Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
tangan seorang Ibu yang memegang tangan anaknya
ilustrasi tangan seorang Ibu yang memegang tangan anaknya (pexels.com/Helena Lopes)

Intinya sih...

  • Tekanan ekonomi yang semakin nyata:
    Bagi banyak milenial, keputusan menunda punya anak bukan dimulai dari ideologi, melainkan dari angka. Harga rumah yang melambung, biaya pendidikan yang terus naik, serta penghasilan yang sering tak sebanding dengan beban hidup membuat rencana memiliki anak terasa seperti komitmen finansial jangka panjang yang menakutkan.

  • Kesiapan mental dan trauma antar generasi:
    Milenial tumbuh dengan menyaksikan langsung luka pengasuhan generasi sebelumnya. Pola asuh keras, minim validasi emosional, dan tekanan akademik berlebih meninggalkan jejak trauma yang belum sepenuhnya pulih.

  • Pergeseran makna keluarga dan kebahagiaan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Keputusan menunda punya anak kini menjadi percakapan yang semakin sering muncul di kalangan milenial. Bukan lagi topik sensitif yang dibicarakan setengah berbisik, melainkan realitas hidup yang dihadapi secara sadar. Di tengah biaya hidup yang terus naik dan masa depan yang terasa rapuh, keputusan ini kerap dipandang sebagai sikap berani, meski tak jarang juga dianggap menyimpang dari norma lama.

Namun di balik pilihan tersebut, tersimpan lapisan cerita yang jauh lebih kompleks. Ada pertimbangan ekonomi, kesiapan mental, trauma generasi, hingga kecemasan global yang ikut membentuk keputusan personal. Pertanyaannya pun bergeser: apakah ini benar-benar pilihan hidup yang lahir dari kesadaran, atau bentuk adaptasi terhadap tekanan zaman yang semakin menuntut? Yuk, simak pembahasannya di bawah ini!

1. Tekanan ekonomi yang semakin nyata

ilustrasi menyisihkan uang untuk dana darurat (pexels.com/Karola G)

Bagi banyak milenial, keputusan menunda punya anak bukan dimulai dari ideologi, melainkan dari angka. Harga rumah yang melambung, biaya pendidikan yang terus naik, serta penghasilan yang sering tak sebanding dengan beban hidup membuat rencana memiliki anak terasa seperti komitmen finansial jangka panjang yang menakutkan.

Kondisi ini membuat memiliki anak bukan lagi sekadar soal kesiapan mental, tapi kesiapan sistem hidup. Banyak milenial memilih menunda sampai kondisi ekonomi terasa lebih stabil, meski dalam hati sadar bahwa stabilitas itu sering kali terasa seperti garis yang terus menjauh.

2. Kesiapan mental dan trauma antar generasi

ilustrasi keluarga yang sedang makan malam bersama di meja makan (pexels.com/ fauxels)

Milenial tumbuh dengan menyaksikan langsung luka pengasuhan generasi sebelumnya. Pola asuh keras, minim validasi emosional, dan tekanan akademik berlebih meninggalkan jejak trauma yang belum sepenuhnya pulih.

Kesadaran ini membuat banyak milenial enggan mengulang siklus yang sama. Mereka ingin hadir sebagai orang tua yang lebih sehat secara emosional, atau memilih tidak menjadi orang tua sama sekali demi menghentikan rantai luka yang tak kasatmata.

3. Pergeseran makna keluarga dan kebahagiaan

ilustrasi keluarga yang berfoto bersama (pexels.com/Askar Abayev)

Keluarga tidak lagi selalu didefinisikan oleh kehadiran anak. Bagi sebagian milenial, kebahagiaan hadir dalam bentuk pasangan, komunitas, karya, atau kebebasan menjalani hidup sesuai nilai pribadi.

Pilihan ini sering disalahpahami sebagai egoisme, padahal bagi banyak milenial, ini adalah bentuk kejujuran pada diri sendiri. Mereka tidak ingin menghadirkan anak ke dalam hidup yang belum sepenuhnya siap memberi ruang tumbuh yang sehat.

4. Ketidakpastian masa depan dan kecemasan global

ilustrasi pasangan kekasih yang bersantai di taman (pexels.com/RODNAE Productions)

Perubahan iklim, krisis ekonomi, dan ketidakstabilan sosial global membuat masa depan terasa rapuh. Pertanyaan seperti “dunia seperti apa yang akan mereka tempati?” menjadi beban moral yang nyata.

Kecemasan ini membuat keputusan punya anak tak lagi bersifat personal semata, melainkan etis dan eksistensial. Menunda atau menolak menjadi cara milenial berdamai dengan rasa tanggung jawab terhadap generasi berikutnya.

5. Tekanan sosial dan hak atas pilihan hidup

ilustrasi sepasang kekasih yang berpegangan tangan (pexels.com/Anna Shvets)

Meski wacana childfree makin terbuka, tekanan sosial tetap kuat. Pertanyaan keluarga, stigma lingkungan, dan ekspektasi budaya membuat keputusan ini sering kali harus terus dijelaskan dan dipertahankan.

Di sinilah batas antara pilihan dan keterpaksaan menjadi kabur. Banyak milenial berjuang mempertahankan hak atas tubuh dan masa depannya sendiri, sambil belajar bahwa hidup yang bertanggung jawab tidak selalu berarti mengikuti skrip lama.

Menunda atau menolak punya anak bagi milenial bukan keputusan yang diambil secara ringan. Ia lahir dari proses berpikir panjang, refleksi diri, dan keinginan untuk bertanggung jawab atas kehidupan yang akan dihadirkan. Di titik ini, keputusan tersebut bukan tentang menolak peran sebagai orang tua, melainkan tentang memilih waktu, kesiapan, dan kondisi yang lebih manusiawi.

Pada akhirnya, setiap generasi memiliki tantangan dan jalannya sendiri. Milenial hidup di era yang menuntut fleksibilitas, kesadaran diri, dan keberanian mengambil keputusan yang tidak selalu populer. Entah itu pilihan hidup atau tekanan zaman, yang paling penting adalah ruang untuk saling memahami, bukan saling menghakimi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team