perlu meledak. Secara tidak langsung, anak pun belajar bahwa menenangkan diri adalah langkah pertama sebelum mengambil tindakan.

Sebaliknya, jika orangtua ikut terbawa emosi dan kehilangan kendali, anak akan meniru reaksi tersebut. Anak bisa menganggap bahwa marah atau berteriak adalah cara untuk menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, sebelum menenangkan anak, orangtua sebaiknya menenangkan diri lebih dulu. Dengan begitu, suasana tetap aman, dan anak merasa lebih mudah untuk ikut tenang.

3. Memberikan dukungan yang adaptif terhadap emosi anak

potret ibu peluk anaknya
potret ibu peluk anaknya (pexels.com/Yan Krukau)

Setiap anak memiliki cara unik dalam menunjukkan dan menghadapi emosinya. Ada anak yang mudah bercerita saat sedih, tapi ada juga yang memilih diam dan menyendiri. Oleh karena itu, orangtua perlu menyesuaikan cara mendukung anak sesuai situasi dan kebutuhannya. Dukungan seperti ini disebut dukungan adaptif, yaitu kemampuan memahami apa yang benar-benar dibutuhkan anak di setiap kondisi.

Kadang anak membutuhkan pelukan untuk merasa aman, kadang dia juga perlu waktu sendiri agar bisa tenang. Di saat yang lain, mungkin anak butuh diajak berbicara agar bisa menyalurkan perasaannya. Ketika orangtua mampu membaca dan merespons kebutuhan ini dengan bijak, anak belajar bahwa semua emosi boleh dirasakan dan tidak perlu disembunyikan. Sikap adaptif ini menumbuhkan rasa percaya diri anak dalam mengelola emosi, karena dia tahu orangtuanya akan selalu ada dengan cara yang tepat di waktu yang tepat.

4. Menanggapi emosi anak dengan fokus pada solusi

potret ibu mendengarkan anaknya bicara
potret ibu mendengarkan anaknya bicara (freepik.com/ DC Studio)

Alih-alih hanya berusaha menenangkan anak saat dia marah atau sedih, orangtua bisa membantu dengan mengarahkan perhatian anak pada cara menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Pendekatan seperti ini dikenal dengan istilah solution-focused responding, yaitu merespons emosi anak dengan membantunya mencari solusi, bukan sekadar menekan perasaan yang muncul. Dengan begitu, anak tidak hanya merasa didengarkan, tetapi juga belajar berpikir lebih positif dan aktif dalam menghadapi tantangan yang membuatnya kesal atau kecewa.

Sebagai contoh, ketika anak merasa kecewa karena gagal, orangtua bisa menunjukkan empati lalu mengajaknya mencari tahu bagian mana yang bisa diperbaiki. Sikap ini membantu anak memahami bahwa perasaan negatif bukan akhir dari segalanya, melainkan tanda untuk belajar dan berkembang. Pendekatan tersebut menumbuhkan ketangguhan dan rasa optimis pada diri anak, karena dia belajar bahwa setiap masalah bisa dicari jalan keluarnya. Dalam jangka panjang, anak pun tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan tidak mudah menyerah saat menghadapi kesulitan.

5. Memberi anak kesempatan untuk berinteraksi dan membantu orang lain

potret anak membantu orang lain
potret anak membantu orang lain (freepik.com/freepik)

Memberi anak kesempatan untuk berinteraksi, menolong, berbagi, atau berempati terhadap orang lain membantu anak belajar memahami perasaan dari sudut pandang yang berbeda. Dengan cara ini, anak mulai menyadari bahwa setiap orang bisa merasakan senang, sedih, atau kecewa dengan cara yang tidak selalu sama seperti dirinya. Melalui pengalaman ini, anak belajar menghargai perasaan orang lain dan lebih berhati-hati dalam bersikap. Dia juga akan mengerti bahwa empati adalah bagian penting dari hubungan yang hangat dan saling menghargai.

Ketika anak menenangkan teman yang sedih atau membantu orangtua di rumah, anak sebenarnya sedang melatih dirinya untuk tetap tenang dan peduli pada saat yang bersamaan. Aktivitas sederhana seperti ini membantu anak mengelola emosinya agar tidak mudah marah atau frustrasi. Selain itu, anak belajar bahwa kebaikan kecil dapat membawa dampak besar bagi orang lain. Dari situ tumbuh empati, rasa tanggung jawab, dan keterampilan sosialnya yang kuat, karena semua hal itu yang mendukung kemampuan anak dalam mengatur emosi di kehidupan sehari-harinya.

Membentuk regulasi emosi anak bukan tentang menjadikan dia selalu tenang atau tidak pernah marah, melainkan membantunya memahami makna dari setiap emosi yang muncul dan mengelolanya dengan cara yang tepat. Melalui beberapa cara di atas, orangtua berperan besar dalam menanamkan kecerdasan emosional yang akan menjadi bekal anak menghadapi kehidupan di masa depan.

Proses ini memang membutuhkan waktu dan kesabaran, namun hasilnya akan terlihat ketika anak tumbuh menjadi pribadi yang mampu menenangkan diri, berpikir jernih, serta berempati pada orang lain. Semoga artikel ini bermanfaat!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Latest in Life

See More

[QUIZ] Kamu Termasuk Tipe Ekstrovert yang Mana?

29 Nov 2025, 22:00 WIBLife