Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Kecemasan Orangtua saat Anak Pertama Masuk Sekolah
ilustrasi berangkat sekolah (pexels.com/ujangubed hidayat)
  • Orangtua, terutama ibu, sering merasa lebih cemas dibanding anak saat pertama kali masuk sekolah karena khawatir dengan berbagai kemungkinan di hari pertama.
  • Ada enam sumber utama kecemasan orangtua, mulai dari sulitnya anak bangun pagi, rewel di sekolah, hingga kekhawatiran anak sulit fokus belajar atau mogok sekolah.
  • Artikel menekankan pentingnya orangtua mengelola kekhawatiran agar tidak menular ke anak dan membiarkan mereka menikmati proses adaptasi awal di lingkungan sekolah baru.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ternyata bukan anak saja yang kerap mengalami kecemasan ketika hendak masuk sekolah untuk pertama kali. Rupanya, kecemasan orangtua saat anak pertama masuk sekolah, terutama ibu, sering kali demikian. Malah kekhawatirannya melebihi anak yang masih terlihat santai.

Rasa waswas orangtua wajar karena banyak kejadian kurang menyenangkan yang dialami murid di hari pertama sekolah. Ada saja dramanya. Faktor usia anak yang masih sangat belia berpengaruh besar. Juga kebiasaan di rumah selama ini.

Apabila anak jarang bermain dengan teman sebaya, biasanya agak susah melewati masa awal sekolah. Tidak hanya sekolah dasar, tetapi juga taman kanak-kanak. Orangtua juga dapat bercermin pada pengalaman pribadinya dahulu yang penuh drama ketika baru bersekolah. Pikiran orangtua menjadi berkutat pada enam hal berikut.

1. Cemas anak sulit dibangunkan di pagi hari

ilustrasi memakaikan sepatu (pexels.com/Keira Burton)

Drama bangun pagi menjadi kekhawatiran pertama mayoritas orangtua. Sebab ini akan menjadi titik awal dari seluruh rangkaian aktivitas hari ini. Kalau anak bangun pagi saja sudah susah sekali, tiba di sekolah bisa terlambat.

Pun anak harus mandi serta makan dengan terburu-buru. Suasana hati anak maupun orangtua bakal sama-sama buruk. Orangtua dapat kehabisan kesabaran menghadapi anak yang lambat mempersiapkan diri.

Makin orangtua memintanya bergegas, bahkan turun langsung memandikan dan menyuapi, anak malah kesal. Di malam hari pertama anak akan masuk sekolah, orangtua pasti sampai berulang kali memperingatkan anak supaya tidur lebih awal. Biar keesokannya ia gampang dibangunkan.

2. Bagaimana bila anak rewel di sekolah?

ilustrasi akan berangkat sekolah (pexels.com/Vitaly Gariev)

Hal berikutnya yang dicemaskan orangtua adalah apakah anak tidak tenang di hari pertamanya bersekolah? Banyak anak rewel karena gak nyaman dengan suasana lingkungan baru. Mereka bingung sekaligus takut.

Orangtua bakal lebih ketar-ketir jika anak di rumah pun sering rewel. Malah anak kerap tantrum di mana pun. Seperti saat anak diajak jalan-jalan, bisa tiba-tiba mengamuk dan butuh waktu lama buat bisa tenang kembali.

Bagaimana jika besok di sekolah juga begitu? Jangan-jangan justru tambah parah karena orangtua tidak diizinkan ikut menemani anak di dalam kelas. Kalau anak terbiasa gampang beradaptasi di mana saja dan dengan siapa pun, tentu orangtua lebih tenang.

3. Gak rewel, tapi sulit bersosialisasi

ilustrasi menyiram tanaman (pexels.com/Nasirun Khan)

Anak tidak rewel di hari pertamanya bersekolah bukan berarti gak ada masalah. Anak yang terlihat anteng di bangkunya juga dapat memiliki persoalannya sendiri. Ia tidak takut kepada guru atau cemas tentang pelajaran.

Namun, dia mengalami kendala dalam pertemanan. Anak seperti mematung saja di tempat duduknya. Ia tidak bisa melibatkan diri dalam percakapan atau aktivitas lain dengan kawan-kawan barunya.

