Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi kerjasama dengan orangtua
ilustrasi kerjasama dengan orangtua (freepik.com/jcomp)

Intinya sih...

  • Akar budaya pengorbanan dalam peran orangtua

  • Perbedaan antara berkorban dan kehilangan diri

  • Dampak pengorbanan berlebihan bagi anak

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah kamu merasa menjadi orangtua berarti harus selalu mengalah, lelah, dan menyingkirkan kebutuhan diri sendiri? Banyak orangtua tumbuh dengan keyakinan bahwa pengorbanan total adalah tanda cinta sejati. Semakin lelah, semakin dianggap sebagai orangtua yang baik. Kalimat seperti 'namanya juga orangtua' sering menjadi pembenaran atas kelelahan yang dipendam. Tanpa sadar, pengorbanan ini dianggap kewajiban yang gak boleh ditawar. Dari sinilah muncul pertanyaan besar, apakah menjadi orangtua memang harus selalu mengorbankan diri.

Di sisi lain, media dan lingkungan sering memotret sosok orangtua ideal sebagai figur yang serba kuat. Menjadi orangtua harus selalu mengorbankan diri, selalu sabar, selalu ada, dan jarang mengeluh. Ketika merasa lelah atau ingin waktu sendiri, muncul rasa bersalah. Orangtua takut dianggap egois atau gak bertanggung jawab. Padahal, perasaan lelah adalah hal yang manusiawi. Pertanyaannya, apakah cinta harus selalu identik dengan menghapus diri sendiri. Atau justru ada cara lain yang lebih sehat.

1. Akar budaya pengorbanan dalam peran orangtua

ilustrasi orang tua dan anak (pexels.com/Vidal Balielo Jr.)

Budaya kita sejak lama memuliakan pengorbanan orangtua. Cerita tentang ibu yang gak pernah istirahat dan ayah yang selalu bekerja keras sering dijadikan teladan. Nilai ini diwariskan dari generasi ke generasi tanpa banyak dipertanyakan. Mengorbankan diri dianggap sebagai bentuk kasih sayang tertinggi. Semakin besar pengorbanan, semakin tinggi pula nilai moralnya. Gak heran jika banyak orangtua merasa bersalah ketika ingin memprioritaskan diri sendiri.

Namun, nilai budaya ini sering gak disertai dengan ruang refleksi. Pengorbanan jarang dibahas dari sisi dampaknya bagi kesehatan mental orangtua. Banyak orangtua memendam lelah karena takut dicap gak ikhlas. Padahal, kelelahan yang terus ditumpuk bisa berubah menjadi frustrasi. Frustrasi ini sering gak disadari dan justru dilampiaskan pada anak. Di titik ini, pengorbanan gak lagi membawa kebaikan. Ia justru menjadi sumber masalah baru.

2. Perbedaan antara berkorban dan kehilangan diri

ilustrasi orang tua bertengkar (freepik.com/odua)

Berkorban adalah bagian alami dari peran orangtua. Ada waktu, tenaga, dan keinginan pribadi yang memang perlu disesuaikan. Namun, berkorban berbeda dengan kehilangan diri sepenuhnya. Ketika orangtua gak lagi mengenali kebutuhannya sendiri, batas mulai kabur. Semua energi dicurahkan untuk anak tanpa sisa. Dalam jangka panjang, kondisi ini sangat melelahkan.

Kehilangan diri sering ditandai dengan perasaan hampa dan gak dihargai. Orangtua merasa hidupnya hanya berputar pada kewajiban. Keinginan pribadi dianggap gak penting atau bahkan egois. Padahal, kebutuhan diri bukan musuh pengasuhan. Mengabaikannya justru membuat orangtua mudah tersulut emosi. Anak pun merasakan ketegangan yang gak terucap.

3. Dampak pengorbanan berlebihan bagi anak

ilustrasi orang tua menenangkan anak (freepik.com/odua)

Pengorbanan berlebihan gak hanya berdampak pada orangtua, tetapi juga pada anak. Anak bisa tumbuh dengan rasa bersalah yang gak disadari. Ia merasa keberadaannya menjadi sumber kelelahan orangtua. Kalimat seperti 'Mama capek demi kamu' bisa tertanam kuat di benak anak. Anak belajar bahwa cinta selalu dibayar dengan penderitaan.

