ilustrasi berprestasi (unsplash.com/Chris Benson)
Tidak ada yang salah dengan merayakan pencapaian anak, tapi ketika pujian hanya datang dalam kondisi itu, anak mulai membaca polanya sendiri. Ia menyadari bahwa kehangatan dan perhatian orang tua selalu hadir beriringan dengan hasil yang bisa ditunjukkan. Lama-lama ia tidak lagi melihat cinta orang tuanya sebagai sesuatu yang tanpa syarat, karena pengalamannya selama ini berkata sebaliknya.
Pola ini membuat anak menginternalisasi kepercayaan yang berbahaya, bahwa nilai dirinya bergantung pada apa yang berhasil ia capai. Ia merasa dicintai, tapi dengan syarat yang tidak pernah diucapkan secara langsung. Efeknya bukan hanya soal harga diri. Anak mulai memandang rumah sebagai tempat untuk membuktikan diri, bukan tempat untuk merasa aman menjadi dirinya sendiri, termasuk saat ia gagal atau sedang tidak baik-baik saja.
Anak merasa diabaikan tidak selalu lahir dari ketidakpedulian. Sering kali ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang terus berulang tanpa pernah disadari. Otak anak merekam pola, bukan niat. Maka yang ia ingat bukan seberapa keras kamu bekerja untuknya, tapi seberapa sering ia merasa benar-benar dilihat.