Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
dua anak perempuan
ilustrasi dua anak perempuan (pexels.com/RDNE Stock project)

Intinya sih...

  • Sikap kasar harus segera ditegur dan diarahkan, termasuk penggunaan kata-kata kotor dan perilaku kasar lainnya.

  • Sikap suka mengejek perlu dihentikan agar anak tidak merendahkan orang lain, butuh teguran tegas dari orangtua.

  • Sikap tidak sopan pada orang yang lebih tua harus dicegah agar anak memahami pentingnya sopan santun dalam kehidupan sehari-hari.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kamu mungkin pernah mendengar sebutan monster kecil. Apa itu? Monster kecil kerap digunakan buat menjuluki anak yang nakal, sulit diatur, dan sering bikin masalah di mana pun ia berada.

Jika dirimu menjadi orangtuanya tentu ada rasa gak terima saat anakmu disebut monster kecil oleh orang lain. Kamu berharap mereka memaklumi apa yang dilakukan atau diucapkan anak. Malah di matamu orang dewasa yang kesal karenanya lebih pantas disebut monster.

Kalau dirimu gak mau anakmu disebut monster kecil, pendidikan di rumah harus lebih diperketat. Jika kamu melihat sembilan sikap anak yang harus segera ditegur dan diarahkan, jangan dibiarkan, ya! Kamu dan pasangan mesti menjadi orang pertama yang menegur serta mengarahkan kembali perilakunya.

1. Sikap kasar

ilustrasi anak marah (pexels.com/Meryl Cusinato)

Kasar tidak hanya tentang perilaku menendang atau memukul teman. Penggunaan kata-kata kotor dan makian termasuk di dalamnya. Kemudian menaruh apa pun atau menutup pintu dengan sengaja membanting.

Kalau anak tidak cepat ditegur dan dinasihati dengan tegas, tambah umur ia bakal bertambah kasar. Termasuk pada kalian atau keluarganya kelak. Bahkan dia dapat berbuat kriminal. Monster kecil berubah menjadi monster besar.

2. Sikap suka mengejek

ilustrasi anak (pexels.com/walter Cordero)

Saling ejek di antara anak-anak sering dianggap normal. Banyak orang dewasa memandangnya cuma seru-seruan. Akan tetapi, sekali mental anak terbentuk suka merendahkan orang melalui ejekan, sukar sekali untuknya berubah.

Kelak sikapnya pada orang lain juga minim rasa hormat. Ejekannya tidak lagi dalam konteks bercanda, melainkan sengaja menjatuhkan martabat orang. Jika dirimu ingin anak menjadi pribadi sopan serta rendah hati, tegur dan larang dia mengulanginya.

3. Sikap tidak sopan pada orang yang lebih tua

ilustrasi anak beranjak remaja (pexels.com/Vika Glitter)

Sopan santun pada orang yang lebih tua bukan ajaran khas daerah tertentu saja. Anak memang harus paham betul dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai anakmu dicap kurang ajar karena suka memainkan kepala kakek, nenek, om, tante, atau kakaknya. Begitu pula dengan wujud sikap gak sopan lainnya.

4. Sikap semaunya sendiri dan membangkang

ilustrasi dua anak (pexels.com/Helena Jankovičová Kováčová)

Anak harus dibuat mengerti bahwa dia tidak bisa bersikap semaunya sendiri di mana pun. Di rumah ada aturan yang dibuat olehmu dan pasangan sebagai orangtua. Di sekolah juga terdapat berbagai peraturan.

Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat. Dirimu serta pasangan mesti lebih tegas dalam menegakkan peraturan. Bukan kalian malah kalah serta terus mengikuti kemauan anak.

5. Sikap manipulatif

ilustrasi seorang anak (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Contoh perilaku manipulatif anak adalah mengemukakan alasan yang mengada-ada biar dikasihani ketika ia berbuat salah. Tujuannya jelas, yaitu untuk menghindari hukuman. Kalau kecil-kecil sudah manipulatif, saat anak besar dapat menjadi pribadi yang licik.

Kali ini kamu perlu mengecewakan anak dengan tidak termakan sikap manipulatifnya. Anak mesti mengerti bahwa orangtua tak mudah dibohongi. Justru makin dia berusaha melakukan manipulasi, makin keras sikapmu serta pasangan.

6. Sikap senang mengganggu

ilustrasi anak (pexels.com/Helena Lopes)

Keusilan anak harus ada batasnya. Jangan membiarkan anak setiap saat mengganggu orang lain baik teman sebaya, adik, kakak, atau siapa pun yang ada di rumah. Ada ART yang sedang beres-beres rumah, misalnya.

Kalau anak mengganggu terus, kapan pekerjaannya akan beres? Bahkan gangguan anak dapat membuat ART tidak fokus lalu terjadi kecelakaan. Seperti ia tersandung ember yang berisi air untuk mengepel, terjatuh, dan cedera.

7. Sikap tidak bertanggung jawab

ilustrasi seorang anak (pexels.com/Vidal Balielo Jr.)

Bicara tanggung jawab kerap kali hanya dikaitkan dengan orang dewasa. Tentu orang dewasa harus punya sifat bertanggung jawab. Namun, fondasinya dibangun sejak ia masih anak-anak.

Kalau saat anakmu kecil gak diajari bertanggung jawab, karakternya ketika dewasa akan negatif. Contoh sikap tidak bertanggung jawab pada anak, habis makan ia tidak membawa piring dan gelas kotornya ke wastafel apalagi mencucinya. Semuanya ditinggalkan begitu saja dan orang lain yang mesti membereskannya.

8. Sikap malas

ilustrasi anak makan (pexels.com/Bulat Khamitov)

Rasa malas memang melenakan. Artinya, sering membiarkan anak bermalas-malasan akan membuatnya bertambah parah seiring waktu. Usahanya dalam hal apa pun menjadi kurang.

Malas bisa membuat tubuhnya tidak sehat. Juga dapat menyebabkan anak lebih suka kebiasaan jorok. Dapat pula kelak angan-angannya tinggi, tapi minim usaha. Selalu dorong anak buat rajin. Bahkan di hari libur sekalipun tak berarti dia boleh seharian penuh bermalas-malasan.

9. Sikap jorok

ilustrasi anak mengupil (pexels.com/Yan Krukau)

Misalnya, anak mengupil lalu mengoleskan kotorannya ke benda-benda di sekitar. Atau, ia ketahuan mengelap ingus dengan ujung pakaian. Juga memakai kamar mandi tanpa menyiramnya.

Apa pun bentuk sikap joroknya jangan dinormalkan. Jangan pula orangtua terlalu yakin sikap anak bakal berubah seriring pertambahan umur. Selain kamu dan pasangan mesti kasih contoh perilaku cinta kebersihan, anak juga wajib ditegur dan dinasihati secara langsung.

Teguran dan arahan dari orangtua sangat penting bagi anak. Jangan terlalu takut itu bakal bikin anak stres. Anak harus banyak belajar tentang sikap yang tepat. Justru kalau kamu melihat sikap anak yang harus segera ditegur dan diarahkan, maka kamu harus berani. Jangan kasihan bila setelah dia dewasa nanti banyak sikapnya gak bisa diterima di lingkungan sosial dan dilabeli negatif.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team