Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Bukti Menafkahi Saja Belum Cukup untuk Jadi Orangtua yang Baik

ilustrasi orangtua
ilustrasi orangtua (pexels.com/Pavel Danilyuk)
Intinya sih...
  • Menafkahi keluarga penting, tetapi kehadiran dan keterlibatan emosional orangtua tetap dibutuhkan anak.
  • Fasilitas dan penghasilan tidak selalu sejalan dengan pendampingan, perhatian, dan komunikasi sehari-hari.
  • Anak membutuhkan orangtua yang hadir secara nyata, bukan hanya sebagai penyedia kebutuhan finansial.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjadi orangtua kerap disamakan dengan kemampuan memenuhi kebutuhan hidup keluarga tanpa kekurangan. Selama urusan uang beres, banyak yang merasa peran sudah dijalankan dengan benar. Cara pandang seperti ini memang umum, terutama di lingkungan yang menilai keberhasilan dari stabilnya kondisi ekonomi.

Ada anak-anak yang tumbuh dengan fasilitas lengkap, tetapi jarang benar-benar merasa ditemani. Situasi inilah yang sering luput disadari karena peran pencari nafkah dianggap sudah mewakili segalanya. Berikut beberapa tanda yang menunjukkan mengapa menafkahi saja belum cukup untuk menjadi orangtua yang hadir.

1. Kehadiran digantikan oleh transfer dan fasilitas

ilustrasi fasilitas
ilustrasi fasilitas (pexels.com/Julia M Cameron)

Dalam banyak keluarga, bentuk perhatian sering diwujudkan lewat uang saku, barang baru, atau liburan sesekali. Semua itu memang membantu, tetapi tidak selalu menjawab kebutuhan anak akan kehadiran nyata. Pulang malam, jarang makan bersama, dan minim waktu berbincang menjadi rutinitas yang dianggap wajar. Lama-kelamaan, rumah hanya berfungsi sebagai tempat singgah, bukan ruang kebersamaan.

Anak akhirnya terbiasa menjalani hari tanpa banyak interaksi dengan figur di rumah. Ketika sesuatu terjadi, mereka cenderung menyelesaikannya sendiri atau mencari pelarian lain. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena mereka sudah terbiasa tidak ditemani. Di titik ini, uang memang hadir, tetapi sosok orangtua tidak.

2. Ukuran tanggung jawab hanya dilihat dari penghasilan

ilustrasi penghasilan
ilustrasi penghasilan (pexels.com/Karola G)

Banyak yang merasa aman selama kebutuhan hidup terpenuhi dan tagihan tidak menumpuk. Penghasilan yang terus naik sering dijadikan tolok ukur utama keberhasilan dalam keluarga. Sayangnya, ukuran ini tidak selalu sejalan dengan kondisi di rumah. Anak bisa saja tumbuh tanpa pernah benar-benar didengar.

Ketika peran hanya diukur dari seberapa besar pemasukan, keseharian anak sering terlewat begitu saja. Perubahan sikap, kebiasaan baru, atau masalah kecil tidak tertangkap karena jarang terlibat langsung. Hubungan pun berjalan datar karena sekadar saling tahu tanpa benar-benar saling memahami.

3. Fasilitas lengkap tidak selalu disertai pendampingan

ilustrasi kursus renang
ilustrasi kursus renang (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Sekolah bagus, gawai terbaru, dan berbagai kursus sering dianggap sebagai bekal masa depan. Niatnya tentu baik agar anak memiliki lebih banyak kesempatan. Namun, tanpa pendampingan, semua itu bisa terasa membingungkan bagi anak. Mereka memiliki banyak pilihan, tetapi minim arahan dalam menyikapinya.

Dalam kondisi seperti ini, anak belajar dari lingkungan sekitar tanpa filter yang jelas. Nilai yang terbentuk bukan berasal dari rumah, melainkan dari apa yang paling sering ditemui di luar. Fasilitas memang tersedia, tetapi peran pendamping perlahan menghilang dari keseharian.

4. Kesibukan membuat anak terlalu cepat berdiri sendiri

ilustrasi mandiri
ilustrasi mandiri (pexels.com/KATRIN BOLOVTSOVA)

Anak yang terlihat mandiri sering dipuji sebagai tanda keberhasilan pengasuhan. Bisa mengurus diri sendiri sejak kecil dianggap tidak merepotkan. Namun, ada perbedaan besar antara mandiri karena siap dan mandiri karena terbiasa ditinggal. Tidak semua kemandirian lahir dari proses yang sehat.

Dalam situasi tertentu, anak belajar mengalah pada keadaan. Mereka menyesuaikan diri dengan jadwal yang padat dan kehadiran yang terbatas. Dari luar tampak baik-baik saja, tetapi kebiasaan memendam mulai terbentuk. Semua dilakukan sendiri karena memang tidak ada ruang untuk berbagi.

5. Rasa tanggung jawab tidak selalu sejalan dengan rasa ditemani

ilustrasi orangtua dan anak
ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Lgh_9)

Bekerja keras demi keluarga sering dilandasi rasa tanggung jawab yang besar. Tidak ingin anak kekurangan menjadi alasan utama orangtua untuk terus mengejar penghasilan. Namun, rasa aman dalam keluarga tidak hanya datang dari kecukupan materi. Kehadiran dan perhatian sederhana sering kali jauh lebih berarti.

Perbedaan cara memaknai tanggung jawab ini jarang dibicarakan secara terbuka. Satu pihak merasa sudah melakukan yang terbaik, sementara pihak lain merasa berjalan sendirian. Jarak ini tumbuh perlahan tanpa konflik besar, tetapi juga tanpa kedekatan yang hangat.

Menafkahi dengan baik memang penting, tetapi peran orangtua tidak berhenti pada urusan finansial. Kehadiran dalam keseharian sering kali menjadi hal yang paling diingat anak hingga dewasa. Jika uang sudah ada, tetapi kebersamaan nyaris tidak terasa, masihkah peran orangtua bisa disebut utuh?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Ide Dapur dengan Nuansa Warm yang Hangat dan Elegan, Terapkan!

09 Jan 2026, 20:12 WIBLife