Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by Steven Van Loy)
Perfeksionisme dalam pengasuhan sering terlihat baik di luar, tapi bisa berdampak negatif dalam jangka panjang. Orangtua yang terlalu menuntut diri sendiri cenderung lebih mudah stres, cemas, dan lelah.
"Perfeksionisme dalam pengasuhan anak ada di mana-mana dan itu datang dengan 'harga yang mahal'. Pengejaran kesempurnaan yang tanpa henti ini menciptakan ekspektasi yang tidak realistis dan kritik pada diri sendiri yang terus-menerus," kata Kristen.
Ini bisa berdampak pada kualitas interaksi dengan anak. Anak pun bisa menangkap tekanan tersebut dan merasa harus memenuhi standar tinggi yang tidak realistis. Pada akhirnya, ini justru menghambat perkembangan mereka.
"Ketidaksempurnaan, jika ditangani dengan baik, menjadi kekuatan dalam pengasuhan. Pengasuhan anak tidak pernah dimaksudkan untuk dilakukan dengan sempurna. Pengasuhan anak dimaksudkan untuk dilakukan dengan jujur, penuh pertimbangan, dan dengan kerendahan hati," tambahnya.
Mengasuh anak bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang terus belajar. Kesalahan bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari proses tumbuh-baik untuk anak maupun orangtua. Saat kamu mulai menerima ketidaksempurnaan, kamu memberi ruang bagi hubungan yang lebih hangat, jujur, dan manusiawi.