Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi anak marah
ilustrasi anak marah (pexels.com/RDNE Stock project)

Intinya sih...

  • Anak mudah tersinggung terhadap hal-hal kecil

  • Menunjukkan beban rutinitas yang terlalu berat secara emosional

  • Energi mental terkuras dan lebih sensitif dalam merespon hal kecil

  • Anak menunjukkan penurunan semangat dan motivasi

  • Refleksi dari kejenuhan dan tekanan akibat tuntutan yang tinggi

  • Kehilangan minat pada kegiatan yang disukai dan menunda-nunda tugasnya

  • Anak menjadi lebih sering mengeluh atau menolak aktivitas

  • Rutinitas tidak lagi terasa nyaman untuknya

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Rutinitas merupakan bagian penting dalam proses perkembangan anak karena dapat membantu mereka untuk membangun kebiasaan yang konsisten dan teratur di kesehariannya. Namun, rutinitas anak yang terlalu padat justru akan membuat mereka merasa kewalahan dan memengaruhi kesehatan emosional hingga fisik.

Pada umumnya dalam kondisi seperti ini, anak mungkin akan menunjukkan sinyal tertentu yang kerap kali tidak disadari secara langsung oleh orangtua. Simaklah beberapa tanda berikut ini yang menunjukkan bahwa anak mengalami kewalahan dengan rutinitas, sehingga harus diwaspadai sebelum semakin memburuk.

1. Anak mudah tersinggung terhadap hal-hal kecil

ilustrasi anak marah (pexels.com/RDNE Stock project)

Pada saat anak mulai mudah tersinggung karena hal-hal kecil, maka itu menjadi tanda bahwa beban rutinitasnya terlalu berat untuk ditanggung secara emosional. Perubahan yang ada pada umumnya muncul karena energi mental anak sudah terkuras oleh jadwal harian yang padat dan kurangnya waktu istirahat yang memadai, sehingga anak pun lebih sensitif dalam merespon hal kecil.

Biasanya anak juga akan mudah tersinggung dan sulit untuk mengungkapkan perasaannya melalui kata-kata. Reaksi emosional yang berlebihan seolah menjadi cara tubuh anak dalam memberikan sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak seimbang dalam aktivitas sehari-harinya.

2. Anak menunjukkan penurunan semangat dan motivasi

ilustrasi anak sedih (unsplash.com/Chinh Le Duc)

Penurunan semangat kerap menjadi tanda yang menunjukkan bahwa anak sudah mengalami kelelahan atas rutinitas yang dimilikinya. Kondisi ini akan membuat anak terlihat tidak berenergi, kehilangan minat pada kegiatan yang biasanya disukai, atau cenderung menunda-nunda tugasnya.

Turunnya motivasi pada anak seolah bisa menjadi refleksi dari kejenuhan dan tekanan yang diakibatkan karena banyaknya tuntutan. Anak bisa merasa terbebani oleh target yang terlalu tinggi atau jadwal terlalu padat, sehingga tidak sempat untuk mengisi ulang energi mentalnya.

3. Anak menjadi lebih sering mengeluh atau menolak aktivitas

ilustrasi anak sedih (pexels.com/Monstera Production)

Pada saat anak sering mengeluh atau menolak melakukan aktivitas tertentu, maka bisa menjadi tanda bahwa rutinitas tersebut tidak lagi terasa nyaman untuknya. Hal ini juga bisa muncul karena anak merasa terlalu lelah atau tertekan oleh kewajiban yang harus dijalani setiap hari, sehingga menunjukkan bahwa tubuh dan emosinya memerlukan waktu untuk bernapas atau beristirahat.

Kebiasaan mengeluh bisa membentuk komunikasi tidak langsung karena anak belum tentu mampu menjelaskan penyebab kelelahan yang dirasakannya. Pola penolakan ini merupakan permintaan halus agar rutinitasnya dapat disesuaikan dengan kapasitas anak agar tidak sampai berlebihan.

4. Anak kesulitan fokus dan mudah terdistraksi

ilustrasi menemani anak belajar (pexels.com/August de Richelieu)

Kesulitan fokus ternyata kerap menjadi tanda bahwa anak sudah sangat jenuh atau kelelahan secara mental akibat rutinitas yang monoton. Pikiran anak tidak lagi mampu untuk mengikuti aktivitas dengan baik, sebab daya konsentrasinya menurun dan tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas sederhana dengan baik.

Menurunnya fokus dapat disebabkan karena kurangnya waktu istirahat yang cukup untuk bisa memulihkan kapasitas mental anak. Kondisi ini dapat mengganggu prestasi anak ke sekolah atau aktivitas lain yang jelas memerlukan konsentrasi lebih tinggi.

Anak mengalami kewalahan kerap kali muncul tanda-tanda halus, namun dapat berdampak besar jika terus diabaikan. Justru dengan mengenali sinyal tersebut lebih awal, maka orangtua bisa menyesuaikan rutinitas anak agar seimbang dan sesuai dengan kebutuhan mentalnya. Berikan waktu jeda agar anak bisa menjalani hari-harinya dengan lebih ringan dan bahagia!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team