Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Konflik keluarga, Orangtua, Anak
ilustrasi konflik keluarga (pexels.com/cottonbro)

Intinya sih...

  • Konflik keluarga seringkali berasal dari hal-hal kecil yang dianggap sepele namun membekas lama, seperti perkataan membandingkan dan perasaan diremehkan.

  • Perasaan diremehkan atau dianggap berlebihan dapat membuat seseorang merasa tak dianggap, menyimpan perasaan sendiri, dan kesulitan mengenali serta mengekspresikan emosi.

  • Harapan keluarga yang tidak dibicarakan secara jujur, sikap pilih kasih yang dianggap normal, dan konflik yang selalu diselesaikan dengan diam juga dapat meninggalkan dampak emosional yang dalam.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Ada banyak konflik keluarga yang tidak datang dalam bentuk pertengkaran besar. Justru, yang paling sering membekas adalah hal-hal kecil yang dianggap wajar, bahkan sepele. Semua menumpuk pelan-pelan dan membentuk luka yang tak mudah disadari.

Konflik keluarga seringnya gak diselesaikan. Kamu diminta memaklumi, mengalah, dan melupakan. Padahal, apa yang gak dibicarakan tidak otomatis hilang, tapi bisa ikut kamu bawa sampai dewasa. Berikut lima konflik keluarga yang dianggap sepele, tapi dampaknya lama.

1. Perkataan membandingkan yang terus menerus diulang

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Julia M Cameron)

Kalimat membandingkan seperti “coba kamu kayak kakakmu” atau “anak tetangga itu lebih pintar” sering dianggap memotivasi. Padahal, perbandingan yang terus-menerus bisa melukai rasa percaya diri tanpa disadari. Kamu tumbuh dengan perasaan tak pernah cukup.

Kamu juga akan selalu merasa tertinggal, atau harus membuktikan diri agar layak dihargai. Meski konflik ini tak pernah berupa pertengkaran langsung, dampaknya bisa terasa sampai dewasa. Hal ini juga membentuk cara kamu memandang diri sendiri.

2. Perasaan diremehkan atau dianggap berlebihan

ilustrasi anak dan orangtua (pexels.com/karolina-grabowska)

Saat kamu mencoba mengungkapkan perasaan, respons seperti “ah, gitu doang baper” atau “kamu terlalu sensitif” sering kali muncul. Niatnya mungkin menenangkan, tapi efeknya justru membuatmu merasa tak dianggap. Konflik ini terlihat sepele karena gak ada teriakan atau pertengkaran.

Namun, lama-kelamaan, kamu belajar untuk menyimpan perasaan sendiri. Kamu ragu pada emosi sendiri dan takut dianggap berlebihan setiap kali ingin jujur. Diremehkan secara emosional bisa membuatmu kesulitan mengenali dan mengekspresikan perasaan di hubungan lain.

3. Harapan keluarga yang tak pernah dibicarakan dengan jujur

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/rdne)

Banyak keluarga punya harapan besar, tapi jarang dibicarakan dengan jujur. Kamu diharapkan mengikuti jalan tertentu, mengambil keputusan, atau menjadi versi yang sesuai keinginan keluarga. Ketika kamu memilih jalan berbeda, konflik muncul dalam bentuk diam, sindiran, atau sikap pasif-agresif.

Tidak ada pembicaraan terbuka, hanya rasa kecewa yang menggantung. Konflik ini membekas karena kamu terjebak antara menjadi diri sendiri dan memenuhi ekspektasi orang terdekat. Rasa bersalah pun tumbuh tanpa pernah benar-benar diurai.

4. Sikap pilih kasih yang dianggap normal

ilustrasi anak dan orangtua (pexels.com/Kampus Production)

Pilih kasih sering dianggap hal biasa dalam keluarga. Ada anak yang dianggap lebih penurut, lebih sukses, atau lebih membanggakan. Sementara yang lain diminta lebih banyak mengerti. Meski gak diucapkan secara langsung, sikap ini terasa.

Kamu bisa merasa kurang diperhatikan, kurang dihargai, atau selalu berada di posisi kedua. Luka ini sering dibungkus dengan logika, tapi tetap meninggalkan bekas emosional. Konflik ini bisa membentuk rasa iri, rendah diri, atau bahkan jarak emosional dengan keluarga sendiri.

5. Konflik yang selalu diselesaikan dengan diam

ilustrasi pertengkaran orangtua (pexels.com/rodnae-prod)

Tidak semua keluarga terbiasa berbicara soal masalah. Ada yang memilih diam sebagai cara menyelesaikan konflik. Setelah ada masalah, semua kembali normal kelihatannya, tapi tanpa pernah ada penyelesaian.

Kamu belajar bahwa membicarakan masalah hanya akan memperpanjang konflik. Akhirnya, semua disimpan dan dilupakan secara paksa. Padahal, yang tak dibicarakan tetap hidup dalam ingatan.

Konflik keluarga gak selalu terlihat besar di permukaan. Menyadari lima konflik ini adalah langkah awal untuk berdamai dengan masa lalu. Karena menyembuhkan diri tak selalu berarti melawan, tapi berani mengakui apa yang dirasakan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team