Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pesan Moral Parenting dari Broken Strings Ebook Aurelie Moeremans
Aurelie dan orangtuanya (instagram.com/aurelie)

Praktik child grooming bukan hal yang baru saja terjadi. Aurelie Moeremans lewat buku berjudul Broken Strings mengungkap kisah pahitnya semasa remaja sebagai korban child grooming. Bukan untuk meromantisasi child grooming, Aurelie terus menyampaikan baik di unggahan instagram maupun broadcast channel bahwa ia sengaja membagikan bukunya secara gratis supaya gak ada perempuan lain yang mengalami hal serupa dengannya.

Dilansir Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), child grooming bisa disebut modus kejahatan di mana pelaku akan mendekati anak yang rentan secara emosional. Mereka akan membangun kepercayaan untuk memanipulasi dan mengeksploitasi. Maka dari itu, peran orangtua dan keluarga sebenarnya sangat krusial. Ini pesan moral parenting yang bisa kamu teladani dari Broken Strings.

1. Orangtua perlu menyadari bahwa anak dan remaja rentan mencari validasi di tempat yang salah

buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans (instagram.com/aurelie)

Ada peran orangtua dan keluarga yang terlewat hingga anak bisa mengalami child grooming. Hal ini disampaikan oleh Elizabeth L. Jeglic, Ph.D yang meneliti mengenai perilaku pelecehan seksual anak di bawah umur. Profesor psikologi di John Jay College of Criminal Justice ini menjelaskan bahwa ada banyak indikator atau tanda pada anak-anak yang mengalami child sexual grooming.

Dalam jurnalnya berjudul Identification of red flag child sexual grooming behaviors (2023), Elizabeth menyebut child grooming sering terjadi kepada anak-anak yang kekurangan pengawasan dari orangtuanya. Dengan kata lain, orangtua atau keluarga gak bisa menjadi sumber daya yang tepat bagi anak.

Sementara, anak gak dapat pengawasan yang memadai dari orangtuanya. Dalam jurnalnya, Elizabeth mengatakan bahwa anak yang gak mendapatkan kehadiran orangtua secara emosional juga menjadi faktor risiko yang dapat dieksploitasi. Pasalnya, anak rentan mencari validasi yang salah. Ketika anak sedang rapuh atau membutuhkan perhatian lebih, pelaku bisa datang dan memenuhi kebutuhan tersebut. Akhirnya, anak gak menyadari bahwa ia menerima modus kejahatan yang dibungkus rasa sayang.

Kerentanan psikologis anak itu sendiri, seperti memiliki harga diri rendah, merasa kesepian atau terisolasi, bermasalah (yaitu, memiliki masalah psikologis atau perilaku), dan merasa membutuhkan, tidak diinginkan, dan tidak dicintai, juga diidentifikasi sebagai pembeda antara mereka yang mengalami pelecehan saat masih anak-anak dan mereka yang tidak.

2. Orangtua perlu hadir seutuhnya untuk anak dengan mendengar tanpa menghakimi

Aurelie dan orangtuanya (instagram.com/aurelie)

Penting bagi anak memiliki tangki cinta yang penuh dari orangtuanya. Ketika anak paham bahwa cinta dari orangtua itu tanpa syarat, maka mereka akan tetap bisa "pulang" ke orangtuanya meski melakukan kesalahan yang fatal. Cerita Aurelie menunjukkan bagaimana anak ingin orangtuanya bahagia, begitu juga orangtua yang ingin anaknya bahagia.

Namun, ketika anak merasa gak nyaman, anak cenderung tidak mengomunikasikan hal itu kepada orangtua. Untuk itu, penting membangun hubungan yang secure antara orangtua dan anak. Elizabeth L. Jeglic mengatakan bahwa orangtua harus mengatakan pada anak bahwa ia akan percaya dan menanggapi kekhawatiran anaknya dengan serius.

Buat anak merasa bahwa rumah dan keluarga adalah tempat yang aman untuknya. Elizabeth menyebut komunikasi yang terbuka antara orangtua dan anak sangat direkomendasikan supaya orangtua dapat melindungi anak dari pelecehan seksual.

Seperti yang dialami Aurelie, ia mulai bisa bangkit kembali dan terlepas dari hubungan toxic ketika berani terbuka kepada ibunya. Selama ini, Aurelie gak pernah menceritakan perilaku Bobby (tokoh dalam Broken Strings) karena takut dengan respons ibunya.

3. Gak ada keluarga yang sempurna

Aurelie dan suaminya, Tyler Bighenho (instagram.com/aurelie)

Cerita Aurelie mengingatkan semua orangtua dan anak bahwa gak ada keluarga yang sempurna. Ada orangtua yang baru pertama kali merasakan peran baru, begitu juga anak yang belajar bagaimana caranya menjadi anak yang baik. Ini menjadi tugas kedua belah pihak untuk saling hadir untuk satu sama lain.

Ketika komunikasi dan keterbukaan itu ada, maka orangtua juga akan tahu dan mengerti apa yang anaknya butuhkan. Sejak Aurelie menceritakan hubungan toxic dan segala perilaku yang cukup kejam dari Bobby, Aurelie merasa keluarga bisa menjadi tempat amannya.

Ia gak pernah lagi pergi sendirian, selalu ada papa atau sopir yang menemaninya ketika syuting. Ibunda Aurelie juga mulai mencari tahu apa yang terjadi dengan anaknya.

Dari kisah Aurelie, kita semua bisa belajar untuk berhati-hati mempergunakan kepercayaan. Orangtua juga harus memantau gerak-gerik maupun lingkungan pergaulan anak. Jangan biarkan tangki cinta anak kosong, lalu disalahgunakan oleh orang lain.

Editorial Team