Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Anak Berhenti Tidur Siang di Usia Berapa? Ini Tanda dan Cara Menghadapinya!
ilustrasi anak sedang tidur (pexels.com/artempodrez)

Pernah kepikiran kenapa ada anak yang sudah gak tidur siang sejak usia 2 tahun, tapi ada juga yang masih lanjut sampai TK? Perbedaan ini sering bikin orangtua bertanya-tanya, apakah anaknya terlalu cepat atau justru terlambat. Padahal, kenyataannya setiap anak punya kebutuhan tidur yang berbeda.

Di satu sisi, tidur siang sering jadi momen penting untuk anak beristirahat sekaligus memberi jeda bagi orangtua. Namun di sisi lain, ada fase ketika anak mulai menolak tidur siang dan terlihat tetap aktif sepanjang hari. Nah, di sinilah banyak orangtua mulai bingung harus mengikuti keinginan anak atau tetap mempertahankan rutinitas. Untuk itu, yuk simak penjelasan lengkapnya!

1. Usia rata-rata anak berhenti tidur siang

ilustrasi ayah dan anak sedang tertidur (pexels.com/rdne)

Sebagian besar anak mulai berhenti tidur siang di usia 3–5 tahun. Bahkan, sekitar 95 persen anak sudah benar-benar meninggalkan kebiasaan ini saat usia 5 tahun. Ini jadi gambaran umum yang sering dijadikan acuan oleh banyak orangtua.

Meski begitu, angka tersebut bukan aturan mutlak. Dikutip dari Parents, Dane Snyder, MD, seorang dokter anak menegaskan bahwa, setiap anak itu berbeda, dan situasi setiap keluarga juga berbeda. Tidak ada rumus atau usia pasti. Artinya, kalau anak masih tidur siang di usia tersebut atau bahkan lebih, itu masih tergolong wajar.

“Orangtua tidak perlu terlalu mencari jawaban di media sosial, karena membandingkan anak dengan anak lain biasanya tidak membantu,” ujar Dane Snyder. “Apa yang berhasil untuk satu keluarga belum tentu berhasil untuk keluarga lain,” tambahnya.

2. Kenapa tidur siang itu penting?

ilustrasi anak sedang tidur (pexels.com/olly)

Tidur siang bukan sekadar waktu istirahat, tapi juga punya peran besar dalam perkembangan anak. Mulai dari kemampuan belajar, mengingat, sampai mengatur emosi, semuanya sangat dipengaruhi oleh kualitas tidur mereka.

Menurut Raj Dasgupta, MD, dokter yang bersertifikasi di bidang paru-paru, tidur, penyakit dalam, dan perawatan kritis, dikutip dari Parents,  selama tidur siang, anak-anak beristirahat dan mengisi ulang energi, yang mendukung pembelajaran, memori, dan suasana hati. Dengan kata lain, tidur siang membantu anak tetap fokus dan tidak mudah rewel sepanjang hari.

3. Alasan anak kecil masih butuh tidur siang

ilustrasi anak sedang tidur (pexels.com/ellyfairytale)

Anak kecil membutuhkan tidur siang karena tubuh mereka mengalami yang disebut “tekanan tidur” lebih cepat dibanding orang dewasa. Setelah beberapa jam terjaga, rasa lelah mereka akan muncul lebih cepat, sehingga butuh waktu istirahat tambahan.

Dr. Rupali Drewek, MD, dokter paru-paru anak dan spesialis tidur, dikutip dari Parents, menjelaskan, pada dasarnya anak butuh tidur siang agar bisa tetap terjaga sepanjang hari bukan karena manja atau kebiasaan, tapi memang kebutuhan biologis. Di sisi lain, perkembangan otak di usia dini juga sangat pesat. Itulah kenapa tidur siang masih jadi bagian penting di usia balita.

“Tidur memungkinkan otak berkembang dan membangun jaringan untuk berpikir dan belajar,” ujar Dr. Rupali Drewek. “Tidur juga penting untuk pertumbuhan dan pematangan tubuh secara keseluruhan,” tambahnya.

