“Terkadang, menjadi default parent adalah pilihan yang disengaja dan disepakati oleh kedua pasangan. Namun, dalam banyak kasus, peran ini terbentuk secara tidak sadar,” jelas Bridget Jones, PsyD, psikolog klinis berlisensi, dikutip dari Parents.
Apa Itu Default Parent? Peran Orangtua yang Diam-Diam Menguras Energi

Istilah default parent cukup ramai dibicarakan di media sosial, terutama oleh para orangtua yang merasa kewalahan menjalani pengasuhan. Banyak yang baru menyadari peran ini setelah rutinitas harian terasa semakin melelahkan. Jika kamu sering merasa harus mengurus semuanya sendiri, bisa jadi kamu sedang berada di posisi ini.
Peran default parent sering terbentuk secara perlahan dan dianggap wajar. Mulai dari urusan anak hingga kebutuhan rumah tangga, semuanya otomatis mengarah pada satu pihak. Yuk, kenali lebih jauh apa itu default parent dan dampaknya bagi keluarga.
1. Apa itu default parent?

Default parent adalah orangtua yang secara otomatis menjadi pengasuh utama dalam keluarga. Peran ini mencakup pengambilan keputusan soal anak, urusan rumah tangga, hingga kebutuhan pengasuhan sehari-hari. Tak hanya itu, default parent juga sering memikul beban emosional seluruh anggota keluarga.
Menariknya, peran ini kerap terbentuk tanpa disadari dan berjalan begitu saja dalam rutinitas harian. Seiring waktu, beban yang terus menumpuk bisa memicu rasa bersalah, lelah, bahkan frustrasi. Tak jarang, default parent merasa harus selalu sempurna karena semua tanggung jawab mengarah padanya.
2. Ibu paling sering berada di posisi default parent

Dalam banyak keluarga, ibu paling sering berada di posisi default parent, termasuk mereka yang tetap bekerja di luar rumah. Peran ini kerap terbentuk karena ibu dianggap lebih sigap dan terbiasa mengurus kebutuhan anak sehari-hari. Akibatnya, tanggung jawab pengasuhan pun secara alami lebih banyak mengarah pada ibu.
Studi The Ohio State University yang dikutip ScienceDaily menunjukkan bahwa meski sama-sama bekerja, ibu masih menanggung porsi pengasuhan yang lebih besar dibanding ayah. Alih-alih berbagi peran secara setara, tanggung jawab ini kerap menumpuk pada ibu dan berdampak pada kualitas hubungan pernikahan.
“Meskipun ibu dan ayah memiliki keterbatasan pekerjaan yang serupa, para ibu tetap menginvestasikan waktu yang jauh lebih besar untuk pengasuhan,” kata Letitia Kotila, penulis utama penelitian di The Ohio State University, dikutip dari laman yang sama.
3. Apa saja tanggung jawab default parent?

Default parent biasanya memikul hampir seluruh urusan pengasuhan, mulai dari kebutuhan harian, kesehatan, hingga sekolah anak. Menurut Olivia Bergeron, LCSW, PMH-C, seorang psikoterapis, dikutip dari Parents, peran ini bukan hanya soal mengatur logistik, tetapi juga kesiapan mental yang terus berjalan. Inilah sebab mereka sering diandalkan saat ada masalah.
Selain itu, beban emosional default parent kerap tak terlihat. Anak cenderung menahan emosi di luar rumah dan meluapkannya pada orangtua yang paling mereka percaya. Karena merasa aman, default parent pun menjadi tempat utama anak menumpahkan lelah dan perasaan.
Menurut Bridget Jones, jika kamu berada di posisi ini, besar kemungkinan tanggung jawabmu mencakup banyak hal berikut:
- Menentukan atau menyediakan pengasuhan anak, termasuk menjadi orangtua di rumah
- Menjadi kontak darurat untuk sekolah atau kegiatan anak
- Mengelola sebagian besar pekerjaan rumah tangga atau mendelegasikannya
- Menjaga kesejahteraan emosional anak dan menjadi tempat pertama mereka bercerita
- Mendampingi anak mengerjakan tugas sekolah
- Menjadwalkan dan mengurus janji dokter
- Mengantar anak ke berbagai aktivitas
- Bangun di malam hari saat anak membutuhkan
- Menemani anak di rumah ketika sakit
4. Dampak default parent terhadap kesehatan fisik dan mental

Menjadi default parent sering membuat seseorang merasa menanggung masa depan anak sendirian. Bridget Jones menjelaskan, beban mental ini makin berat saat anak mengalami masalah emosional, mental, atau fisik karena hampir semuanya diurus satu orang. Dampaknya terasa pada kesehatan pada fisik dan mental berikut ini:
- Perawatan diri terabaikan
Default parent tak hanya memikul beban mental, tetapi juga emosi keluarga. Jones menyebut, banyak dari mereka kehabisan waktu dan energi untuk self care sehingga pemulihan fisik dan emosional kerap tertunda. - Risiko stres dan burnout meningkat
Minim waktu untuk diri sendiri membuat default parent rentan stres berkepanjangan dan burnout. Olivia Bergeron menegaskan, menanggung beban emosional sendirian terasa melelahkan dan bisa memicu konflik keluarga. - Kesehatan fisik ikut terdampak
Kurang tidur, pola makan tak teratur, dan minim aktivitas fisik jadi masalah umum. Menurut Jones, ini terjadi karena kebutuhan anak selalu diprioritaskan. Dikutip dari Parents, Aubrey Carpenter, PhD, seorang psikolog, mengingatkan bahwa pengasuhan yang tidak seimbang dapat memicu kecemasan, depresi, hingga masalah hubungan.
Menyadari peran sebagai default parent adalah langkah awal untuk membangun pembagian pengasuhan yang lebih adil. Sebab, orangtua juga butuh didukung agar keluarga bisa tumbuh bersama secara sehat.


















