4 Penyebab Anak Mudah Bersikap Kasar, Orangtua Harus Waspada!

- Anak mudah bersikap kasar karena kesulitan mengelola emosi, memerlukan bimbingan untuk menyalurkan emosi dengan positif.
- Lingkungan yang kurang kondusif, seperti pertengkaran dan kekerasan, dapat membuat anak meniru sikap kasar.
- Kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orangtua serta pola asuh yang tidak konsisten juga bisa memicu perilaku kasar pada anak.
Perilaku kasar pada anak memang sering membuat orangtua merasa khawatir dan bingung dalam bersikap. Hal ini karena memang perilaku tersebut bisa muncul dalam bentuk ucapan atau tindakan yang bisa saja menyakiti perasaan orang lain.
Perilaku kasar yang dilakukan anak tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang ada. SImaklah beberapa penyebab berikut ini yang bisa membuat anak mudah bersikap kasar, sehingga memerlukan pendekatan dan didikan yang lebih tepat.
1. Kesulitan dalam mengelola emosinya

Anak yang belum mampu mengelola emosi dengan baik biasanya sangat rentan mengekspresikan perasaan lewat cara yang kasar. Rasa marah, kecewa, atau frustasi kerap diluapkan melalui tindakan agresif yang bisa sangat merugikan.
Kondisi ini pada umumnya terjadi karena kemampuan pengendalian diri anak masih berkembang, sehingga memerlukan waktu. Bimbingan yang baik sangat diperlukan agar anak bisa belajar bagaimana caranya menyalurkan emosi melalui cara yang positif.
2. Lingkungan yang kurang kondusif

Lingkungan rumah atau sekolah selalu dipenuhi dengan konflik ternyata bisa memengaruhi perilaku anak secara signifikan. Anak biasanya akan selalu meniru sikap kasar yang mungkin sering dilihat, didengar, atau bahkan dialaminya.
Paparan pertengkaran, konflik, atau kekerasan dapat membuat anak menganggap bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar dan boleh dilakukan. Akibatnya justru akan membuat anak lebih mudah dalam bersikap kasar tanpa berpikir dua kali.
3. Kurangnya perhatian dan kasih sayang

Anak yang merasa kurang diperhatikan oleh orangtua biasanya rentan menunjukkan perilaku kasar sebagai bentuk dalam mencari perhatian. Tindakan ini dilakukan agar keberadaannya diakui oleh orang lain dan memeroleh perhatian yang diinginkan.
Kurangnya kedekata emosional juga turut membuat anak uslit untuk merasa aman dan nyaman di rumah. Kondisi ini jelas bisa memicu berbagai perilaku negatif yang dilakukan anak dalam kesehariannya tersebut.
4. Pola asuh yang tidak konsisten

Pola asuh yang cenderung berubah-ubah justru bisa membuat anak mudah bingung terhadap aturan atau batasan yang ditetapkan. Ketidakkonsistenan yang ada bisa memicu anak bertindak sesuka hati tanpa memahami bahwa hal tersebut buruk.
Tanpa aturan yang jelas dan sesuai, maka anak akan mengalami kesulitan dalam memahami perilaku yang baik dan dapat diterima. Akibat dari hal ini, anak akan lebih mudah dalam menunjukkan sikap kasar yang menyulitkannya.
Perilaku kasar pada anak merupakan sinyal adanya kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Tidak heran jika orangtua harus membantu anak dalam mengatasi sikap kasar agar bisa berkembang dengan lebih baik. Dukungan lingkungan yang positif akan membantu anak untuk lebih tenang dan penuh empati.


















