5 Usaha Anak Menarik Perhatian saat Bermain, Orangtua Kudu Peka

- Permintaan anak untuk diperhatikan
- Anak bermain di depan orangtua
- Menggunakan tubuh orangtua sebagai bagian dari permainan
Semua anak suka diperhatikan oleh orangtuanya. Bahkan anak bisa cemburu kalau orangtua lebih memperhatikan anak lain. Seperti anak tetangga atau sepupunya. Buat anak, perhatianmu yang tertuju hanya padanya ialah ekspresi kasih sayang terbesar yang mudah dipahami.
Oleh sebab itu, jangan heran apabila dari waktu ke waktu muncul usaha anak menarik perhatian saat bermain, mumpung dirimu sedang di rumah. Meski kamu sudah menyediakan berbagai mainan untuk pengalih perhatian seperti belum cukup baginya. Anak melakukan berbagai cara supaya ia tidak sepenuhnya bermain sendiri. Dia menginginkan keterlibatan serta kepedulianmu baik pada dirinya maupun apa yang dilakukannya. Kalau anak sudah caper begini mending dirimu menemaninya bermain.
1. Minta orangtua melihat sesuatu

Kamu mungkin sudah akrab dengan kalimat, "Ayah/Ibu, lihat ini." Saking seringnya anak mengucapkannya, dirimu malah cenderung mengabaikannya. Kamu kerap mengaku sudah melihat sesuatu yang hendak ditunjukkannya padahal aslinya belum.
Dirimu hanya tidak ingin teralihkan dari hal lain yang menurutmu lebih penting. Apalagi permainan anak menurutmu selalu remeh. Seperti dia cuma ingin memperlihatkan bonekanya yang bisa duduk sendiri tanpa dipegangi, miniatur prajuritnya yang jatuh dari ketinggian, dan sebagainya.
Sebaiknya orangtua tidak terus mengabaikan permintaan anak. Dirimu mau menengok sebentar saja, anak sudah senang. Terlebih bila kamu bersedia mencermatinya dan kasih komentar yang memuaskan. Ini sederhana, tapi bikin anak merasa ucapannya dihargai dan dipercaya.
2. Bermain persis di depanmu dan menghadapmu

Ada perbedaan bahasa tubuh bila anak sedang ingin bermain sendiri bahkan tak mau diganggu. Ia pasti membawa mainannya ke sudut yang jauh dari orangtua. Dia asyik di situ sampai dipanggil pun tak langsung menyadarinya.
Sebaliknya, jika anak mencari perhatian orangtua langsung saja ia membawa mainannya persis ke depanmu. Duduknya juga cuma berjarak beberapa sentimeter darimu. Semua mainannya ditaruh di antara kalian.
Ini sudah isyarat jelas bahwa anak mengajakmu ikut bermain. Kamu sebaiknya berhenti sebentar dari apa pun yang sedang dikerjakan. Meski nanti dirimu mesti melanjutkan pekerjaan, kasih respons positif dulu pada anak. Seperti kamu bertanya ia ingin bermain apa? Baru pelan-pelan dirimu minta izin untuk menyambi bekerja sedikit demi sedikit.
3. Menjadikan tubuhmu bagian dari permainannya

Mungkin ini terasa sebagai gangguan untukmu. Anak tiba-tiba bergelayut atau menjalankan mobil-mobilannya dari kaki sampai pundakmu. Anak juga dapat bermain boneka seakan-akan boneka itu memanjat pohon besar.
Kamulah yang dijadikannya pohon itu. Selama tindakan anak tidak berlebihan seperti tiba-tiba memukulkan mainannya ke tubuhnya, sabar ya. Jika dirimu geli atau agak risi, minta anak berhenti melakukannya.
Lalu ajak anak mencari pengganti tubuhmu sebagai bagian dari permainannya. Kamu dapat mengarahkannya untuk menjalankan mobil-mobilan di lantai. Biasanya setelah orangtua kasih perhatian sedikit, anak bermain dengan lebih tertib. Walaupun nanti dia bisa kembali mengganggumu jika merasa dirimu terlalu lama cuek lagi.
4. Sengaja menjatuhkan diri atau mainan

Ada perbedaan ketika anak benar-benar terjatuh atau sengaja melakukannya biar diperhatikan olehmu. Kalau anak sengaja menjatuhkan diri buat caper pasti berkali-kali. Padahal, bila anak asli jatuh sekali saja pasti sudah kapok karena rasa sakit dan kagetnya.
Sementara anak yang hanya pura-pura jatuh telah mengukur pendaratannya agar tak terlalu sakit. Pun sebelumnya anak melihat padamu. Setelah ia menjatuhkan diri juga langsung melihat lagi ke arahmu.
Tidak tampak tanda-tanda anak syok. Sebab memang ia sudah merencanakannya. Dia bahkan dapat berkali-kali minta tolong. Ia senang melihatmu agak repot bolak-balik membantunya. Jika bukan diri sendiri, mainan pun dapat dijatuhkan berulang. Walau kamu sudah mengajarinya cara bermain yang lebih aman.
5. Menangis dan marah tanpa sebab yang jelas

Perasaan gak diperhatikan orangtua bisa membuat anak sangat sedih, cemas, sekaligus frutrasi. Ia merasa tidak disayangi. Anak tak tahu harus melakukan apa untuk mendapatkan perhatianmu. Juga khawatir sikap cuekmu akan bertahan selamanya.
Atau, anak berpikir dirinya sedang dihukum sehingga tidak dipedulikan. Padahal, kamu sama sekali tak berpikir ke situ. Dirimu cuma mengira anak cukup ditemani mainan-mainannya. Tangis anak dapat pecah begitu saja di tengah aktivitasnya bermain.
Sekilas mirip dengan anak yang rewel ketika mengantuk. Bedanya, jam tidurnya masih lama. Coba dirimu mengajak anak kembali bermain atau membawanya ke pangkuan sampai tenang. Anak hanya perlu diyakinkan bahwa ketika orangtua tidak ikut bermain bukan artinya gak peduli.
Menuruti setiap keinginan anak buat diperhatikan barangkali tidak ada habisnya. Juga gak bagus untuknya karena bisa membuatnya terlalu manja. Akan tetapi, ketika muncul usaha anak menarik perhatian saat bermain, jangan pula kamu terlalu cuek. Kamu hanya perlu kasih perhatian sebentar agar ia merasa aman dan tenang untuk lanjut bermain sendiri.


















