Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ayah dan Ibu, Dua Peran Satu Tujuan: Kunci Pulihkan Emosi Anak
Ilustrasi orangtua dan anak sarapan bersama (freepik.com/freepik)

Memulihan emosi anak bukan sesuatu yang bisa dilakukan secara instan. Melainkan membutuhkan proses yang bertahap. Ketika anak mengalami luka batin baik karena konflik, tekanan lingkungan, atau pengalaman negatif, mereka butuh ruang aman untuk memahami dan mengelola perasaannya.

Di sinilah peran orangtua, khususnya ayah dan ibu, menjadi sangat krusial dalam membantu anak bangkit secara emosional. Ketika ayah dan ibu hadir secara emosional, anak memiliki fondasi yang lebih kokoh untuk pulih dan berkembang.

1. Peran ibu: Sumber kehangatan dan regulasi emosi awal

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Kindel Media)

Ibu sering menjadi figur pertama yang dikenali anak dalam kehidupan emosionalnya. Kehangatan, respons, dan cara ibu menanggapi emosi anak sangat memengaruhi bagaimana anak belajar memahami perasaannya sendiri. Jadi penting untuk membantu anak meregulasi emosinya.

"Banyak bukti menunjukkan bahwa respons orangtua terhadap ekspresi emosi anak memiliki pengaruh yang luas terhadap kompetensi sosial-emosional anak, serta kesehatan hubungan orangtua dan anak," tulis dalam jurnal berjudul Parental emotion socialisation of young children and the mediating role of emotion regulation dikutip dari Tandfonline.

"Respons yang mendukung memfasilitasi ekspresi emosi, komunikasi, dan regulasi emosi yang tepat," lanjutnya.

2. Peran ayah: Membangun kepercayaan diri dan stabilitas emosi

ilustrasi ayah dan anak perempuannya (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Jika ibu berperan dalam kehangatan emosional, ayah sering menjadi figur yang membantu anak menghadapi dunia luar. Peran ayah tidak hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai sumber dukungan emosional yang membangun keberanian dan kepercayaan diri anak.

Dalam studi berjudul Father involvement and emotion regulation during early childhood: a systematic review yang diterbitkan National Library of Medicine, keterlibatan ayah, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, memengaruhi perkembangan anak. Jadi, keterlibatan ayah yang hangat dan responsif mampu memperkuat regulasi emosi dan keterampilan sosial anak.

"Keterlibatan ayah diakui sebagai faktor yang memengaruhi perkembangan kapasitas regulasi emosi pada anak, yang merupakan proses sentral dalam perkembangan sosial-afektif awal mereka," lanjut dalam hasil studi tersebut.

3. Kolaborasi ayah dan ibu: Kunci pemulihan emosi yang seimbang

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Anna Shvets)

Pemulihan emosi anak akan lebih optimal ketika ayah dan ibu bekerja sebagai tim. Anak membutuhkan kombinasi antara kehangatan, empati, batasan, dan arahan yang seimbang dari kedua orangtua. Jadi, bisa membantu anak melalui masa sulit mereka.

"Reaksi mendukung yang melibatkan orangtua untuk mengenali dan memvalidasi, secara konstruktif membimbing anak-anak melalui emosi sulit mereka," jelas Xi Chen, profesor madya psikologi dikutip Child and Family Blog.

Ketika ayah dan ibu memberikan pesan yang konsisten, misalnya sama-sama mendukung, tidak saling menyalahkan, dan hadir secara emosional, anak akan merasa aman. Rasa aman inilah yang menjadi dasar utama dalam proses penyembuhan luka batin anak.

4. Hubungan orangtua dan anak: Fondasi pemulihan emosi

Ilustrasi orangtua dan anak sarapan bersama (freepik.com/freepik)

Lebih dari sekadar peran individu, kualitas hubungan antara orangtua dan anak menjadi faktor utama dalam pemulihan emosi. Anak yang memiliki hubungan dekat dengan orangtuanya cenderung lebih mampu memahami dan mengelola emosinya.

"Penelitian menunjukkan bahwa reaksi orangtua yang mendukung terhadap emosi negatif anak-anak dikaitkan dengan hasil positif, seperti pengaturan emosi yang lebih baik, lebih sedikit masalah perilaku, dan perilaku prososial yang lebih kuat," kata Xi Chen.

Jadi ketika hubungan ini sehat dan penuh dukungan, anak tidak hanya pulih dari luka emosional. Tetapi mereka juga tumbuh menjadi individu yang lebih stabil secara psikologis.

Peran ayah dan ibu dalam pemulihan emosi anak bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda namun saling melengkapi. Ketika keduanya hadir secara emosional, anak memiliki ruang yang sehat untuk menyembuhkan dirinya.

Editorial Team