Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Alasan Anak Perlu Diajari Berbagai Pekerjaan Rumah Tangga

membuat mi
ilustrasi membuat mi (pexels.com/Tanya Gorelova)
Intinya sih...
  • Anak harus belajar pekerjaan rumah tangga sejak dini agar tidak kesulitan saat dewasa
  • Rasa penasaran dan semangat belajar anak dapat dimanfaatkan untuk mengajari mereka tugas-tugas rumah tangga
  • Melatih anak melakukan pekerjaan rumah tangga juga membantu orangtua tidak terlalu lelah setiap harinya
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Anak kerap dijauhkan dari pekerjaan rumah tangga karena alasannya ia masih terlalu kecil. Kasihan kalau dia disuruh melakukan ini itu seperti orang dewasa atau remaja. Orangtua juga sering kali skeptis anak bakal mampu melakukannya. Kekhawatiran kalau-kalau anak celaka lebih besar daripada pertimbangan akan manfaat mengajari anak pekerjaan rumah tangga sejak dini. Padahal, ini penting sekali.

Latihan mengerjakan tugas domestik tak kalah utama dari sekolah serta berbagai les. Berikut tujuh alasan anak perlu diajari berbagai pekerjaan rumah tangga. Jangan sampai kamu dan pasangan telat mengajari anak keterampilan hidup yang satu ini, ya!

1. Cepat atau lambat ia harus melakukannya sendiri

merawat taman
ilustrasi merawat taman (pexels.com/Kampus Production)

Sekarang anak memang masih kecil. Juga ada kamu serta pasangan yang siap melakukan segalanya untuknya. Akan tetapi, setiap saat dia terus bertambah besar. Nanti tanpa terasa tahu-tahu anak sudah remaja bahkan dewasa.

Lebih sulit mengajari anak tentang tugas-tugas rumah tangga selepas ia remaja apalagi dewasa. Rasa malasnya kadung besar. Dia juga sudah pandai mendebat. Beda dengan anak-anak yang lebih gampang diarahkan. Tentu kalian tidak mau anak sampai gede gak bisa apa-apa.

2. Manfaatkan rasa penasaran dan semangatnya belajar hal baru

belajar pertukangan
ilustrasi belajar pertukangan (pexels.com/Boris Hamer)

Rasa penasaran anak sangat tinggi. Ini modal untuknya mau mempelajari banyak hal baru. Semangatnya juga gede sehingga kalau ia gagal pasti mau mencoba lagi. Beda dengan remaja atau orang dewasa yang kerap kesal sendiri lalu tak mau kembali melakukan.

Kalau anak sudah mulai menunggui orangtua melakukan pekerjaan rumah, artinya ia tertarik. Tinggal kalian mengajaknya bergabung. Kasih tugas yang gampang-gampang dulu sampai dia bisa dan terbiasa. Lalu tambah tingkat kesulitannya.

3. Tahu rasanya melakukan menjadi tidak sembrono

menyikat dinding toilet
ilustrasi menyikat dinding toilet (pexels.com/Gustavo Fring)

Contohnya, anak sering paling sulit diajari menyiram kloset dengan benar. Setelah ia kencing atau buang air besar, masih ada bekas fisik maupun baunya. Ajaran untuk menyiram kloset lebih mudah dipahami anak jika ia dilatih membersihkannya sekalian.

Yaitu, dengan anak diajari menyikat kloset, lantai, serta dinding toilet. Dengan dia merasakan capeknya membuat kamar mandi wangi pasti lebih berhati-hati dalam menjaga kebersihan. Bahkan anggota keluarga yang lain juga selalu mengingatkannya biar gak jorok.

4. Orangtua pun tak terlalu capek setiap harinya

mencuci piring
ilustrasi mencuci piring (pexels.com/Kampus Production)

Apakah kamu dan pasangan merasa lelah sekali setiap hari? Barangkali masalahnya bukan sekadar karena pekerjaan atau tidak menggunakan jasa ART. Namun, kalian juga tak kunjung melatih anak cara melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga.

Sampai anak cukup besar, kalian tetap tidak melatihnya untuk melakukan tugas paling sederhana sekalipun. Seperti mencuci peralatan makan dan minum sendiri, membersihkan kamar, dan sebagainya. Setiapnya harus dilakukan orangtua. Pantas saja kalian kecapekan.

5. Anak tumbuh lebih percaya diri serta memiliki inisiatif

belajar menjahit
ilustrasi belajar menjahit (pexels.com/Krzysztof Biernat)

Menumbuhkan kepercayaan diri anak tidak bisa hanya dengan menyuruhnya agar gak malu-malu. Atau, mendorongnya bergaul lebih luas. Salah satu modal kepercayaan diri yang terbesar ialah perasaan mampu.

Selain jalur prestasi di sekolah, bisa melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga juga penting. Begitu pula dengan inisiatif anak. Anak yang tidak pernah diajari melakukan tugas domestik gak tahu harus berbuat apa sekalipun rumah berantakan. Dalam hal-hal lain pun inisiatifnya menjadi tidak muncul.

6. Daripada screen time terlalu lama atau main terus

anak menggunakan gadget
ilustrasi anak menggunakan gadget (pexels.com/Karola G)

Tugas orangtua lebih menantang dengan adanya teknologi. Anak kalau diberi smartphone bisa betah berjam-jam. Dia mesti dibuat lebih sibuk supaya pikiran gak sedikit-sedikit menginginkan gadget. Namun, anak disuruh belajar terus juga pasti bosan.

Les pun begitu, mungkin anak sudah capek. Asal jam tidurnya telah terpenuhi, bangun-bangun ia bisa diajak melakukan berbagai pekerjaan rumah. Tanpa terasa anak akan terbiasa tidak menyentuh gawai selain buat keperluan belajar.

7. Terpenting didampingi dan diawasi

latihan memasak
ilustrasi latihan memasak (pexels.com/Mikhail Nilov)

Kecemasan orangtua bila hendak mengajari anak pekerjaan rumah ialah kecelakaan. Seperti pisau terkena tangan. Namun, jika orangtua terus mengikuti kekhawatirannya kapan anak akan belajar? Orangtua jangan malah tanpa sadar membuat anak ikut takut buat mencoba.

Kamu dan pasangan mesti bikin anak percaya setiap tugas rumah tangga bisa dikerjakan dengan aman. Beri tahu cara yang tepat dan awasi. Beberapa kali anak praktik di bawah pendampingan serta pengawasan orangtua pasti ia mulai mahir.

Gak usah terus menunggu anak lebih besar untuk kalian mulai melatihnya mengerjakan tugas rumah tangga. Anak perlu diajari berbagai pekerjaan rumah tangga mulai dari yang paling gampang dan tidak pakai alat berbahaya. Seperti bersih-bersih kamar atau menjemur dan melipat pakaian. Seiring kekuatan serta kehati-hatiannya bertambah baru naik ke level tugas yang lebih menantang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Life

See More

4 Tanda Anak Mengalami Kewalahan karena Rutinitasnya

29 Nov 2025, 15:58 WIBLife