Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Meski Berniat Baik, 7 Kesalahan Ini Seharusnya Dihindari oleh Orangtua
ilustrasi parenting (pexels.com/PNW Production)

Setiap orangtua tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Karena rasa sayang dan kekhawatiran, banyak keputusan diambil dengan tujuan melindungi, membantu, atau membuat anak merasa bahagia. Namun tanpa disadari, beberapa sikap yang terlihat sebagai bentuk perhatian justru bisa memberi dampak kurang baik bagi perkembangan mental dan emosional anak.

Mulai dari terlalu sering memberi pujian, banyak mengontrol hingga mengatur jadwal les, sering dilakukan karena niat baik. Untuk itu, inilah beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari.

1. Orangtua yang terlalu terlibat dan mengatur kehidupan anak

ilustrasi parenting (pexels.com/cottonbro studio)

Gak sedikit orangtua yang terlalu terlibat dan mengatur kehidupan anak secara detail. Menunjukkan minat pada kehidupan anakmu memang tidak diragukan lagi merupakan aspek pengasuhan sehat yang mendorong perkembangannya. Tapi ini juga bisa menjadi bumerang.

"Masalahnya adalah kita tidak dapat membantu anak-anak kita mengembangkan harga dirinya, jika mereka belum memiliki kebebasan yang cukup untuk mengembangkan dirinya sendiri," kata Michael Kinsey, Ph.D. psikolog klinis dikutip dari Minds Plain.

Anak-anak membutuhkan perhatian dan kepedulian. Tetapi hal tersebut harusnya tentang aspek unik dari pertumbuhan, kemandirian, minat, dan hubungan anak. Itu semua harus tentang anak itu sendiri. Dengan begitu tidak ada penghalang bagi anak-anak untuk belajar dan berkembang.

 

2. Memberikan dukungan yang tidak dibutuhkan anak

ilustrasi parenting anak kecil (pexels.com/Keira Burton)

Jika ada dua hal yang sangat dikuasai anak-anak, mungkin itu adalah rasa penasaran dan belajar. Sisanya anak meminta bantuan ketika mereka membutuhkan. Jadi mengapa orang dewasa merasa perlu untuk ikut campur ketika mereka belum meminta bantuan?

Ya, memang harus diakui bahwa rasanya menyenangkan ketika kita dibutuhkan. Tapi menyaksikan anak-anak belajar dan mengeksplorasi sendiri, akan mengingatkan kita pada pengalaman rasa cemas dan frustrasi kita sendiri ketika mempelajari hal-hal baru.

"Intinya adalah bermain, belajar, menjelajah, menyelesaikan tugas, dan sebagainya, memiliki nilai yang sangat kecil bagi anak-anak jika prosesnya terganggu karena adanya 'solusi cepat'," kata Michael.

"Yang terpenting dalam membantu anak-anak bukanlah menunggu diminta, tetapi juga seberapa banyak bantuan yang kamu tawarkan. Luangkan waktu sejenak untuk menilai apa yang dibutuhkan anakmu dengan bertanya," lanjutnya.

Berikan hanya bantuan minimal yang dibutuhkan anak untuk menyelesaikan suatu tugas. Ruang belajar ini sebagai zona perkembangan proksimal. Hipotesisnya adalah bahwa pembelajaran maksimal terjadi ketika anak hanya menerima bantuan minimal yang diperlukan untuk mencapai tujuannya.

 

3. Banyak menghukum, bukan mencoba bekerja sama

ilustrasi parenting (pexels.com/August de Richelieu)

Salah satu sumber terbesar kesalahan pola asuh adalah menggunakan hukuman untuk mengatasi kurangnya perilaku adaptif. Menghukum tindakan yang diabaikan, menurut Michael cenderung kurang efektif daripada bekerja sama dengan anak untuk membangun rasa percaya diri, efikasi, dan motivasi.

"Sebagai terapis, saya melakukan intervensi membantu orang-orang lebih terhubung dengan keinginan mereka untuk mencapai hasil yang mereka inginkan," jelasnya.

Jadi, atur ulang perilaku sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang diinginkan, bukan sebagai cara anak untuk menghindari hukuman. Pemecahan masalah tanpa menghakimi juga produktif. Bantu anak untuk menjadikan perilaku yang diinginkan bermakna secara pribadi bagi mereka.

Jika belajar matematika adalah masalahnya, bantu anak untuk melihat apa yang bisa dilakukan orangtua untuk mengembangkan keterampilan matematikanya. Bantu anak menyadari bahwa menghindari matematika itu merupakan keyakinan yang salah, yang pada akhirnya mengganggu semua tujuan yang mungkin dibuat anak di kemudian hari.

