Tidak semua orangtua tumbuh dengan contoh teladan yang nyaman untuk dijadikan patokan saat membesarkan anak. Banyak yang masih percaya bahwa orangtua harus selalu benar sehingga merasa kaku ketika harus mengakui kekeliruan di depan anak yang jauh lebih muda. Padahal, kesalahan tetap bisa muncul meski niatnya tulus, entah karena terburu-buru, salah menilai situasi, atau menggunakan kata yang akhirnya melukai perasaan anak.
Momen seperti ini sering dilewatkan begitu saja, sementara anak di sisi lain justru didorong terus-menerus untuk menunduk dan meminta maaf, bahkan saat mereka tidak benar-benar salah. Rasanya timpang, tetapi masih dianggap normal dalam banyak keluarga. Perubahan bisa dimulai dari satu langkah sederhana: keberanian mengakui kesalahan sendiri. Berikut lima alasan yang layak dipikirkan bersama.