4. Tanda anak sudah siap berhenti tidur siang

ilustrasi ibu dan anak membaca buku (pexels.com/olly)

Menurut Dr. Rupali Drewek, ada beberapa tanda yang bisa diperhatikan, di antaranya, anak mulai susah tidur di malam hari setelah tidur siang, sering menolak tidur siang, atau tidak terlihat mengantuk di siang hari. Bahkan, ada juga anak yang tetap aktif dan baik-baik saja meski tidak tidur siang.

Daripada terpaku pada usia, sebenarnya lebih penting untuk memperhatikan tanda-tanda dari anak. Kalau tanda-tanda ini muncul secara konsisten, bisa jadi anakmu memang sudah siap untuk berhenti. Di tahap ini, penting untuk mulai menyesuaikan rutinitas secara perlahan.

5. Faktor yang memengaruhi kapan anak berhenti tidur siang

ilustrasi anak bermain tablet di samping ayahnya (pexels.com/rdne)

Setiap anak punya timeline sendiri saat berhenti tidur siang, jadi wajar kalau waktunya berbeda-beda. Proses ini dipengaruhi banyak hal, mulai dari usia, kepribadian, hingga perkembangan anak. Rutinitas harian keluarga juga ikut berperan, karena pola aktivitas bisa membentuk kebiasaan tidur si kecil.

Menurut dokter Dane Snyder, lingkungan dan kebiasaan sehari-hari sering kali menentukan kapan anak siap berhenti tidur siang. Anak dengan jadwal yang teratur atau kebutuhan aktivitas tertentu bisa punya pola tidur yang berbeda. Jadi, bukan cuma soal usia, tapi juga faktor keseharian.

Menariknya, studi tahun 2023 dalam jurnal Sleep Epidemiology menunjukkan anak lebih cepat berhenti tidur siang jika berjenis kelamin perempuan saat lahir, punya kakak, mencapai lebih banyak milestone, dan tidur lebih lama di malam hari. Sebaliknya, beberapa kondisi seperti orangtua yang bekerja atau masih sekolah bisa membuat anak mempertahankan kebiasaan ini lebih lama.

6. Cara membantu anak berhenti tidur siang secara bertahap

ilustrasi ibu dan anak bermain laptop di tempat tidur (pexels.com/olly)

Saat anak mulai berhenti dari tidur siang, prosesnya gak selalu berjalan mulus. Kalau langsung dihentikan total, anak justru bisa jadi lebih rewel atau kelelahan sepanjang hari. Karena itu, penting untuk menjalani transisi ini secara perlahan biar anak tetap nyaman dan kebutuhan tidurnya tetap terpenuhi.

Supaya prosesnya lebih smooth, ada beberapa cara yang bisa kamu coba. Mulai dari mengurangi durasi tidur siang sedikit demi sedikit, menggantinya dengan “quiet time” seperti membaca atau bermain santai, hingga memajukan jam tidur malam. Selain itu, tetap jaga rutinitas tidur yang konsisten dan beri fleksibilitas dengan sesekali tetap membiarkan anak tidur siang selama masa transisi.

7. Tantangan yang sering muncul dan cara mengatasinya

ilustrasi anak berbaring di pangkuan ibu (pexels.com/kseniachernaya)

Saat anak berhenti tidur siang, perubahan perilaku biasanya tidak bisa dihindari. Menurut Dr. Rupali Drewek, beberapa tantangan termasuk meningkatnya rewel atau tantrum, kesulitan menyesuaikan pola tidur baru, hingga stres pada orangtua. Hal ini wajar terjadi, terutama di awal masa transisi.

Untuk mengatasinya, pastikan anak tetap aktif di siang hari agar energi mereka tersalurkan dengan baik. Aktivitas fisik sepanjang hari dapat membantu menghabiskan energi dan meningkatkan kecenderungan untuk tidur di malam hari. Selain itu, ajak anak berbicara agar mereka lebih siap menghadapi perubahan ini.

Pada akhirnya, gak ada aturan pasti kapan anak harus berhenti tidur siang, karena setiap anak punya waktunya sendiri. Jadi, daripada membandingkan, lebih baik fokus memahami kebutuhan si kecil karena dari situlah pola tidur yang sehat bisa terbentuk.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team