Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kesalahan Working Parents yang Bikin Akhir Pekan Melelahkan
ilustrasi working parents (pexels.com/Ketut Subiyanto)
  • Working parents sering kelelahan di akhir pekan karena batas antara kerja dan waktu istirahat tidak jelas, membuat otak tetap siaga dan energi mental cepat terkuras.
  • Aktivitas akhir pekan yang terlalu padat serta penumpukan pekerjaan rumah menjadikan dua hari libur terasa seperti shift tambahan tanpa ruang untuk benar-benar beristirahat.
  • Konsistensi tidur dan memberi waktu untuk diri sendiri menjadi kunci agar tubuh dan pikiran bisa pulih optimal sebelum kembali menghadapi rutinitas kerja.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sabtu pagi tiba dan bukannya terasa lega, badan malah sudah lelah duluan sebelum hari benar-benar dimulai. Dua hari yang seharusnya jadi jeda justru berlalu lebih cepat dan lebih menguras tenaga daripada hari kerja biasa. Banyak working parents mengalami ini, tapi tidak tahu persis di mana letak masalahnya.

Akhir pekan yang melelahkan jarang terjadi karena kegiatannya terlalu padat. Lebih sering, penyebabnya adalah kebiasaan-kebiasaan kecil yang tidak disadari dan terus berulang setiap minggunya. Kalau ingin tahu apa yang selama ini menjadi kesalahan working parents yang bikin akhir pekan melelahkan, baca artikel ini sampai selesai.

1. Tidak punya batas yang jelas antara kerja dan libur

ilustrasi working mom (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Jumat malam, laptop ditutup, tapi otak belum benar-benar berhenti. Notifikasi email masuk pada Sabtu pagi dan dibalas karena merasa tidak enak kalau dibiarkan terlalu lama. Satu balasan itu kemudian membuka pintu ke percakapan lain dan sebelum sadar, sebagian besar energi mental akhir pekan sudah terpakai untuk urusan pekerjaan.

Otak manusia butuh sinyal yang jelas bahwa mode kerja sudah selesai agar bisa benar-benar beristirahat. Tanpa batas itu, sistem saraf tetap dalam kondisi siaga rendah sepanjang akhir pekan dan kelelahan yang ditinggalkan minggu lalu tidak pernah benar-benar pulih. Working parents yang tidak menetapkan batas waktu kerja yang tegas di akhir pekan cenderung memulai minggu baru dengan tangki yang sudah setengah kosong sebelum hari Senin tiba.

2. Mengisi akhir pekan dengan agenda yang terlalu penuh

ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Rasa bersalah karena jarang ada di rumah selama seminggu sering mendorong working parents untuk mengompensasinya dengan mengisi akhir pekan secara berlebihan. Satu hari bisa berisi agenda ke mal, acara keluarga besar, les anak, belanja bulanan, dan beres-beres rumah sekaligus. Niatnya ingin memberikan yang terbaik, tapi hasilnya adalah dua hari yang berlalu seperti sprint tanpa garis finish.

Akhir pekan yang terlalu terstruktur tidak memberi ruang untuk hal yang paling dibutuhkan otak dan tubuh setelah seminggu penuh bekerja, yaitu waktu tanpa agenda. Anak-anak pun sebenarnya tidak selalu butuh aktivitas yang terencana untuk merasa dekat dengan orangtuanya. Duduk bersama tanpa tujuan khusus, bermain tanpa jadwal, atau sekadar tidak melakukan apa-apa bersama kadang jauh lebih memulihkan dibanding rangkaian kegiatan yang terasa seperti itinerary wisata.

3. Menumpuk semua pekerjaan rumah di akhir pekan

ilustrasi setrika baju (pexels.com/Jonathan Borba)

Selama weekday, rumah dibiarkan dalam kondisi seadanya karena tidak ada waktu dan energi untuk mengurusnya. Akibatnya, semua tugas domestik yang tertunda itu menumpuk dan akhir pekan menjadi satu-satunya waktu untuk menyelesaikannya sekaligus. Beberes besar, mencuci, menyetrika, mengepel, belanja kebutuhan mingguan, semua dikerjakan dalam dua hari yang seharusnya juga dipakai untuk istirahat.

Pola ini membuat akhir pekan terasa seperti shift kerja tambahan dengan jenis pekerjaan yang berbeda. Solusinya bukan bekerja lebih keras di akhir pekan, tapi mendistribusikan tugas rumah secara lebih merata sepanjang minggu meski hanya dalam porsi kecil setiap harinya. Lima belas menit beberes setiap malam hari kerja jauh lebih efektif dari segi energi dibandingkan empat jam beberes besar pada Sabtu pagi yang langsung menguras stamina sebelum hari benar-benar dimulai.

4. Tidak memberi diri sendiri waktu untuk pulih

ilustrasi me time (pexels.com/Ivan S)

Working parents sangat terbiasa memikirkan kebutuhan semua orang kecuali kebutuhannya sendiri. Akhir pekan dipakai untuk anak, untuk pasangan, untuk keluarga besar, untuk urusan rumah, dan hampir tidak ada irisan waktu yang benar-benar dipakai untuk diri sendiri. Padahal pemulihan yang sesungguhnya tidak bisa terjadi kalau seseorang tidak pernah diberi ruang untuk berhenti dari semua peran yang ia emban sekaligus.

Waktu sendiri bukan kemewahan yang egois, melainkan kebutuhan psikologis yang kalau terus diabaikan akan membuat seseorang semakin mudah tersulut dan semakin sulit hadir sepenuhnya untuk orang-orang di sekitarnya. Bahkan tiga puluh menit saja dalam sehari untuk melakukan sesuatu yang murni untuk diri sendiri, tanpa anak, tanpa pasangan, tanpa agenda rumah, sudah cukup membuat perbedaan yang terasa nyata pada kualitas kehadiran seseorang sepanjang sisa akhir pekan.

5. Tidur dan bangun di jam yang tidak konsisten

ilustrasi tidur (pexels.com/Polina)

Terakhir, kesalahan working parents yang bikin akhir pekan melelahkan adalah balas dendam tidur setelah seminggu kurang istirahat. Tidur sampai siang pada Sabtu terasa seperti hadiah yang pantas didapat, tapi pergeseran jam tidur yang terlalu jauh dari rutinitas harian justru mengacaukan ritme sirkadian tubuh. Hasilnya, Minggu malam sudah sulit tidur dan Senin pagi dimulai dengan kondisi yang tidak jauh berbeda dari orang yang semalam begadang.

Tubuh manusia bekerja paling baik dengan jadwal tidur yang konsisten bahkan di akhir pekan. Boleh tidur sedikit lebih lama, tapi idealnya tidak lebih dari satu jam dari jam bangun biasanya agar ritme tubuh tidak terlalu terganggu. Working parents yang menjaga konsistensi jam tidur di akhir pekan cenderung merasa lebih segar di awal minggu, bukan karena tidur lebih lama, tapi karena kualitas tidurnya lebih baik dan tubuhnya tidak perlu menyesuaikan ulang ritme dari nol setiap Senin pagi.

Akhir pekan yang memulihkan bukan soal seberapa banyak hal yang berhasil diselesaikan atau seberapa seru aktivitas yang dilakukan bersama keluarga. Tubuh dan otak punya cara kerjanya sendiri dan keduanya butuh kondisi tertentu untuk bisa benar-benar pulih. Mengubah beberapa kebiasaan kecil di akhir pekan jauh lebih berdampak daripada menambah jumlah hari libur yang dipakai dengan cara yang sama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team