Andai ada teman yang terlebih dahulu mencoba mendekatinya pun, ditanggapi secara pasif. Ini membuat kawannya malas dan memilih berteman dengan anak-anak yang lain saja. Memang, soal kesulitan bersosialisasi tak secara langsung akan memengaruhi prestasi anak di sekolah. Akan tetapi, tersisih dari pertemanan juga lama-kelamaan dapat membuatnya kurang betah di kelas.

4. Khawatir anak dinakali teman

ilustrasi akan berangkat sekolah (pexels.com/August de Richelieu)

Kekhawatiran orangtua tidak beralasan. Boleh jadi anak ketika bergaul di lingkungan rumah juga kerap mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan. Ia sering didominasi, yang berujung pada perlakuan bullying.

Sering kali anak yang rentan dinakali kawannya terlihat pendiam dan takut-takut. Bisa pula anak sebenarnya cukup percaya diri, tetapi ada beberapa murid yang sekelas dengannya kurang positif. Anak seperti ini suka berlagak jagoan di antara teman-temannya.

Sayangnya, bukan jagoan dalam arti sesungguhnya yang membela kawan dalam kebaikan. Namun, mereka justru bersikap menekan teman yang dianggap lemah. Dapat pula mereka sampai membentuk semacam geng agar lebih ditakuti murid lainnya.

5. Takut anak sulit fokus ke pelajaran

ilustrasi akan berangkat sekolah (pexels.com/Tiger Lily)

Kadang-kadang orangtua juga seperti terjebak ekspektasinya sendiri terkait proses belajar anak. Orangtua berharap anak bisa langsung memusatkan perhatian pada setiap hal yang disampaikan oleh guru. Kalau nanti hari pertama ada PR, di rumah anak juga bersemangat serta mampu mengerjakannya dengan mudah.

Itu harapan yang tinggi. Bagaimanapun juga, anak yang baru kali ini masuk sekolah perlu waktu untuk beradaptasi. Banyak sekali hal baru yang harus dihadapinya dalam sekali waktu.

Ia sekarang punya rutinitas berbeda, yaitu bersekolah dan belajar di rumah. Anak juga mesti berkenalan dengan teman-teman baru. Kalau semua ini dipandang dari kacamata anak, orangtua pasti bisa memaklumi saat anaknya perlu waktu untuk dapat berkonsentrasi penuh pada pelajaran. Kelas 1 SD biasanya fokus anak masih belum stabil.

6. Jangan-jangan besok langsung mogok sekolah

ilustrasi memakaikan sepatu (pexels.com/KATRIN BOLOVTSOVA)

Mogok sekolah menjadi salah satu drama yang paling menakutkan buat orangtua. Pasalnya, kalau anak sudah gak mau masuk sekolah, susah sekali untuk membujuknya. Bisa-bisa anak seminggu penuh tidak bersedia berangkat lagi.

Malah lebih dari itu jika orangtua tak juga berhasil memengaruhinya dengan segala cara. Padahal, dalam waktu seminggu saja anak sudah ketinggalan banyak pelajaran. Pun materinya masih dasar sekali, seperti melancarkan kemampuan membaca, menulis, serta matematika sederhana.

Justru materi-materi dasar ini yang sangat menentukan proses belajar anak selanjutnya. Jika anak mogok sekolah terlalu lama, nanti ia masih kesulitan dalam ketiga kompetensi di atas saat kawan-kawannya telah lancar. Bisa-bisa anak tambah frustrasi, merasa sekolah terlalu sulit untuknya, kemudian kembali mogok.

Walaupun ada kecemasan orangtua saat anak pertama masuk sekolah, sebaiknya kalian jangan terlalu khawatir. Sebab kekhawatiran berlebihan orangtua tanpa sadar bikin anak ikut panik. Seperti orangtua terlalu sering berkata anak harus bisa berteman, menyimak pelajaran, dan sebagainya.

Itu terdengar seperti nasihat yang sangat baik. Akan tetapi, kalau terus ditekankan, malah bisa bikin anak stres. Terpenting, anak menikmati dulu minggu-minggu pertamanya bersekolah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article