Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi membaca buku untuk anak
ilustrasi membaca buku untuk anak (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Intinya sih...

  • Manfaat membaca bagi perkembangan anak
    Anak yang gemar membaca memiliki keunggulan emosional, kognitif, dan intelektual dibandingkan dengan mereka yang tidak suka membaca. Mereka juga memiliki kemampuan berpikir kritis dan rasa ingin tahu yang tinggi.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Jika kamu bertanya, apa manfaat membaca buku? Kamu mungkin perlu tahu, bahwa pikiran manusia tidak berhenti tumbuh. Berbeda dengan tubuh yang akan berhenti berkembang di usia tertentu, otak manusia tidak demikian. Pikiran terus tumbuh, maju, dan berkembang, tak ada batasan usia, hingga otak itu kehilangan kemampuannya.

Membaca dengan baik artinya membaca secara aktif. Fungsinya adalah menjaga pikiran tetap hidup dan berkembang. Jika kita tidak membaca buku, artinya kita membiarkan otak tidak mengalami perkembangan. Kita pun berhenti tumbuh secara intelektual, moral, dan spiritual. Hal inilah yang dijelaskan dalam buku How to Read A Book karya Mortimer J. Adler dan Charles Van Doren.

Membaca buku menjadi kemampuan yang dibangun sejak kecil. Untuk itu, penting bagi seorang anak memiliki kebiasaan membaca buku yang diajarkan oleh orangtuanya sedini mungkin. Founder Klub Literasi Buku, Nindia Nurmayasari yang akrab disapa Maya, menjelaskan cara menumbuhkan kebiasaan membaca bagi anak dalam wawancara daring Jumat (26/9/25).

1. Mengapa anak perlu membaca?

Ilustrasi membacakan buku cerita pada anak (freepik.com/wavebreakmedia_micro)

Kebiasaan membaca buku pada anak perlu dibangun sejak dini. Manfaatnya pun tidak sebatas pada peningkatan kemampuan teknis seperti dapat memahami kata atau teks, tetapi juga berdampak pada perkembangan emosional si kecil. Maya menjelaskan, anak yang terbiasa membaca atau dibacakan buku oleh orangtuanya cenderung menunjukkan kemampuan mengelola emosi yang positif.

"Ada juga anak yang dengan membaca buku, dia lebih percaya diri, karena dia seolah-olah dia merasa tahu banyak hal. Jadi ketika dia mengobrol, dia lebih pede, kosak katanya jadi lebih banyak, komunikasinya jadi lebih bagus, karena diajak sering diskusi tentang buku," ujar Maya.

Manfaat lain, anak jadi memiliki proses berpikir yang lebih runtut dan terarah. Mereka memahami apa yang ingin disampaikan, serta mampu menyusun gagasan dengan lebih kritis. Dengan bekal pengetahuan yang dimiliki, si kecil juga memiliki dorongan untuk mengeksplorasi dunia secara lebih luas, sebab ia punya rasa ingin tahu.

"Yang paling penting dari kegiatan membaca adalah mengasah proses berpikir anak. Itu yang mungkin sekarang jarang. Maksudnya, anak-anak itu diajak mikir, anak-anak sekarang kan kebiasaan instan, apa-apa informasi mudah didapat, jarang diajak mengobrol, jarang diajak menyampaikan pendata, jarang menyamapaikan argumentasi, diajak mikir mendalam," terang Maya.

Maya juga menekankan, meningkatkan kemampuan literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca. Akan tetapi, membangun pemahaman secara komprehensif terhadap suatu informasi. Untuk itu, selepas membaca, anak perlu diajak untuk berdiskusi. Dialog dengan anak ini menjadi bagian yang krusial untuk menumbuhkan daya pikir kritis.

Maya menekankan pentingnya orangtua mengajak anak berdialog setelah selesai membaca, "Kita mengajak mereka baca, kemudian diskusi. Itu tuh mereka kemampuan berpikir jadi lebih tajam. Kemampuan berpikir inilah yang akhirnya membentuk banyak aspek dalam dirinya".

"Intinya dari kempuan berpikir itu, mereka jadi lebih bisa memunculkan potensi terbaiknya. Lebih bisa percaya diri dan bisa membentuk kualitas dirinya itu lebih baik. Apa itu kualitasnya? Setiap anak berbeda-beda," tambah Maya.

