Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi kakak beradik.
Ilustrasi kakak beradik. (freepik.com/pvproductions)

Intinya sih...

  • Anak pertama sering dianggap sebagai “panutan” bagi adik-adiknya

  • Jadi contoh untuk adik-adik, membantu orang tua mengurus rumah, dan menjadi penengah saat ada konflik

  • Harapan akademis lebih tinggi, mengalah demi adik, dan menjadi “mini orang tua”

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Anak pertama sering dianggap sebagai “panutan” bagi adik-adiknya. Harapan orang tua biasanya lebih besar, sehingga mereka terbiasa memikul tanggung jawab sejak kecil. Meski terlihat kuat, di balik itu anak pertama sering merasa terbebani hingga overthinking.

Memahami posisi anak pertama penting agar mereka tidak tumbuh dengan tekanan berlebihan. Yuk, kita bahas enam tanggung jawab anak pertama yang sering bikin mereka overthinking.

1. Jadi contoh untuk adik-adik

ilustrasi kakak dan adik belajar bersama (pexels.com/Marta Wave)

Anak pertama sering diminta jadi role model. Mereka dituntut bersikap baik agar adik-adik meniru hal positif. Tanggung jawab ini kadang terasa berat karena tidak semua anak bisa selalu sempurna.

Kalau terus-menerus dituntut, anak pertama bisa merasa takut berbuat salah. Mereka jadi overthinking karena khawatir sikapnya memengaruhi adik-adik. Padahal, anak pertama juga butuh ruang untuk belajar tanpa tekanan berlebihan.

2. Membantu orang tua mengurus rumah

ilustrasi anak mencuci piring (pexels.com/cottonbro studio)

Sering kali anak pertama diminta membantu pekerjaan rumah. Mulai dari menjaga adik, membereskan barang, hingga hal kecil lainnya. Tugas ini membuat mereka lebih mandiri sejak dini.

Namun, tanggung jawab ini bisa bikin anak pertama merasa terbebani. Mereka kadang merasa harus selalu siap membantu meski punya kebutuhan sendiri. Kalau tidak diimbangi, anak pertama bisa overthinking karena merasa tidak pernah cukup.

3. Menjadi penengah saat ada konflik

Ilustrasi kakak menenangkan dua adik yang sedang berselisih. (freepik.com)

Ketika adik bertengkar, anak pertama sering dijadikan penengah. Mereka diminta menenangkan suasana agar tidak makin ribut. Tugas ini membuat mereka belajar jadi lebih dewasa.

Sayangnya, peran ini bisa bikin anak pertama merasa terjebak. Mereka khawatir salah langkah dan akhirnya disalahkan. Situasi ini sering membuat anak pertama overthinking karena takut dianggap tidak adil.

4. Harapan akademis lebih tinggi

Ilustrasi anak sedang belajar. (pexels.com/olia danilevich)

Orang tua biasanya menaruh harapan besar pada anak pertama soal akademis. Mereka diminta berprestasi agar jadi kebanggaan keluarga. Tekanan ini bisa membuat anak pertama belajar lebih keras.

Kalau ekspektasi terlalu tinggi, anak pertama bisa merasa tidak pernah cukup. Mereka jadi overthinking setiap kali menghadapi ujian atau tugas. Padahal, setiap anak punya kemampuan berbeda yang perlu dihargai.

5. Mengalah demi adik

Ilustrasi kakak memberikan mainan kepada adiknya. (pexels.com/PNW Production)

Anak pertama sering diminta mengalah agar adik merasa senang. Mulai dari berbagi mainan hingga kesempatan tertentu. Sikap ini membuat mereka terbiasa menekan keinginan sendiri.

Kalau terlalu sering, anak pertama bisa merasa tidak adil. Mereka jadi overthinking karena merasa kebutuhannya tidak diprioritaskan. Mengalah memang baik, tapi anak pertama juga butuh ruang untuk didengar.

6. Menjadi “mini orang tua”

Ilustrasi kakak menggendong adiknya. (pexels.com/Nothing Ahead)

Anak pertama kadang dianggap sebagai tangan kanan orang tua. Mereka diminta menjaga adik, memberi nasihat, bahkan mengawasi. Peran ini membuat mereka terlihat dewasa sebelum waktunya.

Namun, tanggung jawab ini bisa membuat anak pertama kehilangan masa kecilnya. Mereka jadi overthinking karena merasa harus selalu siap jadi pengganti orang tua. Padahal, anak pertama juga berhak menikmati perannya sebagai anak.

Tanggung jawab anak pertama memang sering bikin mereka terlihat kuat, tapi di balik itu ada beban yang bisa memicu overthinking. Orang tua perlu lebih bijak agar anak pertama tidak merasa terbebani berlebihan. Memberi ruang untuk mereka jadi diri sendiri akan membuat hubungan keluarga lebih sehat dan anak tumbuh dengan rasa percaya diri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team