Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Renungan setelah Kumpul Lebaran, Saling Sayang meski Berjauhan

7 Renungan setelah Kumpul Lebaran, Saling Sayang meski Berjauhan
ilustrasi seorang perempuan (pexels.com/Angel Ferrer)
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti refleksi setelah Lebaran, tentang pentingnya keluarga meski hidup mandiri di perantauan dan bagaimana momen mudik mengingatkan arti kebersamaan.
  • Ditekankan bahwa tidak semua orang memiliki keluarga harmonis, namun empati dan saling pengertian tetap dibutuhkan agar hubungan tetap hangat meski jarang bertemu.
  • Setelah kumpul Lebaran usai, pembaca diajak kembali fokus pada kehidupan di rantau sambil menjaga semangat serta kenangan hangat bersama keluarga sebagai sumber motivasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Sekarang kamu mungkin sudah kembali ke rantau dan beraktivitas seperti biasa. Atau, dirimu masih dalam perjalanan meninggalkan kampung halaman. Setelah beberapa hari kamu tenggelam dalam kehangatan suasana Lebaran bersama keluarga biasanya ada rasa aneh saat mesti balik ke rantau.

Ada sedihnya karena di rantau suasana seperti itu tidak akan dirasakan. Bawaannya dirimu menjadi galau. Semangat pulang ke rantau melemah. Ditambah kondisi badan yang lelah rasanya kamu seperti menyeret-nyeret langkah.

Apa pun itu, hidup harus terus berjalan. Dirimu punya kehidupan di daerah lain yang mesti dilanjutkan. Beberapa hari pertama di rantau, kamu bisa mengisi waktu dengan merenungkan tujuh hal berikut.

1. Semandiri apa pun kamu tetap butuh keluarga

bersama ibu
ilustrasi bersama ibu (pexels.com/Letícia Alvares)

Lama merantau kadang membuatmu merasa bisa mengatasi segala hal sendirian. Ya, kamu dapat melakukan banyak hal. Dirimu bukan lagi anak kecil yang apa-apa perlu dibantu. Akan tetapi, tetap saja sebagai manusia kamu membutuhkan keluarga.

Kalau hidupmu lagi gak diuji dengan cobaan berat, keluarga diperlukan buat memberimu rasa hangat yang tak didapatkan dari orang lain. Kamu punya teman dan pacar. Namun, keluarga tetap memiliki arti yang lebih mendalam.

2. Namun, bagi beberapa orang keluarga memang bukan sumber kebahagiaan

duduk sendirian
ilustrasi duduk sendirian (pexels.com/Arnon Suksumran)

Meski demikian, kamu juga gak bisa mengingkari realitas bahwa keluarga bukan tempat pulang yang menyenangkan bagi setiap orang. Justru keluarga menjadi sumber luka yang tak pernah ada habisnya buat beberapa orang. Bukan cuma dalam bentuk luka lama atau rasa trauma.

Akan tetapi, hingga hari ini pun berbagai masalah masih mewarnai hubungan dalam keluarga tersebut. Persoalan-persoalan yang selalu berujung pertengkaran sengit. Andai pun keluargamu sangat bahagia dan suportif, dirimu mesti bisa berempati pada orang lain yang gak seberuntung kamu.

3. Mudik dan kumpul keluarga ajarkan meluangkan waktu di tengah kesibukan

seorang perempuan
ilustrasi seorang perempuan (pexels.com/Camilo Moreira)

Jika dipikir-pikir, mudik memang sering kali terasa tidak masuk akal. Orang mau berjam-jam terjebak kemacetan panjang hanya untuk pulang ke kampung halaman. Seakan-akan tidak ada hari lain buat bertemu.

Belum lagi pengeluarannya luar biasa besar. Baik untuk biaya transportasi, akomodasi, makan, oleh-oleh, salam tempel, dan sebagainya. Namun, ada satu pelajaran berharga yang patut digarisbawahi.

Yaitu, kamu sedang melatih diri untuk meluangkan waktu demi keluarga. Bila semua logika di atas diperturutkan dan ditambah dengan kesibukan, barangkali dirimu bakal jarang sekali berkumpul dengan keluarga besar. Sampai-sampai antarsaudara seperti tak kenal.