2. Perbedaan anak yang gemar baca dengan mereka yang enggan

Ilustrasi membaca buku (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Dampak dari kemampuan membaca seorang anak tidak hanya diukur secara kuantitatif, namun dapat dilihat dari kualitas pemahaman anak terhadap suatu informasi ataupun caranya memandang sekitar. Sebagai penggiat literasi anak, Maya mengamati ada perbedaan dalam cara anak berpikir, berbicara, hingga memahami dunianya.

Lebih jauh, Maya juga menyoroti keterbatasan wawasan dan imajinasi anak yang tidak memiliki kegemaran membaca. Mereka cenderung tumbuh dengan pengamatan peristiwa yang ia lihat atau alami secara langsung saja, tanpa referensi lain yang menumbuhkan imajinasi. Efeknya, kemampuan mengekspresikan pikiran pun lebih terbatas dengan pandangan akan suatu pengetahuan lebih sempit, akibatnya terdapat limitasi dalam merespons sesuatu.

Melalui pengamatannya, Maya menuturkan, "Wawasan akan sangat terbatas. Kacamata kalau anak-anak yang suka baca, dia sudah punya jangkauan yang lebar gitu. Tapi anak-anak yang gak suka baca tuh sempit, jadi dia kalau diajak mengobrol cuma membicarakan hal di sekitarnya aja. Terus anak-anak tuh kan menyerap apa yang ada di lingkungan, jadi hanya akan bicarakan apa yang mereka tau aja dari sekitar. Jadi dari segi kognitif itu pengaruhnya kelihatan, emosional juga, secara bahasa juga kelihatan banget".

Kemampuan inilah yang kemudian berpengaruh pada cara anak merepresentasikan dirinya. Keberanian bicara tak hanya soal tampil percaya diri, namun mengerti substansi dari isu yang disuarakan. Kemampuan ini juga yang menjadi akibat atas kebiasaannya membaca buku sejak dini.

"Bagaimana mereka mempresentasikan dirinya. Bagaimana mereka menyampaikan pendapatnya. Bagaimana mereka berani bersuara, keberanian itu juga dipupuk dari kesenangan membaca."

Menariknya, manfaat membaca tidak berhenti pada topik bacaan semata. Proses membaca juga menumbuhkan kemampuan berpikir, analisa, dan mengasah otak secara mendalam. Anak cenderung berupaya memahami masalah yang tengah dihadapinya terlebih dahulu sebelum merespons. Artinya, mereka berpikir kritis dan selektif dalam mengumpulkan informasi sebelum mengambil keputusan.

3. Kebiasaan membaca dibangun dari rumah, orangtua harus terlibat aktif

ilustrasi membacakan cerita untuk anak (pexels.com/MART PRODUCTION)

Membiasakan anak membaca tidak cukup hanya dengan menyediakan buku di rumah. Peran orangtua jauh lebih besar untuk menumbuhkan kebiasaan ini. Maya membagikan aktivitas yang akan membantu orangtua untuk membangun habit ini.

"Yang pertama, luangkan waktu. Yang kedua, dampingi anak ketika membaca, yang ketiga, diskusi. Diskusi ini penting. Diskusi ini menurutku juga sesuatu sangat penting, jadi kunci pemahaman anak. Diskusi setelah membaca itu juga sangat menjadi kunci bagaimana anak-anak itu terasah kemampuan berpikirnya," ujar Maya.

Pendampingan saat membaca menjadi langkah krusial, namun orangtua juga tak boleh mengabaikan aktivitas berdiskusi setelahnya. Melalui dialog yang dibangun, orangtua bisa menjelaskan konteks bacaan, memperluas makna, bahkan menggali pemahaman berpikir buah hati.

Lebih lanjut, Maya juga mengajak orangtua agar dapat menunjukkan keteladanan bagi anak, "Ke-empat, tapi juga yang paling penting, jadi orangtua yang membaca juga. Karena kadang-kadang kesulitan orangtua adalah bingung nanti diskusi tentang apa. Bingung cara mengasah anak, menggali pertanyaan ke anak. Harus nanya apa ya setelah baca?"

Membangun budaya membaca di rumah untuk anak dimulai dari mengikuti kebiasaan yang ada di sekitar. Anak akan meniru orangtua yang gemar membaca, lalu menumbuhkan daya pikir kritis untuk berdiskusi atau sekadar mengobrol.

Orangtua yang terbiasa membaca aktif juga akan memiliki wawasan dan imajinasi yang lebih luas, sehingga lebih mudah menggali pertanyaan, mengaitkan satu isu dengan lainnya, serta membantu anak mengeksplorasi dunia mereka. Rangkaian aktivitas inilah yang menjadi penting ditumbuhkan di rumah.

Editorial Team