Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
lansia di rumah
ilustrasi lansia di rumah (pexels.com/Kindel Media)

Intinya sih...

  • Lantai kamar mandi yang licin meningkatkan risiko terpeleset bagi lansia

  • Lansia rawan jatuh saat naik turun tangga, perlu dipindahkan ke kamar bawah jika memiliki masalah kaki

  • Lansia sering lupa mematikan kompor dan menggunakan peralatan listrik tanpa perhatian pada keselamatan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Ketika anak beranjak dewasa dan berhadapan dengan orangtua yang makin lanjut usia sering kali serba salah. Kamu ingin menjaga orangtua di rumah. Akan tetapi, mencari pekerjaan di kampung halaman tidak mudah.

Setelah dirimu bekerja di luar kota, orangtua gak mau dicarikan ART atau perawat khusus lansia. Mereka juga menolak buat ikut tinggal bersamamu di rantau. Akhirnya, orangtua tetap menempati rumahnya sendirian. Padahal, kondisi kesehatannya sudah makin menurun.

Jangankan lansia tinggal seorang diri. Kamu meninggalkannya cuma buat bekerja saja, kecelakaan dapat terjadi di rumah. Seperti enam kecelakaan yang sering terjadi pada lansia saat di rumah berikut ini. Dirimu mesti meningkatkan pengawasan. Kalau perlu merenovasi rumah yang ditempati orangtua.

1. Terpeleset di kamar mandi

ilustrasi berendam (pexels.com/cottonbro studio)

Ini kejadian yang jamak dialami lansia. Lantai kamar mandi yang basah menyulitkan orangtua untuk berjalan dengan aman. Apalagi bila lantai lama tidak disikat. Permukaannya pasti makin licin.

Pun pilihan keramiknya sama seperti ruangan lain atau tanpa motif timbul. Ditambah tiadanya pegangan besi pada dinding kamar mandi, lansia yang kehilangan keseimbangan akan langsung terjatuh. Begitu pula kloset jongkok lebih sulit bagi orang lanjut usia.

Otot-otot kaki yang lemah tak dapat menahan berat badan baik ketika mereka berjongkok atau hendak berdiri. Renovasi kamar mandi mendesak dilakukan. Toilet juga perlu ditempatkan lebih dekat dengan kamar orangtua.

2. Jatuh dari tangga

ilustrasi duduk di tangga (pexels.com/cottonbro studio)

Di lantai kamar mandi yang datar saja, lansia rawan terjatuh. Apalagi kalau mereka naik dan turun tangga. Makin tinggi anak tangganya, makin sulit pula untuk orangtuamu menjaga keseimbangan.

Lutut mereka juga dapat tiba-tiba lemas seperti kehabisan energi. Tambah buruk apabila tidak ada susuran tangga. Sedikit saja lansia oleng bisa langsung jatuh ke lantai bawah.

Andai selama ini orangtua menempati kamar di lantai atas, pindahkan ke kamar bawah. Begitu mereka memiliki masalah di kaki yang menyulitkan pergerakan, jauhkan dari tangga. Andai pun ada tangga yang sulit diubah seperti perbatasan teras dengan halaman, pastikan anak tangganya gak tinggi.

3. Lupa mematikan kompor

ilustrasi memasak (pexels.com/Mikhail Nilov)

Beda dengan anak muda yang suka kepraktisan, lansia biasanya sangat gemar memasak sendiri. Baik buat konsumsi sendiri maupun menjamu tamu. Ini karena kebiasaannya memasak sejak muda saat warung makan, katering, dan layanan pesan antar makanan gak seperti sekarang.

Saking mereka telah terbiasa memasak, soal resep tentu gak terlupakan. Akan tetapi, lain dengan tentang nyala kompor. Sambil menunggu masakan matang, mereka berniat melakukan hal-hal lain.

Sayangnya, mereka malah benar-benar melupakan dapur. Bahkan lansia sering ketiduran. Tahu-tahu api sudah membesar dan asap memenuhi rumah. Bisa terjadi kebakaran kalau tak ada orang yang cepat menyadarinya.

4. Pemakaian peralatan listrik berisiko korsleting

ilustrasi stopkontak (pexels.com/Саша Алалыкин)

Lansia juga kerap menggampangkan risiko. Selama sesuatu belum terjadi secara langsung pada orangtuamu, mereka menganggapnya tak mungkin. Seperti pemakaian alat listrik. Bahkan sambungan kabel di rumah asal-asalan terpenting lampu menyala.

Sambungan stopkontak juga sampai bertumpuk-tumpuk. Bahkan kabel yang sangat tua cuma diselotip berkali-kali di bagian yang terkelupas. Semua ini harus dirapikan supaya aman digunakan.

Kalau orangtua dibelikan atau membeli sendiri peralatan listrik juga kadang tak memperhatikan daya yang dibutuhkan. Bila daya listrik di rumah kecil, listrik sampai anjlok berkali-kali. Jangan sampai terjadi kebakaran, ya.

5. Salah minum obat

ilustrasi minum obat (pexels.com/Yaroslav Shuraev)

Ini tidak lepas dari makin berkurangnya penglihatan dan ingatan orangtua. Mereka tidak lagi cermat membaca label obat. Pil yang seharusnya diminum satu kali sehari malah menjadi tiga kali atau sebaliknya.

Pengaruhnya pada tubuh dapat sangat besar. Antara tidak efektif karena dosis yang dikonsumsinya kurang atau malah overdosis. Obat yang telah kedaluwarsa juga dapat tetap diminum.

Kalau kamu pas pulang, tata obat-obatan orangtua di kotak yang lebih besar. Satu kotak, satu jenis obat. Tuliskan aturan minumnya gede-gede. Berikan pula tabel obat yang harus diminum. Orangtua tinggal mencentang setiap habis meminumnya agar tidak lupa.

6. Terluka oleh benda tajam

ilustrasi mengiris kubis (pexels.com/Julia Filirovska)

Seperti dalam poin 3, banyak lansia masih suka memasak. Namun, ketajaman penglihatan yang berkurat plus tangan yang kadang bergetar bikin pisau kerap mengenai jari. Kalau cuma tergores sedikit tentu bukan masalah besar.

Bila orangtua mengerahkan tenaga untuk memotong daging atau ikan menjadi sangat berbahaya. Belikan orangtua alat yang memudahkan pekerjaannya di dapur. Misalnya, alat pengiris bawang.

Benda tajam lainnya yang kerap melukai lansia ialah pecahan kaca atau keramik. Selalu minta orangtua berjalan-jalan di sekitar rumah dengan memakai alas kaki. Barangkali ada benda tajam di jalan. Jika mereka menderita diabetes, lukanya dapat tak sembuh-sembuh.

Seiring pertambahan usia orangtua, mereka memiliki kemiripan dengan anak-anak. Yaitu, sama-sama membutuhkan pengawasan ekstra. Bedanya, anak-anak terus tumbuh dan menambah kekuatannya, sedangkan lansia bertambah lemah. Setelah mengetahui beberapa jenis kecelakaan yang sering terjadi pada lansia saat di rumah, ke depannya kamu kudu sabar, membuat kondisi tempat tinggalnya seaman mungkin, dan sebaiknya ada orang yang mendampinginya 24 jam penuh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team