Ilustrasi ibu mengasuh anaknya (freepik.com/freepik)
Peti Musa bayi pun lewat istana Firaun dan Asiyah, istri Firaun, yang menemukan peti tersebut. Dengan izin Allah SWT, Asiyah pun langsung jatuh hati kepada Musa bayi dan hendak mengasuhnya. Namun, keputusan Asiyah ini hampir mengancam nyawa Musa bayi. Pasalnya, Firaun hendak membunuh Musa.
Setelah mengetahui niat keji sang suami, Asiyah pun memohon dan merayu sang suami untuk tidak membunuh Musa bayi. Asiyah adalah perempuan yang tidak bisa memiliki keturunan. Melihat hal ini, Firaun pun memaklumi keinginan istrinya dan mengizinkan Musa bayi untuk diasuh Asiyah di kerajaan. Musa pun hidup di istana Firaun.
Namun, Musa bayi terus menangis dan tidak mau disusukan oleh perempuan lain. Hingga datang saudari Musa, Maryam, kemudian ia mengusulkan untuk menyewa keluarga untuk menyusui dan merawat Musa bayi.
Asiyah pun menyetujui tawaran saudari Musa. Ternyata, perempuan yang diusulkannya adalah ibu kandung Nabi Musa sendiri dan akhirnya keduanya bertemu kembali.
Perintah untuk menghanyutkan Musa bayi memang amat berat bagi ibu Nabi Musa. Namun, berkat kesabaran dan percaya akan janji Allah SWT, tidak perlu waktu lama bagi ibu dan anak itu bertemu. Semoga kita bisa meneladani kesabaran seperti yang ibu Nabi Musa lakukan.
Penulis: Fanny Haristianti