4 Strategi Membantu Anak Hadapi Penolakan dengan Sehat

- Mengakui dan mevalidasi perasaan anak
- Membantu anak memahami situasi secara objektif
- Mengajarkan keterampilan dalam mengelola emosi
Penolakan merupakan bagian dari kehidupan yang tidak bisa dihindari, termasuk dalam proses tumbuh kembang anak di lingkungan sosial atau akademik. Jika tidak didampingi dengan cara yang tepat, maka pengalaman ditolak justru hanya akan memengaruhi kepercayaan diri anak dan kestabilan emosinya untuk jangka panjang.
Orangtua dan pendidik memiliki peran penting dalam membantu anak untuk memahami dan mengelola penolakan dengan cara yang lebih sehat. Berikut ini merupakan beberapa strategi membantu anak hadapi penolakan dengan sehat tanpa merasa membuat dirinya rendah diri.
1. Mengakui dan mevalidasi perasaan anak

Langkah awal yang penting adalah dengan mengakui terlebih dahulu perasaan anak tanpa terkesan meremehkan atau menghakimi emosi yang dirasakannya. Sikap ini dapat membantu anak untuk merasa didengarkan, sehingga ia pun akan lebih terbuka dalam mengekspresikan perasaannya secara jujur.
Dengan mevalidasi emosi, maka anak akan belajar bahwa rasa sedih atau kecewa merupakan sesuatu yang wajar. Proses ini juga dapat membantu anak agar tidak sampai tertekan emosinya dan bisa mengelola hal tersebut dengan cara yang lebih sehat.
2. Membantu anak memahami situasi secara objektif

Orangtua perlu membantu anak untuk melihat penolakan dari sudut pandang yang jauh lebih luas dan juga rasional. Penjelasan yang sederhana namun terkesan logis ternyata bisa mengurangi kecenderungan anak untuk menyalahkan diri secara berlebihan.
Pemahaman objektif dapat membuat anak menyadari bahwa penolakan sebetulnya tidak selalu berkaitan dengan nilai dirinya. Justru melalui cara yang tepat, maka anak akan memisahkan kegagalan situasional dari harga diri pribadinya.
3. Mengajarkan keterampilan dalam mengelola emosi

Anak perlu dibekali dengan keterampilan dasar untuk mengelola emosi, seperti bernapas dalam, berbicara tentang perasaannya, atau menyalurkan melalui aktivitas yang positif. Keterampilan ini dapat membantu anak untuk meredakan emosi negatif secara konstruktif tanpa melampiaskannya melalui cara yang tidak sehat.
Melalui latihan ekosistem, maka anak akan mampu dalam mengendalikan reaksi emosional ketika menghadapi situasi yang sulit. Hal ini berkontribusi pada perkembangan kecerdasan emosional yang jauh lebih matang di kemudian hari.
4. Menanamkan pola pikir tumbuh dan optimis

Pola pikir tumbuh membantu anak untuk melihat penolakan sebagai bagian wajah dari proses belajar, bukan sebagai kegagalan yang permanen. Orangtua bisa menekankan bahwa setiap pengalaman dapat memberikan pelajaran berharga untuk perbaikannya di masa depan.
Melalui sikap optimis yang realistis, maka anak akan cenderung terdorong untuk melakukan kembali tanpa takut ditolak. Pola pikir ini dapat membantu untuk membangun keberanian dan ketahanan mental adalah menghadapi berbagai tantangan kehidupan yang ada.
Strategi membantu anak hadapi penolakan dengan sehat memerlukan kesabaran dan konsistensi dalam urusan pendampingan. Justru dengan strategi yang tepat, maka anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh dan percaya diri. Anak pun nantinya bisa mengelola emosi secara positif agar tidak memandang penolakan sebagai bentuk kegagalan.


















