Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Cara Tetap Kompak sebagai Pasangan di Tengah Krisis Anak
ilustrasi orangtua protektif (pexels.com/Kaboompics)
  • Artikel menekankan pentingnya menjaga kekompakan pasangan saat anak menghadapi krisis, dengan fokus pada kerja sama dan menghindari saling menyalahkan.
  • Ditekankan bahwa stabilitas emosional orangtua berpengaruh besar terhadap kondisi psikologis anak, sehingga hubungan pasangan perlu dijaga agar anak merasa aman.
  • Disarankan untuk rutin melakukan check-in emosional, membagi peran secara jelas, serta tetap memelihara identitas romantis agar hubungan tetap kuat di tengah tekanan keluarga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tidak ada orangtua yang benar-benar siap menghadapi krisis yang melibatkan anak. Entah itu anak mengalami trauma, sakit, ada masalah perilaku, menjadi korban bullying, menghadapi gangguan mental, atau sedang melalui fase perkembangan yang berat. Situasi seperti ini tentu sangat menguras energi, waktu, emosi, bahkan stabilitas hubungan pasangan.

Di tengah fokus penuh pada kondisi anak, pasangan jangan sampai menjadi ‘korban diam-diam.’ Percakapan hanya seputar jadwal terapi, biaya pengobatan, atau siapa yang harus mengalah hari ini, dan seterusnya. Itulah kenapa menjaga kekompakan sebagai pasangan saat anak sedang dalam krisis, menjadi sangat penting.

1. Jangan saling menyalahkan saat masalah muncul

ilustrasi orangtua bertengkar (pexels.com/cottonbro studio)

Saat anak mengalami masalah, banyak pasangan tanpa sadar mencari siapa yang salah. Ada yang menyalahkan pola asuh, kurangnya waktu bersama anak, atau keputusan tertentu di masa lalu. Padahal, perilaku ini hanya menambah luka baru.

"Pasangan (dengan perilaku) ini tidak hanya merespons secara defensif, tetapi mereka juga membalikkan kesalahan dalam upaya untuk membuat kesalahan itu menjadi kesalahan pasangan lainnya," jelas psikolog klinis Ellie Lisitsa, PhD dikutip dari Gottman.

Jadi, dalam situasi krisis, jangan berpikir "siapa penyebabnya?”, tapi menjadi “bagaimana kita menyelesaikannya bersama?”. Masalah anak bukan untuk mencari kambing hitam, tetapi tantangan keluarga yang harus dihadapi sebagai satu tim.

2. Ingat: anak membutuhkan orangtua yang stabil secara emosional

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Ketika anak dalam kondisi sulit, suasana rumah bisa sangat sensitif terhadap dinamika yang sedang muncul. Ingatlah bahwa anak bisa merasakan ketegangan, pertengkaran, bahkan komunikasi dingin antara orangtua. Lingkungan yang tidak stabil bisa memperburuk stres anak.

"Sebaliknya, ketika anak-anak hidup dalam lingkungan yang responsif dan konsisten, di mana mereka merasa diterima dan diasuh, mereka merasa aman secara emosional dan bebas untuk mengekspresikan emosi karena mereka yakin kebutuhan emosional mereka akan terpenuhi," demikian dikutip dari jurnal berjudul The Role of the Family Context in the Development of Emotion Regulation dikutip dari National Library of Medicine.

Jadi, menjaga hubungan pasangan adalah tindakan yang seharusnya. Dengan adanya hubungan yang sehat, orangtua bisa membantu anak merasa punya fondasi yang kuat.

3. Buat ruang untuk check-in emosional berdua

ilustrasi pasangan diskusi (pexels.com/cottonbro studio)

Saat ada krisis, tidak jarang pasangan sering sibuk menjadi problem solver dan lupa menanyakan kondisi emosional satu sama lain. Padahal, jika kamu memiliki kelelahan mental yang tidak dibicarakan, hal ini bisa berubah menjadi ledakan konflik.

"A relationship check-in adalah percakapan rutin dan disengaja antara pasangan untuk membahas kesehatan hubungan," jelas psikolog klinis Dr. Denise Renye dikutip dari Whole Person Integration.

"Tidak seperti obrolan santai, sesi konsultasi dilakukan sebagai waktu khusus tanpa telepon, gangguan, atau terburu-buru," tambahnya.

Untuk melakukannya kini juga tidak harus panjang atau dramatis. Bisa sesederhana bertanya, “Hari ini kamu paling capek ngapain?” atau “Apa yang kamu butuhkan dariku minggu ini?” dan seterusnya.

4. Bagi peran dengan jelas, bukan asumsi

ilustrasi pasangan diskusi (pexels.com/İlkin Efendiyev)

Bisa jadi salah satu sumber konflik terbesar saat anak mengalami krisis adalah beban yang terasa tidak seimbang, apa pun itu. Satu pihak mungkin merasa memikul terlalu banyak hal, sementara pihak lain merasa sudah berusaha semaksimal mungkin.

Tapi semua itu masih tidak sesuai harapan masing-masing. Menurut Brené Brown, profesor dan peneliti kerentanan emosional, pembagian peran yang jelas bisa membantu menurunkan stres pada orangtua, terlebih dalam kondisi krisis.

“Kejelasan mengurangi rasa dendam,” ujar Brené Brown di laman Brené Brown Education and Research Group.

Jadi, orangtua perlu duduk bersama membicarakan tugas secara konkret: siapa mengurus jadwal dokter, siapa yang menangani urusan sekolah, siapa memegang kebutuhan finansial, dan seterusnya.

5. Jangan lupakan identitas sebagai pasangan, bukan hanya orangtua

Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Photo by Vlada Karpovich)

Ketika seluruh energi tersedot untuk anak, pasangan biasanya mudah kehilangan identitas romantisnya. Hubungan pun berubah menjadi sekedar partnership operasional semata. Tentunya hal ini perlu di-maintain secara baik.

"Pasangan yang sukses dalam pernikahan tidak hanya memulai konflik dengan lebih lembut, tetapi mereka juga melakukan perbaikan baik dalam skala kecil maupun besar yang menyoroti sisi positif dalam hubungan mereka," jelas psikolog klinis Dr. Gottman.

Untuk melakukannya, kamu bisa memulai cara sederhana dengan dinner berdua. Duduk bersantai 15 menit, mengobrol sebelum tidur, dan sejenisnya. Hubungan yang terus dipelihara lebih tahan menghadapi tekanan besar dibanding hubungan yang hanya sekadar 'bertahan'.

 

Krisis anak memang bisa mengguncang seluruh fondasi keluarga. Fokus yang terlalu besar pada masalah anak, sering kali membuat orangtua lupa bahwa mereka juga perlu dirawat sebagai sebuah tim. Anak tidak hanya membutuhkan solusi atas masalahnya, tetapi juga melihat bahwa orangtuanya tetap saling mendukung di tengah badai.

Editorial Team