4. Terlalu sering memberi pujian

ilustrasi parenting (freepik.com/Lifestylememory)

Anak-anak ingin diperhatikan, dan tentu saja mereka ingin menyenangkan orangtuanya. Tetapi terlalu mudah memberikan pujian juga bisa menjadi masalah. Menurut Dr. Amanda Niland, ahli pendidikan anak usia dini di Universitas Sydney, pujian bisa dikategorikan "pujian pribadi" dan "pujian proses".

"Pujian pribadi berfokus pada karakteristik yang stabil seperti kepribadian atau penampilan. Pujian proses berfokus pada perilaku atau upaya yang diarahkan untuk mencapai suatu hasil, seperti belajar mengendarai sepeda atau bayi yang mengambil langkah pertama," jelas Dr. Amanda dikutip dari The University of Sydney.

Penelitian telah menemukan bahwa pujian pribadi dapat mengurangi motivasi anak-anak kecil untuk menantang diri mereka sendiri dan menyebabkan perasaan tidak berdaya jika mereka gagal. Sebaliknya, pujian proses menunjukkan bahwa anak-anak lebih cenderung percaya diri di prasekolah dan di sekolah dasar.

 

5. Terlalu banyak jadwal kegiatan ekstrakurikuler

ilustrasi anak belajar (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Banyak orangtua ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang aktif, berbakat, dan memiliki banyak kemampuan. Karena alasan itu, tidak sedikit anak yang akhirnya memiliki jadwal kegiatan ekstrakurikuler hampir setiap hari, mulai dari les akademik, olahraga, musik, hingga berbagai kursus tambahan lainnya.

Sekilas hal ini terlihat positif karena anak dianggap lebih produktif dan punya banyak pengalaman. Orangtua memiliki niat baik untuk mencoba membantu anak-anak menemukan minat mereka. Tapi menurut Dr. Jessica McCarthy, Psy.D., pendiri dan direktur klinis di Elements Psychological Services, LLC, ini jebakan.

“Tidak hanya anak-anak dan keluarga yang merasakan stres karena jadwal yang padat, tetapi anak-anak juga kehilangan kesempatan untuk belajar bagaimana merasa bosan dan bagaimana menyalurkan kreativitas melalui waktu luang,” jelasnya dikutip dari Parade.

6. Memposting segalanya di media sosial

ilustrasi media sosial (unsplash.com/RobHampson)

Di era media sosial seperti sekarang, banyak orangtua senang membagikan momen tumbuh kembang anak. Mulai dari foto lucu, video keseharian, pencapaian sekolah, hingga cerita pribadi anak sering diunggah sebagai bentuk rasa bangga dan kebahagiaan.

Bagi sebagian orangtua, media sosial menjadi tempat berbagi pengalaman parenting dengan keluarga maupun teman. Namun, berbagi di media sosial memiliki bahaya.

“Kamu bisa saja secara tidak sengaja mengekspos anak dan informasi pribadi mereka kepada orang-orang yang seharusnya tidak memiliki informasi ini,” kata Dr. Jessica.

“Anak-anak mungkin tidak sepenuhnya memahami apa artinya memposting di media sosial, dan dalam banyak kasus, mereka tidak diberi kesempatan untuk menentukan bagaimana informasi pribadi mereka ditempatkan secara permanen di internet untuk dilihat semua orang,” tambahnya.

7. Kesalahan saat mencoba melindungi anak-anak dari kegagalan atau kekecewaan

ilustrasi parenting (pexels.com/Kindel Media)

Ya, mungkin banyak orangtua merasa sulit untuk melihat anaknya gagal, sama sulitnya dengan menyaksikan mereka menangis. Mungkin ada rasa tidak tega, kasihan, empati, dan seterusnya. Tapi yang perlu diingat, kegagalan adalah bagian dari kehidupan termasuk untuk anak-anak.

“Tidak semuanya harus berupa kemenangan yang spektakuler, dan jalan menuju pencapaian yang bermakna tidak selalu harus hebat, menakjubkan, atau sempurna,” jelas psikolog klinis Dr. Daniel Huy, Psy.D.

“Kemunduran itu sehat, dan ketika dihadapi dengan dukungan, hal itu dapat membantu mengembangkan ketahanan, pemikiran kritis, dan pengaturan emosi,” tambahnya.

Menjadi orangtua memang tidak mudah karena tidak ada cara yang benar-benar sempurna dalam membesarkan anak. Namun yang terpenting adalah kesediaan untuk terus belajar, memahami kebutuhan anak, dan memperbaiki pola pengasuhan seiring waktu berjalan.

Editorial Team