Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengenal Komunikasi Mechanistic Language agar Anak Tumbuh Cerdas

Mengenal Komunikasi Mechanistic Language agar Anak Tumbuh Cerdas
Ilustrasi komunikasi dengan anak (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Memiliki anak yang cerdas tentu merupakan dambaan semua orangtua. Mama dan Papa akan rela melakukan banyak hal untuk itu. Mulai dari memberikan makanan yang sehat dan bergizi, membacakan buku, hingga memberikan pendidikan di sekolah terbaik.

Namun ternyata, hal yang lebih utama yang mempengaruhi kecerdasan anak adalah bagaimana interaksinya dengan orangtua. Dilansir Smart Parenting, Kate Borbon seorang kontributor menyatakan jika cara orangtua berbicara pada anak jauh lebih baik ketimbang menjejali banyak angka atau kosakata sebagai hafalan.

"Penelitian terbaru mengungkapkan, jika ingin anak unggul dalam akademik, caranya bukan dengan memaksa anak dan menjejali banyak angka atau kata-kata baru untuk memperkaya database ingatan mereka. Hal yang lebih baik adalah melalui bagaimana orangtua berbicara pada mereka." Jelas Kate.

Komunikasi sejenis ini dinamakan Mechanistic Language. Para peneliti mengamati jika anak-anak akan lebih menangkap dan memahami apa yang dijelaskan, walau dengan caranya sendiri, dibandingkan dengan hafalan.

Anak-anak yang mendapat penjelasan panjang dan rinci (mekanistik) dapat belajar lebih banyak. Dilansir Nature, penelitian yang dilakukan oleh Aaron Chuey dan kawan-kawan menemukan jika penjelasan yang rinci dapan membuat anak memahami suatu sistem dengan cara pikirnya sendiri.

"Sangat mengejutkan bagaimana ternyata anak-anak dapat memperoleh pengetahuan abstrak tentang kerja suatu sistem, hal ini dapat memacu penalaran epistemik mereka." Kata Aaron dan tim dalam penelitian mereka.

Lantas bagaimana cara menerapkan Mechanistic Language pada anak? Berikut adalah penjelasannya.

1. Jangan anggap sepele pertanyaan anak

Ilustrasi komunikasi dengan anak (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
Ilustrasi komunikasi dengan anak (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Anak-anak memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi. Mereka sangat suka mengekplorasi banyak hal, juga memiliki segudang pertanyaan dalam kepalanya.

Terkadang, pertanyaan mereka adalah pertanyaan-pertanyaan dasar yang terdengar sepele. Tapi, usahakan Mama-Papa menjawab pertanyaan mereka dengan sungguh-sungguh, ya!

Misalnya saja jika anak bertanya, "Mengapa senter butuh baterai?", hindari jawaban seperti "Agar bisa menyala." Mama-Papa bisa mengganti jawaban dengan penjelasan yang lebih rinci seperti, "Karena di dalam baterai terdapat daya. Daya tersebut akan dihantarkan oleh kabel-kabel yang berada di dalam senter sehingga lampunya bisa menyala."

Anak-anak mungkin tidak akan mengerti sepenuhnya. Namun berdasarkan penelitian Kathleen dan Kurkul dari Boston University, jawaban seperti itu dapat merangsang mereka untuk berpikir.

2. Coba menyisipkan kosakata baru beserta penjelasannya

Ilustrasi komunikasi dengan anak (pexels.com/Gustavo Fring)
Ilustrasi komunikasi dengan anak (pexels.com/Gustavo Fring)

Memberi penjelasan pada anak secara detail akan memberi mereka ragam kosakata baru dengan halus. Metode ini akan lebih mudah diingat oleh anak dibanding dengan memaksakan mereka menghafal.

Hal inilah yang dilakukan orangtua Pak Habibie dalam mendidik anak-anaknya. Dalam buku Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner dijelaskan jika Papi (sebutan ayah dari Pak Habibie) sering menyisipkan kosakata baru dengan penjelasannya dalam menjawab pertanyaan anaknya.

Misalnya saja dalam sebuah percakapan:

"Mengapa Papi menggabungkan dua pohon yang tak sejenis?" Tanya Rudy.

"Papi sedang melakukan eksperimen, sebuah percobaan untuk menemukan jawaban." Jawab Papi.

3. Berikan alasan, contoh dan perbandingan

Ilustrasi komunikasi dengan anak (pexels.com/ShotPot)
Ilustrasi komunikasi dengan anak (pexels.com/ShotPot)

Memberi jawaban yang rinci juga dapat membuat anak puas dan tak segan untuk kembali bertanya. Akhirnya, orangtua akan jadi figur yang dipercaya oleh anaknya.

Jika orangtua bingung bagaimana menjawab dengan sederhana, cobalah untuk memberikan contoh dan/atau perbandingan. Orangtua juga bisa melibatkan anak untuk bersama-sama mengekplorasi sesuatu untuk mencari jawaban.

Memberikan contoh sebagai jawaban juga akan menambah keyakinan anak pada jawaban yang diperikan oleh orangtuanya. Anak akan menganggap jawaban tersebut benar karena memang ada contoh nyatanya.

4. Sisipkan nilai moral dan empati

Ilustrasi komunikasi dengan anak (pexels.com/Pavel Danilyuk)
Ilustrasi komunikasi dengan anak (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Usahakan untuk selalu menanamkan kebaikan pada anak. Dibanding dengan memerintah apa yang harus mereka lakukan, menyisipkan nilai-nilai moral dalam jawaban dan percakapan akan jauh lebih efektif.

Anak akan lebih menerima, memprosesnya dengan baik dan menyimpannya karena tidak merasa dipaksa. Misalnya saja jika anak bertanya, kenapa dia perlu menyikat gigi?

Sebagai orangtua, kita bisa menjawab "Menyikat gigi dapat membuat kuman dan kotoran yang menempel pada gigi jadi terlepas. Dengan begitu, mulut jadi lebih bersih, sehat dan nafas jadi segar. Jadi adik tidak akan menganggu teman karena bau mulut saat berbicara nanti."

5. Jelaskan konsekuensi

Ilustrasi komunikasi dengan anak (pexels.com/Ketut Subiyanto)
Ilustrasi komunikasi dengan anak (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Memberi pengertian pada anak tentang konsekuensi dan sebab-akibat atas sesuatu bukanlah hal yang mudah. Butuh kemampuan komunikasi dan penyampaian yang baik, serta kesabaran ekstra dari Mama-Papa.

Misalnya saja jika anak bertanya, "Kenapa aku tidak boleh main hujan?" Jangan menjawab dengan jawaban singkat, ancaman, atau larangan. Rasa penasaran mereka yang tinggi akan membuat mereka justru mengabaikan larangan kita. Cobalah untuk memberi pengertian terkait konsekuensi yang akan diperolehnya jika bermain hujan.

Misalnya seperti, "Saat hujan, biasanya banyak angin. Kalau baju adik basah dan terkena angin, nanti adik kedinginan dan terkena flu. Kalau adik kena flu, adik jadi tidak bisa bertemu teman-teman di sekolah. Adik juga jadi tidak bisa minum es jeruk kesukaanmu. Sayang sekali, kan?"

Nah, itu adalah penjelasan terkait komunikasi Mechanistic Language yang bisa diterapkan agar anak tumbuh cerdas. Kunci dari komunikasi ini adalah kesungguhan dan kesabaran orangtua dalam melakukan percakapan dengan anak. Ayo, mulai berkomunikasi dengan metode Mechanistic Language dari sekarang!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us