Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

4 Perilaku Buruk yang Tanpa Disadari Bisa Memicu Perceraian

ilustrasi pasangan ingin melepas cincin pernikahan (freepik.com/freepik)
ilustrasi pasangan ingin melepas cincin pernikahan (freepik.com/freepik)

Membangun rumah tangga yang harmonis dan langgeng tidaklah mudah. Setiap pasangan memiliki pengalaman pahit dan manis yang menjadi bagian penting dalam perjalanan hubungan mereka.

Pertengkaran-pertengkaran kecil kadang bisa menjadi langkah awal menuju kedewasaan. Namun, perilaku-perilaku buruk yang tampaknya sepele, jika dibiarkan dapat mendorong terjadinya perceraian.

Bagi pasangan yang sudah menikah, penting mengetahui perilaku buruk apa saja yang dapat memicu terjadinya perceraian. Pada kesempatan ini, IDN Times telah merangkumnya khusus untuk kamu.

1. Kritik yang tidak membangun

ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/RDNE Stock project)
ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/RDNE Stock project)

Pada dasarnya kritik ditunjukkan untuk memberitahu apa yang salah, sehingga dapat diperbaiki. Namun, jika kritik disampaikan dengan cara yang kurang tepat, maka hal itu akan bersifat menjatuhkan.

Kondisi serupa juga dapat terjadi dalam hubungan pernikahan, ketika suami atau istri menyampaikan kritik dengan cara menyerang kepribadian, alih-alih fokus pada persoalan yang sebenarnya. Perilaku ini bukan hanya dapat membuatmu dan pasangan merasa tidak didengarkan, tetapi juga menimbulkan perasaan tidak nyaman saat berada di dekat satu sama lain.

“Kritik yang sebenarnya adalah menyampaikan keluhan spesifik mengenai perilaku pasangan, bukan menyerang kepribadiannya. Menggunakan pernyataan seperti ‘saya merasa’ dapat membantu membingkai situasi sekaligus meminimalkan risiko yang membuat pasanganmu merasa diserang,” ujar Marni Feuerman, LCSW, LMFT, dikutip dari Verywell Mind.

2. Meremehkan

ilustrasi pasangan berdebat (pexels.com/Ketut Subiyanto)
ilustrasi pasangan berdebat (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Menurut John Gottman, seorang psikolog, pakar hubungan, dan pendiri Institut Gottman, sikap meremehkan termasuk salah satu pemicu utama sebuah perceraian. Sikap ini sering kali muncul dalam bentuk ejekan, cemoohan, sarkasme, dan tindakan memutar mata.

Sikap meremehkan akan mengikis kepercayaan diri dan rasa aman dalam suatu hubungan. Kamu bukan hanya merasa direndahkan, tetapi juga tidak dihormati sebagai seorang pasangan.  

“Karena tujuan utamamu adalah untuk didengar. Maka kamu harus menyampaikan pesan dengan cara yang benar,” kata Christine Wilke, terapis pernikahan yang berbasis di Easton, Pennsylvania, dilansir Huffpost. “Budaya saling menghormati, menghargai, toleransi, dan kebaikan adalah persyaratan mendasar dalam pernikahan,” imbuh Feuerman.

3. Sikap defensif

ilustrasi pasangan marah-marah (pexels.com/Timur Weber)
ilustrasi pasangan marah-marah (pexels.com/Timur Weber)

Sikap defensif biasanya muncul ketika seseorang merasa malu, takut, cemas, atau tidak aman. Perilaku ini sering dimanfaatkan sebagai bentuk manipulasi agar dapat memposisikan diri sebagai korban, meski kenyaatnnya kamulah yang menjadi sumber masalah.

Perilaku defensif terjadi ketika kamu menyangkal fakta yang diungkapkan oleh pasangan. Alih-alih merasa bersalah, kamu justru adu nasib seolah-olah kamu adalah pihak yang paling dirugikan.

Sikap defensif yang dilakukan secara terus-menerus tanpa disadari dapat menurunkan kualitas hubungan. Gak heran, jika perilaku tersebut merupakan faktor terbesar pemicu perceraian.

4. Menutup diri

ilustrasi pasangan sedang marah (freepik.com/drobotdean)
ilustrasi pasangan sedang marah (freepik.com/drobotdean)

Ketika kamu memutuskan menempuh jenjang pernikahan, di situlah kamu berkomitmen untuk saling percaya dan terbuka dengan pasangan. Komunikasi yang baik adalah kunci dalam membangun hubungan yang harmonis. Namun, menerapkan komunikasi yang baik dibutuhkan banyak usaha.

Feuerman menuliskan bahwa menghentikan komunikasi sepenuhnya sebagai strategi menghindari konflik disebut sikap menutup diri. Sikap ini bisa berupa silent treatment, mengubah topik pembicaraan, atau pergi dalam keadaan marah.

Sikap defensif mungkin merupakan respons negatif yang muncul saat kamu merasa lelah atau tidak mampu menenangkan diri sendiri. Namun, ingatlah bahwa menjauh dan menghindari konflik secara berulang adalah tindakan yang bisa memecah belah hubunganmu saat ini.

Itu tadi beberapa perilaku buruk yang bisa menjadi pemicu perceraian. Semoga membantu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Latest in Life

See More

[QUIZ] Dari Tanggal Lahirmu, Kami Tebak Tempat Kamu akan Bertemu Jodohmu

17 Jan 2026, 12:20 WIBLife