"Dan kalau cerita ini bisa sedikit aja nemenin kalian, bikin ngerasa dipahami, atau gak sendirian, itu udah lebih dari cukup buat aku," tuturnya dalam broadcast channel instagram pribadinya.
Pelajaran dari Broken Strings Aurelie, Child Grooming dan Manipulasi

Aurelie Moeremans menulis memoar pertamanya berjudul, Broken Strings. Kisah yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadinya tersebut, salah satunya menceritakan hubungan toxic serta relasi kuasa yang dialami oleh Aureli semasa belia dengan seseorang yang disebut "Bobby".
Aurelie menuturkan alasannya catatan non fiksi berisi pengalaman personal sebagai korban child grooming. Melalui catatan yang dirilis dalam versi bahasa Inggris dan Indonesia ini, ia berharap akan ada lebih banyak perempuan yang dapat terhindar dari jerat hubungan serupa dirinya.
Ia ingin ada lebih banyak anak dan perempuan yang 'terselamatkan' dari relasi kuasa dan kekerasan seksual, sebagaimana dulu ia pernah terjebak dalam konflik semacam itu. Memoar yang dirangkum dalam 220 lembar ini, diharapkan dapat menjadi bahan refleksi bagi pembaca. Selain itu, pemain film "Story of Kale" ini juga berharap agar penyintas dapat keluar dari permasalahan toxic relationship, child grooming, sexual abusive dan lain sebagainya.
Aurelie berupaya untuk meng-encourage lebih banyak anak muda, perempuan, dan penyintas untuk terlepas dari jerat relasi kuasa dan hubungan manipulatif. Tanpa bermaksud menghakimi pihak mana pun, buku ini diharap dapat 'membersamai' dan menggerakkan, lebih memahami dirinya. Inilah beberapa pelajaran berharga yang akan didapatkan setelah membaca buku Broken Strings karya Aurelie
1. Membangun kesadaran akan child grooming

Child grooming menjadi tema utama dalam buku tersebut. Sayangnya, realitas di Indonesia membuktikan, kasus ini masih rentan terjadi di Indonesia. Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) tahun 2024 oleh KemenPPPA mencatat, 1 dari 4 perempuan berusia 15-64 tahun setidaknya pernah mengalami kekerasan fisik dan seksual. Namun, hanya sebagian kecil yang berani untuk melapor.
Child grooming merupakan hubungan manipulatif yang dilakukan orang dewasa kepada anak di bawah umur. Pelaku child grooming akan menarik korban dengan memberikan cinta dan menariknya dalam hubungan romantis demi melakukan aktivitas seksual, hal ini dikutip dari Magen Yeladim International Child Safety Institute.
Child grooming terjadi karena proses yang disengaja, pelaku melakukan manipulasi lewat perhatian, pujian, yang membuat penyintasnya luluh secara emosional. Di sisi lain, child grooming dialami oleh anak-anak, membuat penyintas tidak memiliki kemampuan untuk mengenali relasi kuasa. Di usia belia, anak-anak masih belum sepenuhnya memiliki kesadaran dalam membentuk keputusan, akibatnya, anak-anak yang terjebak dalam pola relasi kuasa rentan alami rasa cemas dan depresi.
Broken Strings menjadi memoar yang menuliskan perjalanan Aurelie sebagai penyintas child grooming dan toxic relationship. Dalam memoar tersebut, Aurelie berupaya untuk membangun kesadaran dan peringatan melalui sudut pandang penyintas, akan pengalaman pahit dari hubungan tersebut.
Kesadaran akan tumbuh, orang-orang mulai mengidentifikasi apakah hubungan yang tengah dilakoninya termasuk relasi yang sehat atau justru salah satu pihak memiliki kuasa yang lebih besar. Hal ini akan membuka awareness akan sex education bagi anak, termasuk mengenai kejahatan seksual yang mungkin dapat menimpanya.
2. Hindari relasi kuasa dan manipulasi

Melalui catatannya dalam Broken Strings, Aurelie menyoroti bagaimana Ia menjalani pengalaman pahit sebagai remaja yang mengalami kekerasan fisik dan psikis oleh orang dewasa. Dalam hubungan tersebut, terjadi relasi kuasa dan hubungan manipulatif yang tentunya mengganggu kesehatan mental hingga fisik.
Kasus kekerasan tak hanya dialami oleh Aurelie. Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) yang dirilis KemenPPPA, mencatat, hingga 3 Juli 2025, setidaknya telah terjadi 14.039 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Melalui tulisan yang jujur, dalam, dan tulus dari Aurelie, Ia berharap lebih banyak penyintas memiliki kesadaran untuk membongkar pola kekerasan dan manipulasi.
Buku ini menjadi catatan untuk membersamai penyintas yang mengalami hal serupa dengan dirinya. Memoar hidup Aurelie juga dapat membangun refleksi, khususnya bagi banyak perempuan agar tidak terjebak dalam hubungan manipulatif dengan relasi kuasa yang dominan.
3. Meningkatkan peran keluarga dalam isu child grooming

Isu utama yang diangkat dari buku Broken Strings tak terlepas dari pengalaman hidup Aurelie yang masih sangat muda. Seorang remaja masih belum memiliki kemampuan berpikir yang matang, terlebih dalam mengambil keputusan. Oleh karenanya peran orangtua sangat krusial.
Bagi orangtua, penting untuk memahami bahwa pola pikir dan perilaku anak masih sangat labil, sesuai dengan usia perkembangannya. Dalam perjalanan Aurelie, Ia juga membagikan bagaimana peran orangtua dan konflik yang dihadapi saat usianya masih terbilang muda.
Orangtua hendaknya membangun kepercayaan dan terbuka untuk mendengarkan berbagai emosi yang dialami anak. Sudah sepatutnya, ibu atau ayah sebagai orang dewasa memberikan edukasi terkait relasi anak dengan orang asing maupun orang dewasa di sekitarnya. Bagaimana kedekatan atau hubungan yang sehat seharusnya terjadi.
Sedini mungkin, anak juga telah dibekali oleh edukasi seks. Selain itu, sepatutnya orangtua memberikan ruang aman bagi anak, meningkatkan rasa percaya diri, serta tidak membiarkan anak merasa kesepian. Pasalnya, menurut Magen Yeladim International Child Safety Institute, child grooming kerap dialami oleh anak yang mengalami konflik dalam keluarga atau minim perlindungan orangtua.


















