Jangan Lakukan 5 Hal Ini Ketika Bicara di Depan Anak saat Co-Parenting

- Menjaga komunikasi yang sehat dalam co-parenting sangat penting.
- Menilai pasangan di depan anak dapat membuat mereka merasa bersalah dan bingung.
- Anak perlu diberi ruang untuk mencintai kedua orang tuanya tanpa tekanan atau penilaian.
Menjalani co-parenting bukan cuma soal membagi waktu atau tanggung jawab, tapi juga bagaimana menjaga kata-kata di depan anak. Kadang tanpa sadar, emosi dan rasa lelah bisa keluar lewat ucapan kecil yang ternyata berdampak besar. Anak mungkin tidak langsung protes, tapi hatinya merekam semua yang mereka dengar.
Di masa transisi pasca perpisahan, kata-kata bisa menjadi jembatan atau malah tembok di antara hubungan anak dan orang tua. Karena itu, penting banget untuk tahu mana ucapan yang perlu dijaga agar tidak melukai. Yuk, pahami beberapa hal yang sebaiknya tidak diucapkan di depan anak saat menjalani co-parenting.
1. Salah satu orang tua dijadikan bahan penilaian di depan anak

"Ayah/Ibu kamu tuh emang dari dulu begitu." Kalimat ini sering muncul ketika amarah terhadap mantan pasangan belum sepenuhnya reda. Mungkin maksudnya hanya ingin melepaskan kekesalan, tapi bagi anak, kalimat seperti ini bisa terdengar menyakitkan dan membingungkan.
Anak mencintai kedua orang tuanya, sehingga mendengar salah satunya dinilai buruk membuat mereka merasa bersalah. Mereka bisa berpikir bahwa mencintai satu pihak berarti harus membenci pihak lain. Karena itu, lebih baik hindari menilai pasangan di depan anak agar mereka tetap punya ruang untuk membangun hubungan yang sehat dengan keduanya.
2. Anak dipaksa memilih antara ayah atau ibu

"Kamu lebih senang sama siapa, Ayah atau Ibu?" Pertanyaan ini terlihat polos, tapi sebenarnya bisa memberi tekanan emosional yang besar. Anak merasa terjebak karena apa pun jawabannya bisa menyakiti salah satu orang tuanya.
Kondisi ini bisa membuat anak belajar untuk menyembunyikan perasaannya agar tidak menimbulkan konflik. Mereka jadi sulit mengekspresikan cinta dengan bebas. Biarkan anak mencintai kedua orang tuanya dengan cara mereka sendiri tanpa harus merasa bersalah atau terpaksa memilih.
3. Anak dijadikan sumber informasi tentang mantan pasangan

"Ceritain dong, di rumah Ayah/Ibu kamu ngapain aja?" Terdengar seperti bentuk perhatian, tapi bisa membuat anak merasa tidak nyaman. Mereka bisa merasa sedang diintrogasi atau dijadikan perantara antara dua orang tua.
Anak akhirnya merasa berada di posisi sulit karena tidak ingin mengecewakan siapa pun. Mereka juga bisa mulai menyembunyikan hal-hal tertentu agar tidak memicu pertanyaan serupa. Sebaiknya, fokuslah pada kegiatan anak dan hal-hal yang menyenangkan bagi mereka tanpa menyinggung kehidupan mantan pasangan.
4. Cinta orang tua dibandingkan di depan anak

"Kalau Ayah/Ibu sayang kamu, pasti gak bakal begitu." Kalimat ini terdengar seperti pembelaan, tetapi sebenarnya bisa memanipulasi emosi anak. Mereka bisa merasa bersalah atau menganggap kasih sayang orang tua bergantung pada perilaku tertentu.
Ucapan seperti ini dapat menurunkan rasa aman anak terhadap cinta yang mereka terima. Anak bisa tumbuh dengan perasaan bahwa kasih sayang harus selalu dibuktikan. Lebih baik bantu anak memahami bahwa setiap orang tua punya cara yang berbeda dalam menunjukkan cinta, tanpa harus dibandingkan.
5. Anak dijadikan alasan kelelahan orang tua

"Mama/Papa capek sendirian ngurus kamu." Sekilas terdengar jujur, tetapi bagi anak, ucapan ini terasa seperti beban emosional. Mereka bisa merasa menjadi penyebab kelelahan orang tuanya.
Kalimat ini membuat anak tumbuh dengan rasa bersalah setiap kali membutuhkan perhatian. Mereka belajar untuk menahan diri agar tidak menambah beban orang tuanya. Lebih baik ungkapkan rasa lelah dengan cara yang sehat, misalnya dengan meminta waktu untuk istirahat tanpa menyalahkan anak.
Menjaga komunikasi yang sehat dalam co-parenting membutuhkan kesabaran dan kesadaran diri. Setiap ucapan yang terdengar sepele bisa membentuk cara anak melihat dunia dan memahami cinta. Karena itu, penting untuk berpikir dua kali sebelum berbicara di depan mereka.
Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, mereka hanya butuh perasaan aman dan kasih sayang yang konsisten. Dengan menahan ego dan memilih kata dengan hati-hati, kamu sudah melangkah jauh untuk melindungi hati mereka. Co-parenting yang penuh empati akan membantu anak tumbuh lebih percaya diri dan bahagia.



















