Kenapa Imlek Bikin Orang Tetap Pulang meski Hubungan Keluarga Renggang?

- Momen berkumpul yang tak tergantikan.
Makan malam khas Imlek, berbagi angpao, dan ngobrol santai membuat relasi keluarga cair lagi. - Kesehatan mental menjadi naik semakin prima.
Kebersamaan membantu mengelola emosi, menaikkan perasaan bahagia, dan memberikan sudut pandang baru dalam melihat keadaan. - Ajangnya menguatkan tali persaudaraan.
Pertemuan tatap muka mempererat hubungan, memberi ruang bagi mereka yang ingin memperbaiki hubungan, serta saling mendukung.
Seperti halnya mudik momen liburan lainnya, saat imlek juga banyak orang yang pulang ke rumah orangtuanya meski hubungannya sedang kurang baik. Bukan paksaan, sebab ada kerinduan untuk berkumpul lagi dalam kehangatan yang pernah dirasakan. Alasan yang wajar karena relasi yang memang didasari cinta kasih.
Lebih dari tradisi, ada rindu dan harapan agar kembali terkoneksi. Maka, meski hubungan kini lagi renggang berikut beberapa alasan kenapa Imlek bikin orang tetap pulang.
1. Momen berkumpul yang tak tergantikan

Momen ini identik dengan kegiatan berkumpul keluarga. Rumah orangtua kembali ramai dengan suasana akrab yang tak sama dari hari biasanya. Itulah sebabnya sesibuk apa pun seseorang akan berusaha pulang menikmati kebersamaan.
Makan malam menyantap menu khas Imlek yang penuh makna, berbagi angpao hingga mengisi waktu sambil ngobrol santai. Kabar terbaru saling dibagikan dan muncul tawa bahagia dalam satu ruangan. Suasana menyenangkan ini membuat relasi yang sempat membeku jadi cair lagi.
2. Kesehatan mental menjadi naik semakin prima

Menjelang imlek tentu ada kegiatan bersih-bersih hingga mendekorasi rumah menjadi indah. Ini menghadirkan nuansa yang bikin rileks. Pandangan yang segar juga membantu menaikkan perasaan dan menjernihkan pikiran. Hal ini juga memengaruhi kesehatan mental, semakin bahagia semakin sehat jasmani rohaninya.
Kebersamaan ini membantu mengelola emosi, makin tenang terkendali. Tentu bagi yang sedang berkonflik pun meski awalnya canggung, perlahan bebannya berkurang dan mampu akrab lagi. Meski masalah gak langsung selesai, energi positif didapatkan dan memberikan sudut pandang baru dalam melihat keadaan dengan lebih baik. Bisa memunculkan niat hingga tindakan memperbaiki hubungan.
3. Ajangnya menguatkan tali persaudaraan

Pertemuan tatap muka dalam momen ini memberi ruang bagi mereka yang ingin mempererat hubungan. Kehadiran setiap anggota keluarga menunjukkan bahwa masih peduli dengan saudaranya. Saling menyapa sampai ngobrol penuh perhatian dapat menguatkan relasinya.
Hubungan yang renggang entah mungkin sempat ada perdebatan, kini ada jalannya untuk menyatu lagi. Imlek menjadi ruang hangat untuk membaik lagi dan menguatkan fondasi kekeluargaan.
4. Berbagi dukungan secara positif

Dalam percakapannya, ada beragam informasi didapatkan. Ada yang bercerita keberhasilan hingga hal duka. Momen ini sering juga dijadikan kesempatan saling mendukung.
Doa, nasihat serta dukungan diberikan dan diterima. Tak ada sikap meremehkan maupun menghakimi. Gak lagi merasa sendiri bagi yang sedang kurang baik-baik saja, ini tentu saja menaikkan rasa bahagia dan penyemangat langkah ke fase hidup berikutnya.
5. Sebagai jembatan penyelesaian konflik

Sakit hati hingga kesalahpahaman yang membuat jarak dalam hubungan, melalui kehadirannya saat perayaan ini bisa jadi jembatan solusi. Pulang ke rumah dengan langkah penuh arti agar bisa memulai relasi yang lebih harmonis lagi.
Pintu komunikasi terbuka lagi, kebersamaan ini menunjukkan masih ada niat memperbaiki situasi. Hubungan terbina lebih baik dan hangat lagi.
Imlek lebih dari perayaan kumpul keluarga tapi juga menyimpan makna betapa pentingnya menjaga ikatan persaudaraan. Meski hubungan renggang selalu ada jalan untuk perbaikan. Cukup dengan meluangkan waktu pulang, duduk menikmati perayaan dan hadir sepenuhnya dalam setiap kebersamaan, hubungan mulai kembali menyenangkan.
Pulang saat Imlek jadi sebuah pilihan untuk merawat sesuatu yang begitu berharga. Langkah sederhana yang berdampak nyata terhadap relasi keluarga dengan segala dinamikanya.



