Dalam jangka panjang, anak bisa meniru pola ini dalam relasi lain. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa mencintai berarti mengorbankan diri sepenuhnya. Anak bisa kesulitan menetapkan batas sehat. Ia mudah merasa bersalah ketika memprioritaskan diri sendiri. Pola ini berpotensi berulang lintas generasi. Padahal, hubungan sehat gak dibangun dari rasa bersalah.

4. Merawat diri bukan tanda egois

ilustrasi dukungan orangtua (freepik.com/freepik)

Merawat diri sering disalahpahami sebagai sikap mementingkan diri sendiri. Banyak orangtua merasa bersalah ketika ingin istirahat atau menikmati waktu pribadi. Padahal, merawat diri adalah kebutuhan dasar. Orangtua yang terisi secara emosional lebih mampu hadir dengan sabar. Energi yang cukup membuat respon terhadap anak lebih tenang.

Ketika orangtua memberi contoh merawat diri, anak belajar hal penting. Anak melihat bahwa kebutuhan diri layak diperhatikan. Ia belajar bahwa mencintai orang lain gak harus mengorbankan diri sepenuhnya. Anak juga belajar mengenali batasnya sendiri. Ini adalah pelajaran hidup yang sangat berharga. Semua itu dimulai dari contoh sederhana di rumah.

5. Menemukan keseimbangan dalam peran orangtua

ilustrasi orang tua mengawasi anak bermain gadget (freepik.com/lifestylememory)

Menjadi orangtua bukan tentang memilih antara anak atau diri sendiri. Keduanya bisa berjalan berdampingan jika dikelola dengan sadar. Keseimbangan ini gak selalu mudah dan bisa berubah di setiap fase. Ada masa ketika anak memang membutuhkan lebih banyak perhatian. Ada juga masa ketika orangtua perlu menarik napas dan mengisi ulang diri.

Keseimbangan dibangun dari komunikasi dan kesadaran diri. Orangtua perlu jujur pada dirinya sendiri tentang batas kemampuan. Mengakui lelah bukan tanda gagal, tetapi tanda mengenal diri. Dengan mengenal batas, orangtua bisa meminta bantuan. Lingkungan yang suportif sangat membantu menjaga keseimbangan ini. Dari sinilah pengasuhan menjadi lebih berkelanjutan.

6. Mengajarkan anak tentang cinta yang sehat

ilustrasi orang tua ngobrol dengan anak (freepik.com/our-team)

Anak belajar tentang cinta pertama kali dari orangtuanya. Cara orangtua memperlakukan diri sendiri menjadi contoh nyata. Jika anak melihat orangtua terus mengorbankan diri dengan penuh luka, ia menyerap pesan itu. Anak belajar bahwa cinta identik dengan menahan diri dan menderita. Pesan ini bisa terbawa hingga dewasa.

Sebaliknya, ketika anak melihat orangtua menjaga diri dengan sehat, pesan yang diterima berbeda. Anak belajar bahwa cinta juga tentang menghargai diri sendiri. Ia melihat bahwa memberi dan menerima bisa seimbang. Anak tumbuh dengan pemahaman relasi yang lebih sehat. Ini menjadi bekal penting dalam kehidupannya kelak. Semua bermula dari cara orangtua memaknai pengorbanan.

Menjadi orangtua harus selalu mengorbankan diri, namun bukan berarti harus kehilangan diri sendiri. Pengorbanan yang sehat lahir dari pilihan sadar, bukan keterpaksaan. Orangtua tetap manusia dengan kebutuhan emosional dan fisik. Mengakui hal ini bukan bentuk kelemahan. Justru dari sinilah pengasuhan yang lebih jujur dimulai.

Ketika orangtua berani merawat diri, anak mendapatkan contoh yang kuat. Anak belajar bahwa cinta gak harus menyakiti diri sendiri. Keluarga pun tumbuh dalam suasana yang lebih hangat dan seimbang. Peran orangtua gak lagi terasa seperti beban tanpa akhir. Ia menjadi perjalanan bersama yang saling menguatkan. Dan di sanalah makna pengorbanan menemukan bentuknya yang paling sehat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team