Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Kesalahan Hukuman Anak yang Harus Dihentikan Orangtua dan Kakek Nenek
ilustrasi parenting (pexels.com/cottonbro studio)

Banyak orangtua atau kakek nenek memberi hukuman kepada anak dengan niat agar anak menjadi disiplin, tidak mengulangi kesalahan, atau mengikuti seseorang. Namun tidak semua bentuk hukuman benar-benar membantu anak belajar. Beberapa cara mendisiplinkan justru bisa meninggalkan luka emosional, membuat anak takut, atau merusak hubungan mereka dengan keluarga.

Hal yang sering tidak disadari adalah anak belum memiliki kemampuan emosi dan cara berpikir yang sama seperti orang dewasa. Berikut ini beberapa kesalahan saat memberikan hukuman pada anak.

1. Memarahi anak di depan banyak orang

ilustrasi parenting (pexels.com/PNW Production)

Salah satu kesalahan yang masih sering dilakukan adalah memarahi atau mempermalukan anak di depan orang lain. Banyak orang dewasa menganggap cara ini membuat anak jera. Padahal, anak justru bisa merasa malu, takut, dan kehilangan rasa aman.

"Rasa malu menumbuhkan kekalahan, kekecewaan, dan ketidakpercayaan yang akan menyebabkan anak menutup diri, dan hubungan akan memburuk," kata Stephanie Cox, MS, konselor kesehatan mental dikutip dari Psychology Today.

Saat anak dipermalukan, fokus mereka bukan lagi memahami kesalahan, tetapi menahan rasa sakit emosionalnya. Anak mungkin terlihat diam setelah dimarahi, tetapi di dalam dirinya muncul rasa malu dan takut yang bisa bertahan lama.

2. Menggunakan kekerasan fisik sebagai hukuman

ilustrasi parenting (pexels.com/August de Richelieu)

Masih banyak keluarga yang percaya bahwa memukul, mencubit, atau menampar adalah cara cepat untuk mendisiplinkan anak. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa hukuman fisik justru memberi dampak negatif terhadap perkembangan emosi dan perilaku anak.

American Academy of Pediatrics menegaskan bahwa hukuman fisik tidak efektif untuk jangka panjang dan berisiko meningkatkan perilaku agresif pada anak. Hukuman fisik meningkatkan agresi pada anak kecil. Anak yang sering menerima hukuman fisik biasanya belajar bahwa kekerasan adalah cara menyelesaikan masalah.

3. Mengancam anak dengan kata-kata menakutkan

ilustrasi parenting (pexels.com/Kindel Media)

Kalimat seperti “papa/mama tinggal ya,” atau “nanti kamu ditangkap polisi” masih sering digunakan untuk membuat anak patuh atau disiplin. Padahal, ancaman seperti ini dapat membuat anak merasa tidak aman secara emosional.

"Biasanya ancaman dimaksudkan untuk mendorong perubahan perilaku melalui rasa takut anak. Singkatnya, tujuannya adalah agar mereka mendengarkan karena mereka takut," jelas terapis anak Ann Meehan, an LPCC.

Ketika mereka mendengar ancaman, rasa takut itu bisa benar-benar tertanam di pikirannya. Alih-alih belajar disiplin, anak justru tumbuh dengan kecemasan dan rasa takut kehilangan orang yang mereka sayangi.

4. Menghukum anak saat emosi orang dewasa sedang meledak

ilustrasi parenting (pexels.com/Kaboompics.com)

Banyak hukuman diberikan saat orangtua atau kakek nenek sedang marah besar. Dalam kondisi emosi tinggi, hukuman sering berubah menjadi pelampiasan amarah, bukan lagi proses mendidik anak. Psikolog Daniel J. Siegel menjelaskan bahwa saat emosi sedang memuncak, kemampuan berpikir logis orang dewasa maupun anak sama-sama menurun.

“Ketika kita reaktif secara emosional, kita kehilangan akses ke bagian berpikir di otak,” ujar Dr. Daniel J. Siegel, profesor psikiatri klinis UCLA, dikutip dari bukunya "The Whole-Brain Child" dalam lamannya Dr Dansiegel.

Ketika orang dewasa menghukum dalam keadaan marah, anak biasanya hanya menangkap kemarahan tersebut tanpa memahami pelajaran yang ingin disampaikan. Karena itu, disarankan agar orangtua menenangkan diri terlebih dahulu sebelum berbicara atau memberi konsekuensi kepada anak.

 

5. Emotional invalidation atau penolakan emosi

ilustrasi parenting (pexels.com/Julia M Cameron)

Menurut profesor dan psikolog, Dr. Caroline Fleck, salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah penolakan emosi. Perilaku ini sangat mengkhawatirkan, bahkan anak-anak bisa mengalami kecemasan hingga PTSD.

"Anak-anak yang terpapar penolakan emosi, di mana emosi mereka secara konsisten dan rutin diabaikan, diremehkan, atau dihukum, secara signifikan lebih mungkin mengembangkan gejala depresi, kecemasan, PTSD, narsisme, dan bahkan psikopati,” kata Dr. Fleck.

“Penolakan emosi diyakini memainkan peran kausal dalam kondisi seperti gangguan kepribadian ambang dan sangat berkorelasi dengan perilaku melukai diri sendiri dan bunuh diri. Orangtua yang menolak emosi anak-anak mereka memiliki anak-anak yang juga menolak emosi mereka sendiri,” tambahnya.

Untuk mengatasi ini, menurut Dr. Fleck orangtua perlu menekankan validasi dan emosi itu valid. Membantu anak-anak mengidentifikasi, memberi label, dan memvalidasi emosi mereka sangat penting untuk belajar bagaimana mengelolanya dengan lebih efektif. Jangan meremehkan emosi mereka.

Mendisiplinkan anak memang penting, tetapi cara yang digunakan juga perlu diperhatikan. Hukuman yang membuat anak takut, malu, atau merasa tidak dicintai justru bisa meninggalkan dampak emosional yang panjang. Tujuan disiplin seharusnya membantu anak belajar bertanggung jawab, bukan sekadar membuat mereka diam atau patuh sementara waktu.

Editorial Team