Nilai anak yang turun sering kali menjadi pemicu emosi bagi orangtua. Rasa kaget, kecewa, dan khawatir bercampur menjadi satu dalam waktu singkat. Banyak orangtua spontan marah karena menganggap nilai sebagai cerminan usaha dan masa depan anak. Reaksi ini terasa wajar, apalagi jika orang tua sudah merasa mendampingi dan berkorban banyak. Namun, pertanyaan pentingnya adalah apakah kemarahan tersebut benar-benar membantu anak.
Di sisi lain, anak sering memandang nilai dari sudut yang berbeda. Nilai jelek bisa berarti soal yang sulit, kondisi sedang gak baik, atau sekadar kurang paham materi. Saat kemarahan datang lebih dulu, anak bisa merasa diserang, bukan dibimbing. Hubungan emosional pun berpotensi terganggu. Dari sinilah penting memahami posisi marah dalam proses mendidik anak.
