Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi keluarga (pexels.com/emmabauso)
ilustrasi keluarga (pexels.com/emmabauso)

Menjadi orangtua sering kali membuat kamu ingin semuanya berjalan rapi dan terkendali. Kamu ingin anak disiplin, tapi di saat yang sama juga tidak ingin mereka merasa tertekan oleh terlalu banyak aturan. Dilema inilah yang sering dirasakan banyak orangtua tanpa disadari.

Padahal, disiplin tidak harus selalu identik dengan sikap keras atau serba melarang. Ada cara yang lebih hangat dan seimbang untuk membantu anak memahami aturan tanpa merasa dikekang. Yuk, ketahui strategi parenting yang seimbang agar anak disiplin tanpa merasa terkekang lewat artikel berikut!

1. Mulai dari mengoreksi perilakumu sendiri

ilustrasi keluarga membuat sarapan (pexels.com/augustderichelieu)

Anak belajar jauh lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibanding dari apa yang mereka dengar. Sikap, cara bicara, dan cara kamu merespons situasi sehari-hari diam-diam direkam dan ditiru oleh mereka. Karena itu, perubahan perilaku anak sering kali perlu diawali dari perubahan kecil pada dirimu sendiri.

“Jika kamu ingin anakmu mengatakan tolong, terima kasih, atau maaf, maka pastikan kamu juga mengucapkannya di depan mereka,” kata Dr. Dylan Ochal, MD, FAAP, dokter spesialis anak, dikutip dari Parents. “Yang tak kalah penting, pastikan kamu juga mengatakannya kepada mereka,” tambahnya.

Kebiasaan sederhana ini terlihat sepele, tetapi sangat kuat dampaknya karena anak belajar langsung dari contoh nyata. Saat kamu juga belajar mengatur emosi dengan baik, anak perlahan ikut memahami bagaimana cara mengelola emosinya sendiri.

2. Validasi perasaan anak saat mereka berperilaku tidak tepat

ilustrasi ayah menggendong anak menangis (pexels.com/baphi)

Saat anak tantrum, memukul, atau berteriak, yang terlihat memang perilakunya. Namun di balik itu, sering kali anak sedang kewalahan dengan emosi yang belum bisa ia pahami sendiri. Pada tahap usia tertentu, hal ini sebenarnya wajar karena mereka memang belum memiliki kemampuan mengelola perasaan dengan baik.

Di momen seperti ini, kamu bisa membantu dengan menyuarakan apa yang sebenarnya mereka rasakan. Coba katakan, “Aku dengar kamu kesal karena tidak boleh punya mainan itu,” lalu tambahkan, “Aku tahu ini bikin frustrasi, kadang aku juga merasakannya.” Respons sederhana ini membuat anak merasa dipahami sekaligus belajar mengenali emosinya.

3. Tetapkan batasan yang tegas dan bantu anak mematuhinya

ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/augustderichelieu)

Anak membutuhkan batasan yang jelas agar merasa aman dan memahami apa yang diharapkan darinya. Mereka perlu tahu mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan tanpa merasa diancam. Batasan yang konsisten justru membuat anak lebih tenang menjalani kesehariannya.

Cara kamu menyampaikan batasan juga sangat memengaruhi cara anak menerimanya. Kamu bisa berkata, “Kita tidak boleh memukul orang lain. Kalau kamu belum bisa berhenti, aku akan bantu dengan memegang tanganmu.” Dari situ, anak melihat bahwa kamu hadir untuk membimbing, bukan sekadar menghukum.

4. Jelaskan alasan di balik aturan sesuai usia anak

ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/gabbyk)

Ucapan seperti, “Karena Mama/Papa bilang begitu,” sering membuat anak merasa aturan itu terasa sepihak. Padahal, sedikit penjelasan bisa membuat mereka jauh lebih mudah menerima. Anak cenderung lebih kooperatif ketika memahami alasan di balik aturan.

“Memberi tahu anak secara jelas apa yang kamu ingin mereka lakukan jauh lebih efektif daripada memberi tahu apa yang tidak boleh mereka lakukan,” kata Lucie Cluver, profesor Pekerjaan Sosial Anak dan Keluarga di Universitas Oxford, dikutip dari Unicef.

Kamu bisa menggantinya dengan kalimat, “Tugas Mama/Papa adalah menjaga tubuhmu tetap aman.” Penjelasan sederhana ini membantu anak melihat aturan sebagai bentuk perlindungan. Dari situ, disiplin tumbuh dari pemahaman, bukan rasa takut.

5. Jangan mengandalkan hukuman sebagai cara utama

ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/gabbyk)

Menghukum anak memang bisa membuat mereka langsung berhenti, tetapi efeknya sering kali hanya sementara. Anak mungkin patuh karena takut, bukan karena mengerti. Dalam jangka panjang, cara ini justru bisa membuat anak merasa emosinya tidak diterima.

“Hukuman tidak efektif untuk menciptakan perubahan jangka panjang dan bisa menimbulkan dampak negatif yang tidak disadari,” kata Dr. Ochal. “Misalnya, mengirim anak ke kamar setelah tantrum justru mengajarkan mereka bahwa emosi mereka tidak bisa diterima dan orangtua mereka tidak mampu menghadapi perasaan tersebut.”

Karena itu, yang lebih dibutuhkan anak sebenarnya adalah pendampingan saat mereka kesulitan, bukan pengasingan. Fokus pada koneksi dan bimbingan akan membantu anak belajar disiplin dengan cara yang lebih sehat dan bertahan lama.

Pada akhirnya, disiplin yang paling efektif bukan yang membuat anak takut, tetapi yang membuat mereka paham. Ketika kamu bisa tegas sekaligus hangat, anak belajar bertanggung jawab tanpa kehilangan rasa nyaman di rumah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team