Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

6 Kesalahan Parenting yang Bisa Picu Ketidaknyamanan Anak

6 Kesalahan Parenting yang Bisa Picu Ketidaknyamanan Anak
Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by Tamara Govedarovic)

Saat membesarkan anak, wajar jika orangtua pernah melakukan kesalahan. Hal ini bukan karena kurangnya kasih sayang, melainkan mungkin adanya kompleksitas emosi, tekanan, dan ekspektasi yang datang bersamaan dalam peran sebagai orangtua. Bahkan, banyak kesalahan parenting yang muncul dari niat baik, tapi hasilnya bisa sebaliknya.

Beberapa pola asuh yang tampak sepele ternyata bisa menimbulkan rasa tidak nyaman pada anak, baik secara emosional maupun psikologis. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk memahami kesalahan-kesalahan ini agar bisa membangun hubungan yang lebih sehat dan suportif.

1. Mengabaikan atau menyepelekan emosi anak

Ilustrasi anak menyendiri (unsplash.com/Photo by martin platonov)
Ilustrasi anak menyendiri (unsplash.com/Photo by martin platonov)

Banyak orangtua tanpa sadar sering mengatakan kalimat seperti “jangan/gak boleh nangis” atau “halah, cuma kayak gitu aja” dan sejenisnya. Padahal bagi anak, perasaan yang mereka alami sangat nyata dan penting. Ketika emosi mereka diabaikan, anak bisa merasa tidak dipahami.

Menurut psikolog klinis Dr. Ellie Hambly, mencoba menenangkan tanpa memahami justru bisa membuat anak merasa diabaikan. Sayangnya, hal ini sering terlupakan oleh orangtua.

“Sebenarnya yang kita katakan ketika menyuruh anak-anak kita ‘jangan menangis’ adalah untuk menekan emosi mereka, bahwa kita tidak mampu menangani air mata mereka,” ujar kata Dr. Hambly memperingatkan dikutip dari Parade.

"Hal ini kemudian dapat berubah menjadi rasa malu karena menangis dan upaya untuk menekan emosi kita lebih lanjut di kemudian hari," lanjutnya.

Lebih jauh lagi, penelitian menunjukkan bahwa validasi emosi membantu anak merasa didengar dan membangun kemampuan regulasi emosinya. Jadi jika emosi ditekan, anak bisa tumbuh dengan kesulitan memahami perasaannya sendiri.

“'Jaminan' ini mungkin tampak tidak berbahaya, tetapi sebenarnya mengabaikan ketakutan anak. Kita tidak terlibat dengan apa yang membuat anak merasa tidak nyaman, yang kemudian memungkinkan kita untuk mendukung mereka melewatinya,” kata Dr. Hambly.

2. Terlalu otoriter dan mengutamakan kepatuhan

ilustrasi orangtua memarahi anak (freepik.com /pixelstudio)
ilustrasi orangtua memarahi anak (freepik.com /pixelstudio)

Pola asuh yang terlalu menekankan aturan dan hukuman sering dianggap efektif untuk mendisiplinkan anak. Namun, pendekatan ini bisa membuat anak patuh hanya karena merasa takut, bukan karena memahami. Hal ini pun bisa merusak hubungan emosional antara orangtua dan anak.

Psikolog anak Dr. Robyn Koslowitz, Ph.D., menjelaskan bahwa terkadang anak tantrum, gak sedikit orangtua yang hanya fokus pada perilakunya. Padahal ini adalah cara anak yang mencoba berkomunikasi melalui ledakan emosinya.

“Anak yang membanting pintu atau berteriak bukan mencoba untuk membangkang. Mereka mencoba untuk didengar. Mereka kewalahan dan belum memiliki alat untuk mengekspresikan diri dengan cara yang terkendali," tegas Dr. Koslowitz dikutip dari Parade.

Lebih lanjut, Dr. Koslowitz memberikan saran untuk memvalidasi emosinya. Orangtua bisa mengatakan seperti contoh berikut, “Aku mengerti kamu sangat kecewa. Kamu berharap mendapatkan lebih banyak waktu bermain gadget. Itu masuk akal. Jawabannya tetap tidak, tetapi aku mengerti mengapa kamu kesal.”

Selain itu, riset dari Psychology Today oleh psikolog klinis dan pelatih kehidupan Melanie Greenberg, Ph.D., menjelaskan bahwa pola asuh otoriter dapat menghambat kemampuan anak dalam mengatur emosi dan membangun hubungan yang sehat di masa depan. Anak mungkin terlihat 'baik', tetapi menyimpan tekanan emosional.

 

3. Terlalu melindungi (overprotective parenting)

ilustrasi orangtua protektif (pexels.com/Kaboompics)
ilustrasi orangtua protektif (pexels.com/Kaboompics)

Keinginan melindungi anak sering kali membuat orangtua terlalu banyak campur tangan dalam kehidupan mereka. Padahal, terkadang anak juga membutuhkan ruang sendiri untuk belajar dari pengalaman, termasuk kegagalan. Ya, memang harus diakui bahwa orangtua sulit melihat anaknya gagal, merasa tidak tega. Tapi harus disadari bahwa kegagalan adalah bagian dari kehidupan.

“Tidak semuanya harus berupa kemenangan yang spektakuler, dan jalan menuju pencapaian yang bermakna tidak selalu harus hebat, menakjubkan, atau sempurna,” jelas Dr. Daniel Huy, Psy.D, seorang psikolog klinis dalam laman Parade.

“Kemunduran itu sehat, dan ketika dihadapi dengan dukungan, hal itu dapat membantu mengembangkan ketahanan, pemikiran kritis, dan pengaturan emosi,” sarannya.

Jadi, ketika anak tidak diberi kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kegagalannya, mereka bisa tumbuh dengan rasa takut untuk mencoba hal baru dan kurang percaya diri. Ketidaknyamanan muncul karena mereka tidak terbiasa menghadapi realitas secara mandiri.

4. Terlalu banyak ceramah atau komunikasi yang tidak efektif

ilustrasi membandingkan anak (pexels.com/ August de Richelieu)
ilustrasi orangtua anak (pexels.com/ August de Richelieu)

Banyak orangtua berpikir bahwa semakin panjang penjelasan, anak semakin paham. Faktanya, anak justru bisa kehilangan fokus dan merasa tertekan. Menurut penelitian Psychology Today, otak manusia hanya mampu menampung sekitar empat 'chunk/potongan' informasi dalam satu waktu, atau sekitar 30 detik pembicaraan. Ini berarti ceramah panjang justru tidak efektif.

"Ketika orangtua terus berbicara tanpa henti, anak-anak akan mengabaikannya. Para peneliti telah menunjukkan bahwa otak manusia hanya dapat menyimpan empat 'potongan' informasi atau ide unik dalam memori jangka pendek (aktif) sekaligus. Ini setara dengan sekitar 30 detik (atau 1 atau 2 kalimat) berbicara," jelas Melanie Greenberg.

Komunikasi yang terlalu dominan dari orangtua bisa mengurangi kesempatan anak untuk belajar mengungkapkan pikirannya sendiri. Melanie pun memberikan contoh agar komunikasi dengan anak menjadi lebih efektif.

Contoh yang tidak efektif:

“Ibu tidak yakin apa yang harus kita lakukan tentang les balet dan renang semester ini. Ibu tahu, Ibu mungkin tidak bisa melakukan keduanya karena les renang diadakan pada hari Selasa, Rabu, dan Kamis pukul 4 sore. Jadi itu tidak akan cukup waktu, kecuali Ibu mengemas semua perlengkapan balet di Senin malam, yang berarti harus dicuci pada hari Minggu…”

Di sini Melanie menjelaskan ada begitu banyak ide berbeda dalam pesan ini, sehingga anak lebih bingung dan mengabaikan orangtua. Pesan tersebut juga memiliki nada negatif dan cemas secara keseluruhan yang dapat menyebabkan anak bereaksi dengan keraguan dan kecemasan. Lebih baik coba contoh sebagai berikut.

Contoh efektif:

“Jika kamu mengikuti les balet dan renang semester ini, kamu harus langsung pergi dari satu tempat ke tempat yang lain dalam beberapa malam. Jadi, ayo kita duduk dan cari tahu apakah ini masuk akal untukmu dan Ibu.”

Dalam contoh ini, orangtua membatasi percakapan hanya pada dua kalimat, yang memudahkan anak untuk menyerap informasi. Ia juga menjelaskan tujuan keseluruhan (agar bisa berjalan untuk keduanya), dan langkah selanjutnya yang dimintanya (duduk dan membahas masalah tersebut). Terakhir, ia mengkomunikasikan kesediaan untuk berkolaborasi dan mempertimbangkan kebutuhan anak-anak serta kebutuhannya sendiri.

5. Tidak konsisten dalam aturan dan batasan

ilustrasi membandingkan anak (freepik.com/peoplecreations)
ilustrasi orangtua memarahi anak (freepik.com/peoplecreations)

Inkonsistensi dalam parenting-misalnya kadang melarang, kadang membolehkan hal yang sama, bisa membuat anak bingung dan tidak merasa aman. Ketidakjelasan aturan membuat anak sulit memahami ekspektasi dan meningkatkan perilaku bermasalah.

"Berikan arahan kamu sejelas mungkin," saran Larissa Niec, PhD, seorang profesor psikoterapi dan intervensi kesehatan mental dikutip dari laman Parade.

"Beri tahu anak apa yang harus mereka lakukan, alih-alih memberi tahu mereka apa yang tidak boleh mereka lakukan," lanjutnya.

Misalnya katakan, "Tolong gantung jaketmu di gantungan saat kamu masuk ke dalam" alih-alih "Jangan melempar barang-barangmu ke lantai." Jadi, anak membutuhkan struktur yang jelas untuk merasa nyaman. Ketika aturan berubah-ubah, anak bisa merasa tidak memiliki pegangan. Hal ini menimbulkan ketidaknyamanan karena mereka tidak tahu mana yang benar dan salah dalam situasi tertentu.

6. Membandingkan anak dengan orang lain

ilustrasi membandingkan anak (pexels.com/Pavel Danilyuk)
ilustrasi membandingkan anak (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Kalimat seperti “lihat kakakmu”, "lihat temanmu sudah bisa makan sendiri" atau “temanmu bisa, kenapa kamu tidak?” sering digunakan dengan harapan baik untuk memotivasi anak. Namun, efeknya justru sebaliknya. Membandingkan anak dapat merusak harga diri dan menumbuhkan rasa tidak cukup pada diri anak. Anak bisa merasa tidak dihargai sebagai individu.

"Selain perbandingan tersebut menyesatkan dan tidak relevan, hal itu juga dapat sangat merusak rasa percaya diri anak," jelas pakar pendidikan Dr. Selina Samuels, BA(Hons), LLB, PhD, MEd,. dikutip dari Cluey Learning.

Ketidaknyamanan ini bisa berkembang menjadi rasa minder, iri, bahkan hubungan yang tidak sehat dengan orang lain. Anak belajar bahwa nilai dirinya ditentukan oleh perbandingan, bukan oleh dirinya sendiri.

Lebih lanjut, Dr. Selina juga mengingatkan untuk tidak membandingkan dengan menilai anak selalu lebih tinggi dari yang lain. Hal ini bisa merusak karena bisa menganggap kemunduran kecil bisa menjadi kegagalan total.

"Jika perbandingan tersebut berarti bahwa anak kamu selalu dinilai lebih tinggi daripada yang lain, ini juga bisa merusak. Ketika anak selalu melihat dirinya berada di puncak 'daftar prestasi', mereka cenderung menganggap kemampuan mereka tetap dan akan menafsirkan kemunduran kecil sebagai pernyataan kegagalan total," jelasnya.

Kesalahan dalam parenting adalah hal yang manusiawi dan tidak bisa dihindari sepenuhnya. Tapi percayalah bahwa anak tidak membutuhkan orangtua yang sempurna. Tetapi orangtua yang mau belajar, mendengar, dan hadir secara emosional untuk menciptakan lingkungan yang membuat anak merasa aman, dihargai, serta nyaman menjadi dirinya sendiri.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Related Articles

See More

Toko Jajanan Ajaib Zenitendo: Buku Fantasi Unik Bakal Segera Tayang Filmnya

04 Mei 2026, 11:44 WIBLife