“Sistem saraf kita saling berkomunikasi, dan ketika anak merasakan kita tenang, tubuh mereka juga merasa aman,” jelas Kidney.
6 Tips biar Anak Sensitif Sensorik Tetap Nyaman saat Liburan

Liburan identik dengan keramaian, pesta, dan suasana meriah yang bikin semangat naik. Tapi bagi sebagian anak, momen ini justru bisa terasa menegangkan dan melelahkan. Tenang, ada cara supaya mereka tetap nyaman tanpa mengurangi keseruan liburan keluarga.
Menyiapkan liburan untuk anak dengan kebutuhan khusus memang butuh strategi ekstra. Dari perubahan rutinitas hingga lingkungan yang ramai, semua bisa jadi tantangan tersendiri. Untungnya, beberapa tips sederhana bisa membantu anak tetap rileks dan menikmati momen liburan dengan aman. Yuk, simak tips biar anak sensitif sensorik tetap nyaman saat liburan!
1. Tentukan aktivitas yang layak diikuti dan yang tidak

Kalender liburan memang penuh acara dan tradisi, tapi tidak semua harus diikuti jika membuat anak merasa tidak nyaman. Kristin Edwards, psikolog klinis, dikutip dari Parents, menyarankan orangtua menilai seberapa besar ketidaknyamanan sensorik yang mungkin muncul dan seberapa bermakna kegiatan itu bagi keluarga.
Kalau suatu acara justru bikin stres, tak ada salahnya dilewatkan. Tapi untuk kegiatan yang menyenangkan, tetap bisa diikuti dengan beberapa penyesuaian, seperti memakai headphone atau pakaian nyaman. Dengan cara ini, anak belajar toleransi tanpa kehilangan rasa aman.
2. Bersiap menghadapi kelebihan sensori

Anak sensitif sensorik mudah merasa kewalahan saat suasana ramai dan bising. Dikutip dari Parents, Liz Kidney, seorang terapis okupasi, menyarankan orangtua melakukan latihan regulasi diri agar bisa menenangkan anak.
Bawa juga alat bantu seperti selimut berbobot, mainan fidget, atau makanan favorit. Persiapan ini membantu anak tetap tenang meski lingkungan penuh stimulasi.
3. Siapkan keluarga dan teman juga

Tidak semua kerabat memahami kebutuhan anak sensitif sensorik. Memberi tahu mereka sebelumnya bisa mengurangi komentar negatif saat acara. Edwards menekankan, anggota keluarga cenderung lebih menerima ketika mereka diberi tahu sebelumnya, misalnya anak mungkin perlu istirahat sebentar untuk mengisi ulang energi sosialnya.
Dengan penjelasan sederhana, mereka akan mengerti mengapa anak memakai headphone atau melewatkan kegiatan tertentu. Ini membuat suasana tetap nyaman bagi semua pihak.
4. Jangan abaikan komentar negatif

Meski orangtua sudah memberi tahu sebelumnya, komentar dari orang lain yang kurang peka terhadap kebutuhan anak tetap bisa muncul. Saat itu terjadi, merespons dengan tenang dan jelas menunjukkan bahwa perasaan dan kebutuhan anak itu wajar dan harus dihargai.
Sikap tenang orangtua juga menjadi contoh bagi anak untuk belajar membela diri dan kebutuhannya sendiri. Dengan begitu, anak tetap merasa aman, didukung, dan belajar bagaimana menghadapi situasi serupa di masa depan.
5. Atur makanan dengan hati-hati

Makanan juga bisa menjadi sumber stres, terutama bagi anak dengan diet terbatas atau sensitif terhadap tekstur. Liburan bukan waktu yang tepat untuk memaksa anak mencoba makanan baru.
“Tubuh memprioritaskan keselamatan, bukan pencernaan. Sajikan makanan aman dan familiar sebelum acara dan tawarkan bersama hidangan liburan tanpa tekanan,” kata Kidney.
Membawa makanan favorit anak ke acara keluarga lebih penting daripada takut menyinggung orang lain. Anak tetap kenyang dan nyaman sepanjang perayaan.
6. Kenali saat anak mulai kewalahan

Selama acara, perhatikan tanda-tanda anak mulai kewalahan, misalnya menutup telinga atau menarik diri. Orangtua bisa membantunya dengan rehat sejenak atau pindah ke tempat yang lebih tenang. Edwards menyarankan, ajari anak mengenali perasaannya, lalu tanyakan, “Apa yang bisa kulakukan saat perasaan itu muncul?”
Alat bantu seperti headphone, selimut berbobot, atau boneka kesayangan bisa sangat membantu. Dengan menangkap tanda-tanda ini lebih awal, liburan tetap seru dan nyaman untuk anak maupun keluarga.
Dengan persiapan yang tepat, anak sensitif sensorik tetap bisa menikmati liburan tanpa merasa kewalahan. Kuncinya adalah menyesuaikan kegiatan, memberi ruang istirahat, dan memahami kebutuhan mereka agar momen liburan tetap menyenangkan bagi seluruh keluarga.












![[QUIZ] SNBP vs SNBT, Mana yang Lebih Cocok untuk Kamu?](https://image.idntimes.com/post/20260121/whatsapp-image-2026-01-03-at-10_8a6e1b58-5fa3-4183-a29b-37b7ac951452.jpeg)






