Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Ada Anak yang Lebih Sulit Diasuh? Ini Penjelasannya!

Kenapa Ada Anak yang Lebih Sulit Diasuh? Ini Penjelasannya!
ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/gabbyk)
Intinya Sih
  • Setiap anak lahir dengan temperamen unik yang memengaruhi cara mereka bereaksi terhadap lingkungan, namun sifat ini bisa berkembang dengan dukungan dan bimbingan yang tepat.
  • Perbedaan karakter antar anak membuat pengalaman mengasuh tidak selalu sama; orangtua perlu menyesuaikan pendekatan sesuai kebutuhan dan kepribadian masing-masing anak.
  • Lingkungan serta respons orangtua berperan besar dalam membentuk perilaku anak; sikap sabar, empati, dan konsisten membantu anak belajar mengelola emosi dengan lebih baik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Dalam satu keluarga, sering kali orangtua dibuat heran karena setiap anak punya karakter yang berbeda meski dibesarkan dengan cara yang sama. Ada anak yang mudah diarahkan, tapi ada juga yang sejak kecil sudah terlihat lebih aktif, keras kepala, atau sulit diatur. Kondisi ini kadang bikin orangtua bertanya-tanya, apakah pola asuh yang dilakukan sudah tepat atau justru ada yang kurang.

Padahal, perbedaan karakter ini sebenarnya hal yang sangat wajar dan bisa dijelaskan secara ilmiah maupun psikologis. Banyak faktor yang memengaruhi, mulai dari temperamen bawaan sejak lahir, lingkungan sekitar, hingga cara anak memproses pengalaman sehari-hari. Nah, biar lebih paham, ini dia penjelasan lengkapnya!

1. Setiap anak lahir dengan temperamen yang berbeda

ilustrasi ayah menggendong anak menangis
ilustrasi ayah menggendong anak menangis (pexels.com/baphi)

Sejak lahir, setiap anak sudah membawa temperamen yang berbeda-beda. Ada bayi yang mudah tenang, tetapi ada juga yang lebih sensitif terhadap suara, cahaya, atau perubahan kecil di sekitarnya. Hal ini bisa membuat sebagian anak terlihat lebih rewel atau sulit diatur sejak dini.

“Orangtua, lingkungan, dan guru bisa membantu membentuk kepribadian serta kemampuan anak dalam menghadapi masalah seiring waktu,” ujar Nancy Snidman, PhD, Direktur Child Development Unit di University of Massachusetts Boston, dikutip dari Parents.

Artinya, meskipun temperamen awal anak berbeda, bukan berarti sifatnya akan tetap sama selamanya. Dengan dukungan lingkungan yang tepat, anak tetap bisa belajar mengelola emosi dan perilakunya. Jadi, “anak sulit” bukan label permanen, melainkan sesuatu yang bisa berkembang.

2. Tidak ada dua anak yang benar-benar sama

ilustrasi ibu duduk bersama dua anak
ilustrasi ibu duduk bersama dua anak (pexels.com/ellyfairytale)

Meskipun tumbuh di rumah yang sama, setiap anak tetap punya kepribadian yang berbeda. Ada yang lebih mudah mengikuti aturan, ada juga yang lebih keras kepala dan butuh pendekatan khusus. Inilah yang sering membuat orangtua merasa harus berganti strategi saat menghadapi tiap anak.

“Jika memiliki anak dengan temperamen yang lebih menantang, kenyataannya kamu mungkin akan merasa pengasuhan sehari-hari terasa lebih melelahkan di beberapa fase hidup anak,” ujar Perri Klass, MD, seorang dokter anak dan co-author Quirky Kids, dikutip dari Parents.

Hal ini menggambarkan, bahwa pengalaman mengasuh anak memang tidak selalu sama. Orangtua bisa merasa lebih lelah pada satu anak dibanding yang lain bukan karena salah asuh, tetapi karena perbedaan karakter. Karena itu, penting untuk menyesuaikan pendekatan dengan kebutuhan masing-masing anak.

3. Lingkungan dan perhatian orangtua sangat berpengaruh

ilustrasi orangtua menasihati anak
ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/augustderichelieu)

Selain faktor bawaan, lingkungan juga punya peran besar dalam membentuk perilaku anak. Anak yang merasa kurang diperhatikan bisa menunjukkan perilaku menantang sebagai cara untuk mendapatkan perhatian. Hal ini sering disalahartikan sebagai sifat buruk, padahal bisa jadi bentuk komunikasi emosional.

Ketika kebutuhan emosional anak tidak terpenuhi dengan baik, mereka cenderung mengekspresikannya melalui perilaku yang dianggap sulit. Situasi ini bukan semata-mata tentang anak nakal, tetapi lebih pada bagaimana mereka berusaha menyampaikan perasaan yang belum bisa mereka jelaskan dengan kata-kata. Karena itu, penting bagi orangtua untuk lebih peka terhadap sinyal yang diberikan anak melalui perilakunya.

4. Cara orangtua merespons sangat menentukan

ilustrasi orangtua menemani anak tidur
ilustrasi orangtua menemani anak tidur (pexels.com/cottonbro)

“Banyak orangtua tidak benar-benar menyadari apa yang sebenarnya mereka komunikasikan kepada anak-anak mereka. Kebanyakan dari kita bahkan tidak bisa memahami dengan baik pesan apa yang sebenarnya diterima anak dari kita, apalagi dampak keseluruhannya terhadap mereka,” ujar Gerald Patterson, psikolog dari Oregon Social Learning Center, dikutip dari The New York Times.

Respons orangtua terhadap perilaku anak sangat memengaruhi perkembangan emosi mereka. Pendekatan yang sabar, konsisten, dan penuh empati biasanya lebih efektif dibandingkan hukuman atau kritik berlebihan. Anak akan lebih mudah belajar mengatur dirinya ketika merasa dipahami.

Sebenarnya, orangtua tidak harus sempurna dalam mengasuh. Selalu ada ruang untuk memperbaiki cara merespons anak dari waktu ke waktu. Hal ini penting agar hubungan keduanya tetap hangat meskipun sedang menghadapi masa-masa sulit.

Anak yang terlihat lebih sulit bukan berarti bermasalah, melainkan punya kebutuhan dan cara berkembang yang berbeda. Memahaminya bisa membantu orangtua lebih tenang sekaligus menemukan pendekatan pengasuhan yang tepat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Muhammad Tarmizi Murdianto
EditorMuhammad Tarmizi Murdianto
Follow Us

Related Articles

See More