4. Kalian jarang berkumpul, tapi tetap saling sayang

kakak adik berpelukan
ilustrasi kakak adik berpelukan (pexels.com/Luis Becerra Fotógrafo)

Kamu dan saudara-saudara kandung merantau ke daerah yang berbeda-beda. Pertemuan secara langsung menjadi momen yang sangat langka. Jangankan kumpul keluarga seperti saat Lebaran.

Di hari biasa kalian bahkan nyaris gak pernah bertelepon atau saling mengirim pesan. Notifikasi dari mereka baru muncul ketika ada kabar-kabar penting. Misalnya, orangtua sakit. Apakah ini tanda bahwa hubungan kalian renggang bahkan antara kakak serta adik tidak ada rasa saling menyayangi?

Dugaan itu terpatahkan saat kalian berkumpul di hari raya. Kalian cuma berjauhan serta memiliki kesibukan masing-masing. Akan tetapi, hati sebetulnya selalu bertaut. Buktinya, obrolan langsung seru dan suasana cair begitu kalian bertemu.

5. Ketakutan akan kejadian menyebalkan cuma ada di konten medsos

seorang perempuan
ilustrasi seorang perempuan (pexels.com/Atlantic Ambience)

Momen kumpul keluarga saat Idulfitri kemarin juga mematahkan ketakutan yang selama ini bercokol kuat dalam diri. Misal, kamu paling takut dengan pertanyaan kapan nikah. Pertanyaan seperti juga masih bisa dilanjutkan dengan ucapan-ucapan lain yang gak menyenangkan.

Seperti sebutan perawan tua atau bujang lapuk buat pria. Namun, nyatanya malah tidak ada orang yang mengucapkannya padamu. Mereka tak bertanya seputar jodoh.

Semua topiknya netral atau mereka lebih banyak menceritakan diri sendiri. Bukan tidak mungkin selama ini dirimu hanya termakan konten medsos tentang malas ditanya kapan nikah. Akan tetapi, orang-orang di luar sana khususnya keluargamu sudah paham etika dan bisa jaga perasaanmu sehingga gak menanyakannya.

6. Prasangka serta kesalahpahaman sering cuma karena jarang bertemu

percakapan
ilustrasi percakapan (pexels.com/Mizuno K)

Berkomunikasi via aplikasi chat atau bertelepon tidak sama dengan bertemu dan ngobrol langsung. Dalam komunikasi teks, kamu bahkan gak bisa mendengar nada bicara seseorang. Dirimu juga tak dapat melihat ekspresinya.

Itu membuka ruang untuk terjadinya kesalahpahaman. Apalagi saat kalian nyaris tidak pernah berkomunikasi via apa pun. Satu sama lain bisa mudah berprasangka. Namun, dengan kalian berkumpul di hari raya ternyata semuanya terasa baik-baik saja. Bahkan sekalipun kalian biasa berdebat di grup WA.

7. Kumpul Lebaran usai, waktunya kembali fokus berjuang di rantau

bekerja
ilustrasi bekerja (pexels.com/Lisa from Pexels)

Apa pun kesan-kesanmu seputar Idulfitri kemarin, momen penuh kehangatan keluarga sudah berakhir. Dirimu mesti mengatur hati yang seolah-olah masih tertinggal di kampung halaman. Tabahkan diri karena kamu mesti segera beraktivitas seperti biasa baik bekerja atau kuliah.

Jangan dirimu murung berhari-hari lantaran masih ingin di kampung halaman. Lain waktu toh, kamu bisa pulang lagi. Dirimu juga dapat janjian dengan saudara-saudara untuk berjumpa di rumah orangtua di luar hari raya.

Contohnya, ketika anak libur sekolah atau ulang tahun perkawinan ayah dan ibu. Terpenting sekarang kamu bekerja dulu biar kapan pun hendak pulang kampung gak ada masalah biaya. Malah repot kalau dirimu bermalas-malasan dan menjadi kesulitan menabung buat ongkos sewaktu-waktu ingin kembali ke rumah orangtua.

Lebaran sudah berlalu. Akan tetapi, momen kumpul keluarga tentu masih membekas kuat. Jangan anti dengan acara ini meski kamu introvert. Kumpul keluarga bukan sekadar kebisingan tanpa makna.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us