"Anak usia 1-2 tahun butuh (mainan) sensorik motorik. Kalau dikasih mainan pra-membaca, ya gak cocok. Anak usia 1-2 tahun baru mengenal sensorik motorik, masih menggenggam, masih meremas, masih stimulasi taktil, menyentuh berbagai tekstur. Kalau disuruh menggunting, kan gak cocok," kata Anis kepada IDN TImes pada Rabu (26/11/2025) secara daring.
5 Tips Memilih Mainan yang Tepat untuk Anak, Sesuai Tahap Perkembangan

- Pahami tahapan perkembangan anak sesuai usia
- Perhatikan keamanan mainan sesuai milestone tumbuh kembang
- Pilih permainan yang melibatkan gerak dan seluruh indra
Di balik setiap mainan, sebenarnya ada peran besar yang bisa memberikan stimulus dari motorik, sensorik, hingga kemampuan sosial dan emosional. Jangan cuma karena lucu, mainan anak seharusnya sesuai dengan tahapan tumbuh kembang mereka. Sayangnya, gak semua orangtua memilihkan mainan yang tepat untuk anak mereka.
Padahal, mainan bisa jadi media belajar anak yang menyenangkan, loh. Praktisi Pendidikan Anak Usia Dini sekaligus produsen mainan anak, Anis Masita, mengatakan bahwa idealnya orangtua bisa memilih mainan yang sesuai dengan kebutuhan anak di fase perkembangannya. Lantas, apa tips memilih mainan yang tepat?
1. Sesuaikan dengan tahapan perkembangan usia anak

Sebelum memilih mainan untuk anak, orangtua harus mengenali dan mengerti bagaimana tahapan perkembangan usia anak mereka masing-masing. Menurut Anis, permainan harus cocok dengan fase tumbuh kembang mereka.
Maka, tips pertama adalah harus paham tahapan perkembangan anak. Tujuannya, supaya orangtua tahu media seperti apa yang cocok dengan kebutuhan usia anak mereka. Kalau anak berusia 1-2 tahun, maka bisa diberi media yang bisa menstimulasi sentuhan, gerak, atau eksplorasi indra.
2. Perhatikan keamanan sesuai fase perkembangan

Kalau sudah mengerti mainan seperti apa yang dibutuhkan oleh anak, maka cari tahu apakah mainan tersebut aman atau tidak saat dimainkan oleh anak-anak. Orangtua perlu memperhatikan milestone tumbuh kembang anak.
"Cari tahu anak di usia segini, milestone-nya harus apa? Oh anaknya lagi motorik, nih, suka masukin benda apa pun ke mulutnya. Maka, gak bisa dikasih puzzle atau dikasih benda-benda kecil itu gak bisa, nanti ketelan," ucapnya.
Dengan begitu, anak perlu mainan yang aman untuk fase oral. Mainan yang memang ditujukan untuk fase oral, berarti mainan yang gak tajam, gak kecil, mudah dibersihkan, dan gak berpotensi melukai anak-anak.
3. Pilih permainan yang melibatkan gerak dan seluruh indra

Ketika anak mulai beranjak besar dan sudah bisa berjalan, orangtua bisa mempertimbangkan untuk membeli mainan yang melibatkan seluruh indra. Anis memberi contoh anak sekolah dasar. Menurutnya, anak-anak sekolah dasar perlu diberikan banyak stimulus agar mereka aktif.
"Untuk sekolah dasar, mainannya apa yang cocok bagi mereka? Mainan yang bisa merangsang mereka untuk bergerak, juga memfungsikan semua inderanya," katanya.
Misal, permainan yang melibatkan aktivitas fisik, koordinasi mata dan tangan, serta kemampuan berpikir seperti permainan konstruksi, olahraga sederhana, atau permainan peran. Dengan begitu, anak gak hanya bermain tetapi juga belajar mengenali lingkungan, melatih konsentrasi, dan mengembangkan kemampuan sosialnya.
4. Utamakan permainan yang melatih problem solving dan interaksi sosial

Bermain adalah media anak untuk bisa belajar mengembangan skill-skill baru di luar apa yang mereka dapatkan di pendidikan formal. Kalau sudah memasuki usia sekolah, membiarkan anak bermain dengan teman-teman sebaya merupakan cara untuk melatih kemampuannya berinteraksi.
Sayangnya, anak zaman sekarang cenderung punya jadwal sekolah yang padat. Salah satu cara untuk menyiasatinya adalah bermain board game.
"Misal gak ada ruang sama sekali, paling tidak, ya board game. Kita kenal kan yang familiar adalah monopoli, ular tangga. Itu kecanggihannya bukan hanya problem solving, tetapi juga ada interaksi antar manusia," kata Anis.
Sebagai lulusan psikologi, Anis menyarankan agar permainan anak itu punya unsur interaksi di dalamnya. Interaksi gak tergantikan oleh gadget, sehingga fungsi otak anak tetap terjaga.
5. Pertimbangkan dampak jangka panjang terhadap emosi dan perkembangan anak

Ketika memilih mainan untuk anak, orangtua perlu memikirkan apa dampak jangka panjang mainan yang ia berikan. Anak perlu mengembangkan skill mereka. Ketika diberi gadget, tanpa sadar anak sudah terpapar screentime dengan durasi berlebih yang akhirnya bisa membuat anak gak fokus.
" Yang diperlukan adalah skill kecerdasan sosial dan emosi. Itu kayaknya akan jadi tantangan besar di 10-20 tahun lagi, apalagi mereka tanpa interaksi dan mereka hanya berinteraksi dengan gadget," ujar Anis.
Baginya, fondasi sosial emosi itu gak bisa dipelajari dari aplikasi. Kecerdasan sosial dan emosi anak akan terbentuk dari bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain baik itu saat bermain atau tidak.
Mainan bukan sekadar alat melainkan bagian dari proses tumbuh kembang anak. Orangtua bisa membangun karakter dan kecerdasan sosio-emosional anak dari permainan. Itu dia beberapa tips memilih mainan yang tepat untuk anak!



















