Keputusan menunda punya anak kini menjadi percakapan yang semakin sering muncul di kalangan milenial. Bukan lagi topik sensitif yang dibicarakan setengah berbisik, melainkan realitas hidup yang dihadapi secara sadar. Di tengah biaya hidup yang terus naik dan masa depan yang terasa rapuh, keputusan ini kerap dipandang sebagai sikap berani, meski tak jarang juga dianggap menyimpang dari norma lama.
Namun di balik pilihan tersebut, tersimpan lapisan cerita yang jauh lebih kompleks. Ada pertimbangan ekonomi, kesiapan mental, trauma generasi, hingga kecemasan global yang ikut membentuk keputusan personal. Pertanyaannya pun bergeser: apakah ini benar-benar pilihan hidup yang lahir dari kesadaran, atau bentuk adaptasi terhadap tekanan zaman yang semakin menuntut? Yuk, simak pembahasannya di bawah ini!
