Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Penyebab Anak Gak Bisa Diam dan Penuh Energi Seharian
ilustrasi anak bermain boneka tangan (pexels.com/ivansamkov)

  • Anak dengan temperamen aktif secara alami suka bergerak, mengekspresikan diri lewat fisik, dan penuh energi.

  • Anak butuh aktivitas yang bisa menyalurkan rasa ingin tahu sekaligus energi fisik mereka untuk lebih fokus.

  • Belum bisa mengatur emosi dengan baik karena anak kecil belum memiliki kontrol diri maupun kemampuan kognitif untuk berhenti melakukan sesuatu yang mereka sukai.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Setiap orangtua pasti pernah merasa kewalahan saat melihat anaknya seolah gak ada habisnya berlari, melompat, atau bergerak ke sana kemari. Saking aktifnya, kadang anak terlihat sulit diam bahkan ketika sudah waktunya istirahat. Tapi tenang, kondisi ini sebenarnya umum terjadi dan bisa dijelaskan lewat faktor perkembangan, emosi, maupun lingkungan.

Anak yang penuh energi bukan berarti selalu bermasalah. Justru di balik gerakannya yang tak ada henti, ada banyak hal yang menunjukkan rasa ingin tahu, perkembangan otak, hingga cara mereka beradaptasi dengan dunia sekitar. Yuk, simak beberapa penyebab anak terlihat gak bisa diam seharian berikut ini!

1. Temperamen alami yang memang aktif

ilustrasi anak bermain dengan anak anjing (pexels.com/katyawolf)

Beberapa anak memang terlahir dengan temperamen yang lebih aktif dibandingkan anak lain. Mereka cenderung suka bergerak, penasaran dengan banyak hal, dan cepat bosan kalau hanya duduk diam. Energi besar ini biasanya terlihat sejak usia balita.

Dikutip Psychology Today, yang ditulis oleh Robert Berezin, MD, seorang Psikiater, anak dengan tempramen aktif secara alami suka bergerak, mengekspresikan diri lewat fisik, dan penuh energi. Jadi, jangan heran kalau si kecil terlihat seolah punya baterai cadangan yang gak habis-habis. Orangtua perlu memahami ini sebagai bagian dari kepribadian bawaan mereka.

2. Anak butuh cara untuk menyalurkan energinya

ilustrasi anak kecil bermain (pexels.com/michaelmorse)

Anak yang penuh energi sering merasa gak tenang kalau terlalu lama diam di satu tempat. Mereka butuh aktivitas yang bisa menyalurkan rasa ingin tahu sekaligus energi fisik mereka. Kalau tidak, biasanya mereka jadi lebih rewel dan susah dikendalikan.

Anak-anak yang energinya tinggi sebenarnya butuh kegiatan yang lebih terstruktur untuk menyalurkan kelebihan energi itu. Dengan kata lain, bermain di luar, olahraga ringan, atau kegiatan kreatif bisa membantu mereka lebih fokus. Jadi, bukan berarti anak nakal, tapi mereka memang butuh ruang untuk bergerak.

3. Rasa ingin tahu yang besar bikin mereka terus aktif

ilustrasi anak kecil bermain (pexels.com/cottonbro)

Balita dan anak usia dini punya rasa ingin tahu yang tinggi terhadap dunia sekitarnya. Mereka sering bergerak ke sana-sini bukan hanya karena energinya banyak, tapi juga karena ingin mengeksplorasi hal baru. Aktivitas ini justru menjadi bagian penting dalam proses belajar mereka.

“Dunia sangat merangsang bagi anak usia 2–3 tahun dan mereka senang mengeksplorasi,” ujar Kyle D. Pruett, M.D., profesor psikiatri anak di Yale School of Medicine, dilansir Parents.

Anak kecil belajar lewat bergerak, menyentuh, dan mencoba hal-hal baru. Jadi, ketika anak terlihat gak bisa diam, sebenarnya itu tanda bahwa otaknya sedang bekerja keras memproses informasi. Alih-alih melarang, orangtua bisa mengarahkan energi ini ke aktivitas yang aman dan bermanfaat.

4. Belum bisa mengatur emosi dengan baik

ilustrasi seorang anak menangis (pexels.com/jepgambardella)

Selain karena fisik, anak yang terlihat sangat aktif juga bisa dipengaruhi oleh kondisi emosinya. Mereka mungkin melompat, berteriak, atau berlari sebagai cara untuk mengekspresikan perasaan. Hal ini wajar karena anak kecil belum sepenuhnya mampu mengelola emosinya.

“Balita dan anak prasekolah belum memiliki kontrol diri maupun kemampuan kognitif untuk berhenti melakukan sesuatu yang mereka sukai,” kata Susan J. Schwartz, direktur klinis Institute for Learning and Academic Achievement di New York University, dilansir Parents.

Anak-anak sering menggunakan tubuh mereka untuk mengekspresikan emosi, karena kemampuan verbalnya belum matang. Jadi, jangan buru-buru menganggap mereka nakal, karena bisa jadi mereka sedang menyalurkan rasa senang, marah, atau frustrasi melalui gerakan fisik.

5. Pola tidur dan kebutuhan tubuh yang berbeda

ilustrasi anak balita bermain bersama bayi (pexels.com/yelizkaygusuz)

Beberapa anak memang tampak memiliki energi yang tidak ada habisnya, meski sudah melewati aktivitas panjang seharian. Mereka bisa tetap aktif, reaktif, dan sulit diarahkan untuk beristirahat. Hal ini sering membuat orangtua merasa kewalahan, padahal sebenarnya ritme biologis tubuh anak sangat berpengaruh pada tingkat energi mereka.

Seperti dijelaskan dalam laporan The Science of Healthy Baby Sleep dari BBC, jika anak dipaksa tidur di waktu yang secara biologis tidak tepat, mereka cenderung menolak. Anak bisa keluar kamar, meminta minum, atau tantrum karena tubuhnya memang belum siap istirahat. Jadi, perilaku ini bukan semata tanda keras kepala, melainkan respons alami tubuh mereka.

Jadi, anak yang gak bisa diam bukan berarti nakal atau sulit diatur, ya. Bisa jadi mereka memang punya temperamen aktif, sedang mengeksplorasi dunia, atau mengekspresikan emosinya. Yang terpenting, orangtua bisa memberikan ruang, arahan, dan kegiatan yang tepat agar energi besar itu tersalurkan dengan baik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team