Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi mertua dan menantu
ilustrasi mertua dan menantu (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Intinya sih...

  • Jangan menganggap rumah mertua seperti rumah orangtuamu sendiri

  • Ikuti ritme dan kebiasaan keluarga mertua

  • Jangan pasif soal urusan rumah tangga

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Tinggal serumah dengan mertua sering kali jadi fase hidup yang penuh cerita. Ada yang menjalaninya karena alasan ekonomi, orangtua yang sedang sakit, tidak bisa jauh dari anak, dan sebagainya. Apa pun alasannya, yang pasti kamu tidak akan bisa sebebas jika tinggal mandiri hanya dengan pasangan. Ada banyak aturan tak tertulis yang, kalau dilanggar, bisa membuat suasana rumah cepat panas tanpa kita sadari.

Sayangnya, aturan-aturan ini jarang dibicarakan dengan jelas di awal. Tidak ada papan pengumuman yang menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Namun, seiring waktu kita akan merasakan sendiri batas-batasnya. Nah, supaya kamu tidak terlalu sering salah langkah, yuk pahami beberapa aturan tak tertulis saat tinggal dengan mertua.

1. Jangan menganggap rumah mertua seperti rumah orangtuamu sendiri

ilustrasi bermalas-malasan (pexels.com/Monstera)

Kendati kamu sekarang tinggal di sana, tapi rumah mertua tetap bukan rumahmu sejak awal. Cara paling aman adalah bersikap seperti tamu yang tinggal lama. Jaga sikap, kerjakan tugas rumah tangga, perhatikan kebiasaan rumah, dan jangan mengubah tata letak. Hal-hal kecil seperti memindahkan perabot, mengatur ulang dapur, atau declutter bisa jadi sensitif, meski niatmu baik.

2. Ikuti ritme dan kebiasaan keluarga mertua

ilustrasi mertua dan menantu (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Setiap rumah memiliki ritmenya masing-masing. Ada yang terbiasa bangun pagi dan langsung beres-beres, ada yang jam makannya teratur, ada juga yang punya kebiasaan tertentu yang mungkin terasa aneh untukmu. Selama tinggal dengan mertua, menyesuaikan diri jauh lebih aman daripada memaksakan kebiasaan pribadi. Kamu tetap boleh jadi diri sendiri, tapi tahu kapan harus menyesuaikan dan kapan bisa lebih fleksibel.

3. Jangan pasif soal urusan rumah tangga 

ilustrasi orang sedang membereskan rumah (pexels.com/RDNE Stock project)

Salah satu hal yang paling sering jadi bahan gesekan antara mertua dan menantu adalah karena menantu terkesan selalu menunggu disuruh hanya untuk sekadar bantu-bantu. Padahal, inisiatif kecil bisa sangat berarti. Membantu memasak, cuci piring, menyapu rumah, atau sekadar menawarkan bantuan bisa menciptakan kesan positif. Tidak perlu terlalu memasakan diri, yang penting terlihat peduli dan mau terlibat, bukan sekadar numpang tinggal.

4. Jangan terlalu sensitif, tapi juga jangan memendam

ilustrasi mertua dan menantu (freepik.com/freepik)

Komentar mertua kadang bisa membuat hatimu perih, meski belum tentu maksudnya begitu. Belajar memilah mana yang perlu dimasukkan ke hati dan mana yang bisa diabaikan itu penting. Namun, di sisi lain, memendam terus juga tidak sehat. Kalau sudah terlalu mengganggu, cari waktu dan cara yang tepat untuk membicarakannya dengan pasangan.

5. Tunjukkan rasa terima kasih

ilustrasi berdiskusi dengan mertua (pexels.com/RDNE Stock project)

Mertua yang bersedia berbagi rumah sebenarnya sedang berbagi ruang hidup. Banyak hal yang mereka tahan-tahan demi membuat sang menantu betah tinggal di sana. Karenanya, jangan lupa tunjukkan rasa syukur. Ucapan terima kasih, sikap sopan, dan perhatian kecil kerap kali lebih bermakna daripada hadiah mahal. Hal-hal sederhana ini bisa membuat suasana rumah terasa lebih hangat dan hubungan lebih longgar.

Tinggal satu atap dengan mertua memang bukan hal mudah, tapi bukan juga sesuatu yang mustahil dijalani dengan damai. Kuncinya ada pada sikap, komunikasi, dan kemampuan membaca situasi. Aturan tak tertulis ini mungkin terdengar sepele, tapi justru sering jadi penentu apakah rumah akan terasa nyaman atau penuh ketegangan. Selama kamu mau belajar menyesuaikan diri tanpa kehilangan jati diri, hidup bersama mertua bisa jadi fase yang menguatkan, bukan melelahkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian