Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

8 Respons Cerdas saat Keluarga Mengomentari Makanan dan Anggota Tubuhmu

ilustrasi makan bersama (pexels.com/fauxels)
ilustrasi makan bersama (pexels.com/fauxels)

Komentar tentang makanan dan tubuh memang sering datang tanpa diminta, terutama dari orang-orang terdekat. Meski terdengar sepele, hal tersebut bisa berdampak besar pada kenyamanan dan kepercayaan diri. Karena itu, penting untuk punya cara merespons yang tetap tenang tanpa mengorbankan batasan diri.

Pada akhirnya, kamu berhak menikmati waktu bersama keluarga tanpa merasa diawasi atau dihakimi. Menjaga diri sendiri bukan berarti tidak sopan, melainkan bentuk kepedulian pada kesehatan mental. Yuk, simak respons cerdas saat kamu dikomentari keluarga lewat artikel berikut ini!

1. Alihkan pembicaraan dengan tegas tapi sopan

ilustrasi makan bersama (pexels.com/cottonbro)
ilustrasi makan bersama (pexels.com/cottonbro)

Saat ada anggota keluarga yang memuji atau menyoroti bentuk tubuhmu, kamu berhak mengarahkan pembicaraan ke topik lain. Respons sederhana namun tegas bisa membantu menghentikan komentar lanjutan tanpa menciptakan konflik. Fokusnya bukan membalas, melainkan menjaga batasan diri.

Menurut Amber Stevens, PsyD, psikolog berlisensi, dikutip dari SELF, kamu bisa menghargai niat baik seseorang sambil tetap mengoreksi dan mengarahkan ulang pembicaraan dengan elegan. Dengan begitu, kamu tidak perlu menjelaskan panjang lebar atau merasa bersalah. Mengganti topik ke hal netral sering kali jadi cara paling aman.

2. Ingatkan bahwa semua tubuh bisa berubah

ilustrasi makan bersama (pexels.com/fauxels)
ilustrasi makan bersama (pexels.com/fauxels)

Komentar tentang tubuh orang lain, termasuk membandingkan dengan kondisi sebelumnya, sering dianggap wajar dalam keluarga. Padahal, kebiasaan ini bisa berdampak buruk, baik bagi yang dibicarakan maupun yang mendengar. Mengingatkan bahwa perubahan tubuh itu normal adalah langkah kecil tapi penting.

“Penting untuk menormalkan bahwa semua tubuh berubah tanpa memberi label baik atau buruk, sekaligus menegaskan bahwa mengomentari tubuh orang lain itu bermasalah,” jelas Dr. Stevens.

Kamu tidak perlu terdengar menggurui saat menyampaikan hal ini. Cukup tekankan bahwa perubahan bisa terjadi karena banyak faktor dan tidak selalu perlu dikomentari. Dengan begitu, kamu ikut membangun budaya keluarga yang lebih menghargai privasi.

3. Pasang batasan dengan jelas

ilustrasi membuat makan bersama (pexels.com/august-de-richelieu)
ilustrasi membuat makan bersama (pexels.com/august-de-richelieu)

Jika komentar soal makanan dan tubuh terasa berulang dan melelahkan, memasang batasan adalah hal yang wajar. Kamu boleh menyampaikan bahwa topik tersebut tidak ingin kamu bahas, terutama di momen kumpul yang seharusnya menyenangkan. Batasan bukan berarti tidak sopan, tapi bentuk menjaga diri.

"Jika kamu sudah mengantisipasi bahwa suatu situasi lebih merugikan kesehatan mentalmu daripada manfaatnya, ketahuilah bahwa kamu berhak menetapkan batasan dan menghindarinya sepenuhnya, kata Allison Chase, psikolog klinis dan direktur eksekutif Eating Recovery Center di Austin, Texas, dikutip dari U.S. News.

Julia Carter, LCSWA, terapis citra tubuh, dikutip dari SELF, juga mengatakan, batasan bukan tembok, tapi undangan untuk terhubung dengan cara yang lebih sehat. Dengan komunikasi yang jelas, orang lain tahu sampai di mana mereka boleh melangkah. Ini juga membantu kamu menikmati waktu bersama tanpa rasa waswas.

4. Dengarkan tubuhmu, bukan komentar orang

ilustrasi makan bersama (pexels.com/rdne)
ilustrasi makan bersama (pexels.com/rdne)

Komentar seperti “kok gak nambah?” atau “dikit banget makannya” sering muncul di meja makan. Padahal, hanya kamu yang tahu kapan tubuhmu merasa cukup. Menjawab dengan tenang menunjukkan bahwa kamu percaya pada sinyal tubuh sendiri.

Respons ini juga membantu mengakhiri diskusi tanpa debat panjang. Kamu tidak perlu membela pilihan makanmu secara berlebihan. Sikap tenang justru menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.

5. Jawab kritik porsi makan dengan logis

ilustrasi makan bersama keluarga (pexels.com/nicolemichalou)
ilustrasi makan bersama keluarga (pexels.com/nicolemichalou)

Saat ada yang mempertanyakan jumlah makanan di piringmu, kamu bisa memilih jawaban praktis. Menjelaskan secara singkat tanpa nada defensif sering kali cukup untuk menghentikan komentar lanjutan. Pendekatan ini terasa dewasa dan tidak memancing emosi.

Selain itu, kamu tidak berkewajiban membuktikan apa pun. Pilihan makan adalah urusan pribadi yang tidak perlu disetujui semua orang. Mengingatkan diri sendiri akan hal ini bisa membuatmu lebih tenang.

6. Luruskan pandangan tentang olahraga

ilustrasi pria berdiri di tengah makan keluarga (pexels.com/askarabayev)
ilustrasi pria berdiri di tengah makan keluarga (pexels.com/askarabayev)

Olahraga setelah liburan sering dikaitkan dengan upaya “menebus” makanan yang dimakan. Cara pandang ini bisa membuat hubungan dengan tubuh jadi tidak sehat. Kamu berhak meluruskan bahwa olahraga adalah soal kesehatan dan kesenangan.

Dengan menjawab santai, kamu bisa mengubah arah obrolan tanpa memicu perdebatan. Fokus pada manfaat positif, bukan rasa bersalah. Pesan ini juga bisa membuka sudut pandang baru bagi orang lain.

7. Jaga privasi soal obat atau diet

ilustrasi makan bersama keluarga (pexels.com/nicolemichalou)
ilustrasi makan bersama keluarga (pexels.com/nicolemichalou)

Topik obat penurun berat badan atau metode diet sering muncul tanpa disadari. Padahal, keputusan medis adalah hal pribadi yang tidak wajib dibagikan. Menolak membahasnya bukan berarti menutup diri, tapi menjaga batasan.

Dikutip dari SELF, Debra Safer, MD, psikiater dari Stanford Medicine, pernah menegaskan bahwa keputusan medis seharusnya diperlakukan sebagai hal privat. Kamu bisa mengakui pengalaman orang lain tanpa harus ikut terlibat. Sikap ini menunjukkan empati sekaligus ketegasan.

8. Tegaskan kepercayaan diri pada tubuh sendiri

ilustrasi makan bersama keluarga (pexels.com/askarabayev)
ilustrasi makan bersama keluarga (pexels.com/askarabayev)

Komentar tentang perubahan tubuh bisa membuat seseorang kehilangan kata-kata. Mengembalikan fokus pada hubunganmu dengan tubuh sendiri adalah langkah yang menenangkan. Ini juga memberi sinyal bahwa kamu nyaman dengan dirimu apa adanya.

Respons seperti ini menggeser pembicaraan dari penilaian fisik ke penghargaan diri. Pada akhirnya, suasana kumpul keluarga pun jadi lebih hangat. Liburan terasa lebih bermakna saat diisi percakapan yang saling menghormati.

Komentar soal makanan dan tubuh kerap muncul tanpa disadari, padahal dampaknya bisa cukup mengganggu kenyamanan. Yuk, mulai jaga batasan diri agar momen bersama keluarga tetap terasa hangat dan menyenangkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Latest in Life

See More

Apa Itu Default Parent? Peran Orangtua yang Diam-Diam Menguras Energi

17 Jan 2026, 08:00 WIBLife