Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi balita bermain (pexels.com/tatianasyrikova)
Ilustrasi balita bermain (pexels.com/tatianasyrikova)

Perkembangan bicara balita kerap menjadi perhatian utama orangtua. Tak sedikit yang mulai khawatir ketika si kecil terlihat lebih pendiam dibandingkan anak seusianya. Padahal, setiap anak memiliki ritme tumbuh kembang yang berbeda.

Kemampuan berbicara tidak muncul secara instan, melainkan berkembang seiring waktu. Lingkungan dan interaksi sehari-hari memegang peran penting dalam proses ini. Dengan pendampingan yang tepat, orangtua bisa membantu balita lebih percaya diri dalam berkomunikasi. Yuk, simak cara mendorong balita agar lebih banyak berbicara lewat artikel berikut!

1. Sering mengajak balita mengobrol sepanjang hari

ilustrasi balita dan adik bayi bermain bersama (pexels.com/pnwprod)

Mengajak balita berbicara tidak harus menunggu momen khusus. Orangtua bisa menceritakan apa pun yang sedang dilakukan, mulai dari saat memakaikan baju hingga menyiapkan makanan. Kebiasaan ini membantu anak mengenal banyak kosakata dalam konteks yang nyata.

Semakin sering balita mendengar kata-kata, semakin besar peluang mereka untuk menirunya. Percakapan sederhana yang dilakukan berulang kali akan memperkuat pemahaman bahasa anak. Dalam jangka panjang, hal ini juga membangun rasa percaya diri untuk berbicara.

2. Gunakan bahasa jelas, hindari terlalu banyak baby talk

ilustrasi ibu, bayi serta anak balita bermain (pexels.com/rdne)

Bahasa bayi memang terdengar lucu dan menggemaskan, tetapi penggunaannya perlu dibatasi seiring bertambahnya usia anak. Balita justru lebih terbantu ketika mendengar kalimat utuh dengan pengucapan yang jelas. Cara ini memudahkan mereka memahami struktur bahasa.

Dikutip dari The Bump, Ashley Marshall, CCC-SLP, spesialis klinis patologi wicara-bahasa, menyarankan orangtua untuk tetap berbicara dengan kalimat lengkap. Cara ini membantu balita belajar berbicara tanpa merasa tertekan.

“Carilah titik tengah dengan cara sedikit melebih-lebihkan artikulasi dan memperlambat tempo bicara, tetapi tetap gunakan kalimat lengkap dan lakukan percakapan yang utuh,” ujar Ashley Marshall.

3. Beri waktu tunggu agar anak bisa merespons

ilustrasi orangtua bermain bersama anak (pexels.com/keiraburton)

Dalam percakapan dengan balita, orangtua sering kali terlalu cepat merespons. Padahal, anak membutuhkan waktu untuk memahami kata-kata yang didengar sebelum mencoba menjawab. Memberi jeda sejenak justru membantu balita lebih percaya diri untuk berbicara.

Orangtua juga perlu menahan diri agar tidak terlalu cepat menebak keinginan anak. Jika semua kebutuhan langsung dipenuhi tanpa memberi ruang anak berekspresi, kesempatan belajar berbicara bisa terlewatkan. Dengan membiasakan menunggu respons, balita terdorong untuk menggunakan kata-kata sendiri saat berkomunikasi.

 “Berhenti sejenak dan tunggu setidaknya 5 hingga 10 detik agar mereka memiliki kesempatan untuk mengeluarkan suara atau mengucapkan kata,” kata May Sofi Brennan, MS CCC-SLP, seorang patologi wicara-bahasa sekaligus salah satu pendiri Big Little Learners, dikutip dari The Bump.

4. Biasakan membaca buku bersama

ilustrasi membaca bersama anak (pexels.com/lina)

Membacakan buku pada balita bukan sekadar mengenalkan cerita. Aktivitas ini menjadi momen interaksi yang kaya akan kosakata dan ekspresi bahasa. Anak juga belajar mengaitkan kata dengan gambar yang mereka lihat.

“Ajak anak terlibat dalam cerita dengan menunjukkan kata-kata dan gambar. Bahkan jika mereka belum membalas dengan kata-kata, paparan bahasa dan interaksi positif ini tetap berdampak besar,” kata Ashley Marshall.

Membaca bersama sebaiknya dilakukan secara interaktif, bukan satu arah. Orangtua bisa menunjuk gambar, mengulang kata yang diucapkan anak, atau mengajukan pertanyaan sederhana. Cara ini membuat balita merasa dilibatkan dan lebih tertarik untuk berbicara.

5. Ajak anak bermain imajinatif

ilustrasi anak balita bermain (pexels.com/tatianasyrikova)

Permainan pura-pura seperti bermain masak-masakan atau boneka memberi ruang besar untuk latihan bahasa. Balita bisa belajar menamai benda, mengekspresikan keinginan, hingga menyusun kalimat sederhana. Aktivitas ini terasa menyenangkan sekaligus edukatif.

Ashley Marshall menyebut bermain sebagai sarana alami belajar bahasa. Tidak ada cara bermain yang benar atau salah selama kamu berinteraksi. Ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk memberi contoh dan memperkenalkan bahasa. Lewat bermain, balita belajar berbicara tanpa merasa sedang diajari.

6. Kurangi screen time dan perbanyak interaksi langsung

ilustrasi ayah dan anak bermain (pexels.com/tatianasyrikova)

Gawai dan tayangan digital memang mudah diakses dan menarik bagi anak. Namun, paparan layar tidak bisa menggantikan interaksi manusia secara langsung. Balita membutuhkan respons nyata untuk belajar berkomunikasi.

Menurut Ashley Marshall, program edukatif bisa menjadi pelengkap paparan bahasa langsung, tetapi tidak pernah bisa menggantikannya. Interaksi tatap muka memungkinkan anak belajar giliran berbicara, ekspresi wajah, dan intonasi suara. Semua aspek ini penting untuk perkembangan bahasa yang optimal.

Perkembangan bicara balita tak lepas dari peran orangtua dalam menciptakan lingkungan yang kaya bahasa. Dengan interaksi konsisten dan penuh kesabaran, si kecil akan semakin percaya diri untuk mengungkapkan pikirannya lewat kata-kata.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team