ilustrasi parenting (pexels.com/Julia M Cameron)
Menurut profesor dan psikolog, Dr. Caroline Fleck, salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah penolakan emosi. Perilaku ini sangat mengkhawatirkan, bahkan anak-anak bisa mengalami kecemasan hingga PTSD.
"Anak-anak yang terpapar penolakan emosi, di mana emosi mereka secara konsisten dan rutin diabaikan, diremehkan, atau dihukum, secara signifikan lebih mungkin mengembangkan gejala depresi, kecemasan, PTSD, narsisme, dan bahkan psikopati,” kata Dr. Fleck.
“Penolakan emosi diyakini memainkan peran kausal dalam kondisi seperti gangguan kepribadian ambang dan sangat berkorelasi dengan perilaku melukai diri sendiri dan bunuh diri. Orangtua yang menolak emosi anak-anak mereka memiliki anak-anak yang juga menolak emosi mereka sendiri,” tambahnya.
Untuk mengatasi ini, menurut Dr. Fleck orangtua perlu menekankan validasi dan emosi itu valid. Membantu anak-anak mengidentifikasi, memberi label, dan memvalidasi emosi mereka sangat penting untuk belajar bagaimana mengelolanya dengan lebih efektif. Jangan meremehkan emosi mereka.
Mendisiplinkan anak memang penting, tetapi cara yang digunakan juga perlu diperhatikan. Hukuman yang membuat anak takut, malu, atau merasa tidak dicintai justru bisa meninggalkan dampak emosional yang panjang. Tujuan disiplin seharusnya membantu anak belajar bertanggung jawab, bukan sekadar membuat mereka diam atau patuh sementara waktu.