Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi anak
Ilustrasi anak (freepik.com/jcomp)

Intinya sih...

  • Ajarkan bahwa kebaikan lebih berharga daripada kepemilikan

  • Beri apresiasi pada usaha dan proses, bukan hasil akhir yang terlihat

  • Tunjukkan bahwa hubungan dan pengalaman lebih berharga dari barang

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di dunia yang serba terukur dengan angka, anak-anak tumbuh dengan gambaran bahwa kesuksesan berarti punya banyak uang. Rumah besar, mobil mewah, dan barang-barang mahal jadi simbol yang terus dipertontonkan, baik di televisi, media sosial, maupun obrolan sehari-hari. Tanpa sadar, banyak anak mulai percaya bahwa mereka baru berharga kalau punya sesuatu yang bisa dipamerkan.

Padahal, nilai diri seseorang jauh lebih dalam dari sekadar isi dompet atau deretan harta. Sebagai orangtua, mengajarkan hal ini bukan perkara mudah, tapi sangat penting untuk membentuk anak yang percaya diri tanpa harus bergantung pada materi. Berikut beberapa cara ajarkan anak nilai diri yang gak ditentukan oleh harta. Tanamkan pemahaman ini sejak dini, ya!

1. Ajarkan bahwa kebaikan lebih berharga daripada kepemilikan

Ilustrasi anak (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Anak-anak perlu memahami bahwa apa yang mereka lakukan untuk orang lain jauh lebih bermakna daripada apa yang mereka punya. Saat mereka membantu teman yang kesulitan, berbagi makanan, atau sekadar mendengarkan cerita orang lain, mereka sedang membangun sesuatu yang gak bisa dibeli dengan uang. Kebaikan menciptakan koneksi, dan koneksi itulah yang membuat seseorang merasa berarti.

Sayangnya, banyak anak justru diajarkan untuk menghitung siapa yang punya lebih banyak, bukan siapa yang berbuat lebih baik. Padahal, orang yang dikenang bukan karena hartanya, tapi karena bagaimana dia memperlakukan orang lain. Mengajak anak untuk rutin melakukan hal-hal kecil yang baik bisa jadi langkah awal membentuk cara pandang yang lebih sehat tentang nilai diri.

2. Beri apresiasi pada usaha dan proses, bukan hasil akhir yang terlihat

Ilustrasi anak (freepik.com/freepik)

Ketika anak mendapat nilai bagus atau memenangkan lomba, tentu wajar untuk merayakannya. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita menghargai proses di balik pencapaian itu. Apakah dia sudah berusaha keras? Apakah dia belajar sesuatu dari perjalanannya? Pertanyaan-pertanyaan ini mengajarkan bahwa nilai diri bukan soal menang atau kalah, tapi soal seberapa sungguh-sungguh seseorang menjalani prosesnya.

Kalau anak hanya diapresiasi saat berhasil, mereka akan tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka hanya berharga saat mencapai sesuatu. Ini berbahaya, karena hidup gak selalu soal kemenangan. Ada kalanya gagal, ada kalanya tertinggal, dan itu semua bukan alasan untuk merasa gak cukup. Dengan menghargai usaha, anak belajar bahwa perjalanan mereka punya makna, apa pun hasilnya.

3. Tunjukkan bahwa hubungan dan pengalaman lebih berharga dari barang

Ilustrasi anak (freepik.com/jcomp)

Anak yang terbiasa mendapat hadiah berupa barang mungkin akan mengasosiasikan kebahagiaan dengan kepemilikan. Tapi coba sesekali ganti hadiah itu dengan pengalaman, misalnya jalan-jalan ke taman, memasak bersama, atau sekadar duduk ngobrol sambil makan es krim. Momen-momen sederhana seperti ini sering kali lebih membekas daripada mainan yang akhirnya terlupakan di sudut kamar.

Dengan membiasakan anak menghargai pengalaman, mereka akan tumbuh dengan pemahaman bahwa kebahagiaan gak selalu datang dari sesuatu yang bisa dibeli. Mereka juga belajar bahwa kehadiran dan waktu bersama orang-orang tercinta punya nilai yang jauh lebih tinggi. Ini adalah fondasi penting agar kelak mereka gak mudah terjebak dalam pola pikir bahwa harta adalah segalanya.

4. Jadilah contoh dalam cara memandang kesuksesan dan kegagalan

Ilustrasi anak (freepik.com/freepik)

Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Kalau orangtua terus-menerus membicarakan harta orang lain dengan nada iri atau kagum berlebihan, anak akan menangkap pesan bahwa materi adalah ukuran utama. Sebaliknya, kalau orangtua menunjukkan rasa syukur atas hal-hal kecil dan gak mudah membandingkan diri dengan orang lain, anak akan menyerap pola pikir yang sama.

Begitu juga saat menghadapi kegagalan. Kalau orangtua bisa menerima kekurangan dengan lapang dada dan tetap merasa berharga meski gak punya segalanya, anak akan belajar bahwa nilai diri gak ditentukan oleh kondisi eksternal. Menjadi teladan dalam hal ini mungkin gak mudah, tapi dampaknya sangat besar bagi cara anak memandang diri mereka sendiri di masa depan.

5. Bantu anak menemukan hal yang mereka sukai dan kuasai

Ilustrasi anak membaca buku (freepik.com/MART PRODUCTION)

Setiap anak punya keunikan, entah itu dalam seni, olahraga, berpikir kritis, atau sekadar kemampuan membuat orang lain tertawa. Tugas orangtua adalah membantu mereka menemukan dan mengembangkan hal itu. Ketika anak merasa kompeten dalam sesuatu, rasa percaya diri mereka tumbuh dari dalam, bukan dari pengakuan atau barang-barang yang mereka miliki.

Anak yang tahu kelebihannya gak akan mudah goyah saat melihat orang lain punya lebih banyak harta. Mereka paham bahwa nilai diri bukan soal apa yang ada di luar, tapi apa yang mereka bawa dalam diri. Dengan mendukung minat dan bakat anak tanpa memaksakan standar tertentu, kita sedang membangun manusia yang utuh, bukan sekadar pengejar materi.

Pada akhirnya, menerapkan cara ajarkan anak nilai diri yang gak ditentukan oleh harta adalah investasi jangka panjang yang gak terlihat hasilnya dalam semalam. Tapi setiap percakapan kecil, setiap contoh yang ditunjukkan, dan setiap apresiasi yang diberikan akan membentuk cara mereka memandang dunia. Harta mungkin bisa datang dan pergi, tapi rasa percaya diri yang sehat akan menemani mereka seumur hidup. Jadi, sudahkah kita sebagai orangtua merefleksikan cara pandang kita sendiri terlebih dahulu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team