Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Standar Keamanan Les Renang yang Wajib Diketahui Orangtua
Ilustrasi anak berenang (pexels.com/Anggie AW)

Mendaftarkan anak ke les renang menjadi langkah positif untuk melatih keberanian, kesehatan, sekaligus keterampilan hidup yang penting. Namun di balik manfaat tersebut, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan, yakni standar keamanan. Gak sedikit orangtua hanya fokus pada kemampuan pelatih, tanpa benar-benar mengecek apakah tempat les tersebut aman untuk anak.

Padahal, risiko di kolam renang bukan hal sepele. Kejadian anak tenggelam bisa terjadi karena pengawasan yang kurang, fasilitas yang tidak memadai, atau tidak adanya prosedur darurat yang jelas. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua saat mendaftarkan anak les renang.

1. Rasio pelatih dan anak, jangan sampai terlalu banyak

Ilustrasi anak berenang (pexels.com/MarcTutorials)

Rasio antara pelatih dan anak adalah faktor utama dalam keamanan les renang. Semakin sedikit jumlah anak dalam satu sesi pelatih, semakin optimal pengawasan yang bisa diberikan. Idealnya, satu pelatih menangani jumlah anak yang terbatas, terutama untuk pemula.

Mengutip Water Safety USA, mengelompokkan kelas sesuai dengan rasio siswa-pelatih yang tepat, usia, dan tingkat kemampuan sangat penting. Praktik terbaik untuk perenang muda atau pemula adalah rasio instruktur-siswa 1:4 atau kurang, disarankan 1 instruktur tidak lebih untuk 6 siswa.

Jika satu pelatih menangani terlalu banyak anak sekaligus, risiko terlewatnya pengawasan menjadi sangat besar. Anak-anak, terutama yang belum bisa berenang, membutuhkan perhatian penuh karena situasi di air bisa berubah sangat cepat.

“Kurangnya pengawasan dapat menyebabkan tenggelam atau bahkan kematian,” ujar peneliti dalam tesis berjudul Pengembangan Pedoman Keselamatan di Kolam Renang oleh Budi Calamita Sandra, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Yogyakarta.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa rasio pengawasan bukan sekadar teknis. Tetapi juga menyangkut keselamatan nyawa. Jadi jangan sampai diabaikan.

2. Keberadaan lifeguard: Wajib, bukan opsional

ilustrasi anak berenang (pexels.com/Yulianto Poitier)

Selain pelatih, keberadaan lifeguard (penjaga kolam) adalah standar wajib yang sering diabaikan. Lifeguard memiliki peran khusus yang berbeda dari pelatih, yaitu fokus pada pengawasan keselamatan secara menyeluruh di area kolam.

Tanpa lifeguard, potensi kecelakaan meningkat drastis. Bahkan dalam banyak kasus, kejadian tenggelam terjadi karena tidak adanya pengawas khusus di kolam renang.

"90-95 persen korban tenggelam di hampir semua kolam renang, secara umum karena tidak adanya pengawas kolam (life guard)," menurut data American Foundation for Aquatic Injury Prevention yang dikutip dalam jurnal Pelatihan Dasar-dasar Keamanan Air Bagi Pengawas Kolam Renang Se-DIY Oleh Ermawan Susanto FIK Universitas Negeri Yogyakarta.

 

3. Kedalaman kolam harus sesuai usia dan level anak

Ilustrasi anak berenang. (pexels.com/Alex P)

Tidak semua kolam cocok untuk semua usia. Kedalaman kolam harus disesuaikan dengan kemampuan dan usia anak yang mengikuti les renang. Untuk pemula, kolam dangkal sangat penting agar anak tetap bisa berdiri dan merasa aman.

Kolam yang terlalu dalam bisa membuat anak panik, terutama jika mereka belum menguasai teknik dasar. Rasa takut ini justru bisa memperbesar risiko kecelakaan di air.

Kedalaman kolam harus disesuaikan dengan usia pengunjung untuk mengurangi risiko. Menurut laman Donemans, kontraktor yang biasa membuat kolam renang, berikut ini rekomendasi kedalaman kolam yang disesuaikan dengan usia anak.

  • Balita dan anak kecil: 0,6 hingga 0,9 meter

  • Anak yang lebih besar dan remaja: 1,2 hingga 1,5 meter

  • Dewasa: 1,2 hingga 1,8 meter

4. SOP darurat harus jelas dan terlatih

Ilustrasi anak berenang. (Freepik / pressfoto)

Standar keamanan tidak lengkap tanpa SOP (Standard Operating Procedure) darurat. SOP ini mencakup langkah-langkah penanganan saat terjadi kecelakaan, mulai dari korban tenggelam hingga cedera fisik.

Yang penting bukan hanya adanya SOP, tetapi juga kesiapan tim dalam menjalankannya. Semua staf harus tahu apa yang harus dilakukan dalam hitungan detik ketika situasi darurat terjadi.

"Setiap kolam renang harus terdapat sistem prosedur komunikasi bila terjadi keadaan darurat," tulis dalam jurnal Ermawan Susanto.

5. Fasilitas penunjang keselamatan: harus lengkap dan siap pakai

Ilustrasi anak berenang. (pexels.com/Juan Salamanca)

Peralatan keselamatan seperti pelampung, tali penyelamat, tongkat penolong, hingga kotak P3K harus tersedia dan mudah dijangkau. Tanpa alat ini, proses penyelamatan bisa terhambat.

Selain itu, posisi alat juga harus strategis, bukan disimpan jauh dari area kolam. Dalam kondisi darurat, setiap detik sangat berharga.

"Setiap kolam renang harus memiliki alat fasilitas pertolongan yang memadai dan berada pada tempat strategis untuk melakukan pertolongan," jelas Susanto.

6. Pelatihan dan sertifikasi pelatih, tidak bisa sembarangan

Ilustrasi anak berenang (pexels.com/Anggie AW)

Pelatih renang anak harus memiliki pelatihan khusus, tidak hanya bisa berenang. Mereka harus memahami teknik mengajar anak, keselamatan air, serta pertolongan pertama. Pelatih yang tidak terlatih bisa membuat situasi berbahaya karena tidak tahu cara menangani kondisi darurat atau anak yang panik di air. Menurut Susanto, membekali diri dengan kemampuan pengetahuan keamanan dan penyelamatan merupakan sebuah tindakan bijaksana.

“Lifeguard dan tenaga pengawas harus memiliki keterampilan penyelamatan untuk mengatasi berbagai fenomena kecelakaan air,” ujar Susanto.

"Pengawas kolam renang baik, di kolam renang umum, kolam renang di tempat rekreasi, dan kolam renang di hotel-hotel agar menguasai teknik-teknik penyelamatan di kolam renang," tambahnya.

Memilih tempat les renang untuk anak tidak boleh hanya berdasarkan harga atau lokasi. Standar keamanan harus menjadi prioritas utama, mulai dari rasio pelatih, keberadaan lifeguard, hingga kesiapan SOP darurat. Semua faktor ini saling berkaitan dan menentukan seberapa aman anak berada di dalam air.

Editorial Team