6 Hal Ini Bisa Bikin Anak Merasa Kesepian, Butuh Teman Bicara

Saat kita sudah besar dan merasa kesepian, lebih mudah untuk kita mengatakannya pada orang lain. Dengan begitu, orang-orang di sekitar kita bisa lebih cepat memberikan bantuan. Misalnya, dengan mengajak kita berlibur. Namun tidak demikian dengan anak-anak.
Sama seperti orang dewasa, anak-anak juga bisa merasa kesepian. Bahkan lebih rentan ketimbang orang dewasa mengingat pertemanan dan aktivitas mereka yang masih sangat terbatas. Sayangnya, gak seperti kita, anak-anak biasanya lebih sulit mengemukakan perasaannya.
Oleh karena itu, sebagai orang yang jauh lebih dewasa darinya, kita harus peka dan bisa memahami rasa kesepian anak. Termasuk berbagai kemungkinan penyebabnya seperti enam hal di bawah ini:
1. Orangtua jarang banget bersamanya

Ini sering terjadi pada anak yang masih kecil dan orangtuanya sibuk sekali di luar atau justru tinggal di kota yang berbeda. Masih lebih baik bila di rumah ada pengasuh atau keluarga lain yang bisa memberinya perhatian seperti orangtua.
Namun jika mereka pun lebih banyak berkegiatan di luar ketimbang menemaninya di rumah, anak akan merasa kesepian. Bahkan meski sesekali dia bisa ikut saat pengasuh atau orangtuanya berkegiatan di luar rumah, dunia orang dewasa mungkin membuatnya kurang nyaman.
2. Terlalu dibatasi ruang geraknya

Barangkali maksud orangtua baik, hanya ingin anak lebih aman dengan berada di rumah saja. Toh, rumah sudah dilengkapi berbagai fasilitas untuk anak belajar dan bermain. Namun tetap saja, pada umumnya anak punya dorongan untuk selalu menjelajah.
Rumah pun bisa terasa sebagai belenggu baginya. Apalagi jika dia melihat teman-temannya leluasa bermain di luar. Sementara di rumah, ia hanya bersama boneka-boneka atau mainan lainnya.
3. Ceritanya gak pernah didengarkan

Benak kita sebagai orang dewasa mungkin akan berkata, 'Apa pentingnya mendengarkan cerita anak-anak? Dunia mereka masih sangat sempit. Pasti cerita mereka gak bermutu dan gak masuk akal. Berbeda dengan cerita orang dewasa yang penuh hal-hal penting seperti urusan bisnis dan sebagainya.'
Sekalipun cerita anak terdengar tidak penting buat kita, tetap saja bagi mereka cerita itu segalanya. Maka pengabaian atau sikap meremehkan kita pada cerita-ceritanya akan membuat anak terluka. Anak senang didengarkan dan akan sangat menghargai antusiasme kita pada ceritanya.
4. Gak punya saudara alias anak tunggal

Seiring pertambahan usia, banyak anak tunggal menjadi terbiasa dengan kesendirian saat di rumah. Bahkan merasa itulah zona nyaman mereka sehingga sama sekali gak berminat untuk memiliki adik. Pun mereka telah punya banyak teman di luar sana sehingga gak lagi tersiksa oleh rasa kesepian.
Namun di usia-usia awal, rasa kesepian wajar dialami para anak tunggal. Mereka menjadi selalu ingin ditemani oleh orangtua atau pengasuh, sangat cemas jika ditinggalkan, dan senangnya bukan main bila om atau tante berkunjung. Meski bisa jadi mereka justru gak nyaman bila yang datang saudara-saudara sebaya apalagi lebih kecil darinya.
5. Orangtua gak hadir secara psikis, cuma fisik

Orangtuanya gak sibuk di luar rumah, tetapi di dalam rumah pun seperti gak pernah bisa diganggu. Misal, orangtua mengunci diri di kamar kerja hampir sepanjang hari. Saat keluar dari sana juga gak mau bermain dengan anak.
Komunikasi antara anak dengan orangtua tidak berjalan lancar. Orangtua tidak bisa mengerti keinginan anak, demikian pula anak merasa asing dengan orangtuanya. Jika terus dibiarkan, anak akan makin berjarak secara psikis dengan orangtua sekalipun gak pernah pisah rumah.
6. Gak diberi keleluasaan berkumpul dengan teman sebaya

Di usia anak-anak, kebutuhan akan teman sebaya gak bisa dipandang sebelah mata. Namun akan makin kentara ketika anak beranjak remaja. Sedekat apa pun hubungan antara anak dengan orangtua, itu tetap tidak menggantikan peran teman sebaya.
Saat remaja, anak biasanya kurang nyaman bepergian bersama orangtua apalagi menceritakan hal-hal pribadi, seperti saat dia jatuh cinta. Dia lebih suka menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatnya dan akan merasa lebih dimengerti oleh mereka.
Berbahaya atau tidaknya kesepian yang dirasakan anak tentu tergantung banyak faktor. Bila perasaan itu terus dibiarkan dan menjadi makin parah, sangat bisa mengganggu suasana hati dan proses belajarnya. Bahkan bisa pula anak lari ke pergaulan yang kurang baik.
Dengan mengetahui kemungkinan sebab-sebabnya, semoga kita bisa membantu mereka terbebas dari rasa kesepian itu. Terlebih jika kita orangtuanya. Wajib hukumnya untuk membuat anak merasa lebih baik.