Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

3 Langkah Menghentikan Kebiasaan Over-Explaining yang Merusak Mental

3 Langkah Menghentikan Kebiasaan Over-Explaining yang Merusak Mental
ilustrasi ngobrol (freepik.com/freepik)
Intinya Sih
  • Kebiasaan over-explaining muncul karena rasa takut disalahpahami dan bisa menguras energi mental serta menurunkan kepercayaan diri dalam berkomunikasi.

  • Tiga langkah untuk menghentikannya: berhenti membela batasan diri, berhenti menjelaskan niat sebelum ditanya, dan berhenti terlalu membenarkan perasaan sendiri.

  • Dengan komunikasi yang lebih tegas dan sederhana, seseorang dapat meningkatkan rasa percaya diri dan membangun hubungan sosial yang lebih sehat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Sering merasa perlu menjelaskan sesuatu terlalu panjang supaya orang lain paham maksudmu? Kebiasaan ini dikenal sebagai over-explaining. Banyak orang melakukannya tanpa sadar, terutama saat takut disalahpahami atau dinilai negatif.

Padahal, terlalu sering menjelaskan diri justru bisa melelahkan secara mental. Kepercayaan diri juga bisa perlahan terkikis karena kamu merasa selalu harus membuktikan diri.

Supaya komunikasi tetap sehat sekaligus menjaga kesehatan mental, ada beberapa kebiasaan yang perlu mulai dihentikan. Yuk pahami langkah-langkah berikut agar kamu bisa berkomunikasi lebih tegas tanpa merasa bersalah.

1. Berhenti selalu membela batasan diri

ilustrasi "NO"
ilustrasi "NO" (pexels.com/Vie Studio)

Banyak orang merasa perlu memberikan alasan panjang saat menolak sesuatu. Contohnya saat kamu gak bisa menghadiri acara, lalu menjelaskan berbagai alasan seperti lelah, pekerjaan menumpuk, atau jadwal padat. Padahal sebenarnya kamu memiliki hak penuh untuk berkata “tidak”. Kebiasaan menjelaskan terlalu panjang sering muncul karena merasa harus mendapatkan persetujuan orang lain.

Menurut penelitian dalam Frontiers in Psychology, sikap asertif gak hanya soal kemampuan berbicara tegas. Konsep ini juga berkaitan dengan rasa memiliki kendali atas diri sendiri secara sosial, emosional, dan mental. Ketika rasa kendali ini lemah, seseorang sering merasa gak berhak menetapkan batasan. Akibatnya, penjelasan panjang menjadi cara untuk mencari legitimasi dari orang lain.

Mulai sekarang, cobalah memandang batasan sebagai kebutuhan yang sah, bukan permintaan yang harus dibuktikan. Kamu gak perlu menambahkan terlalu banyak alasan agar keputusanmu diterima. Kalimat sederhana seperti “Maaf, aku gak bisa datang” sudah cukup jelas. Semakin sering kamu melatih hal ini, semakin kuat rasa percaya pada keputusan sendiri.

2. Berhenti menjelaskan niat sebelum ditanya

ilustrasi meeting
ilustrasi meeting (freepik.com/tirachardz)

Pernah mengatakan kalimat seperti, “Aku gak bermaksud mengkritik, tapi…” atau “Mungkin aku salah, tapi…” sebelum menyampaikan pendapat? Pola ini sering muncul ketika kamu takut pesanmu disalahartikan. Akibatnya, kamu menambahkan berbagai penjelasan sebagai bentuk perlindungan.

Kebiasaan tersebut sebenarnya bisa melemahkan pesan yang ingin disampaikan, lho. Penelitian tahun 2025 dalam jurnal Cognitive Research: Principles and Implications menemukan bahwa penggunaan bahasa yang terlalu berhati-hati atau penuh penyangga sering menurunkan kesan kompetensi seseorang. Pernyataan yang langsung dan jelas justru lebih dianggap profesional dan meyakinkan.

Terbiasa menambahkan banyak klarifikasi sebelum berbicara juga membuatmu meragukan pikiran sendiri. Lama-kelamaan otak menganggap setiap pendapat harus dilindungi dengan penjelasan panjang. Padahal komunikasi yang sehat justru berawal dari kejelasan.

Cobalah melatih cara berbicara yang lebih sederhana. Sampaikan pesanmu secara langsung, lalu biarkan orang lain memprosesnya. Jika terjadi kesalahpahaman, kamu selalu bisa menjelaskan setelahnya, kok. Pendekatan ini membantu membangun rasa percaya diri dalam menyampaikan pandangan.

3. Berhenti terlalu membenarkan perasaan sendiri

ilustrasi sedih
ilustrasi sedih (pexels.com/Liza Summer)

Banyak orang tanpa sadar meremehkan emosi mereka sendiri. Contohnya dengan mengatakan, “Aku tahu ini mungkin berlebihan, tapi aku sedih,” atau “Mungkin ini sepele, tapi aku merasa tersinggung.” Kalimat seperti ini sering muncul ketika seseorang terbiasa merasa bahwa emosinya gak cukup valid.

Menurut penelitian dalam jurnal Anxiety, Stress, & Coping, pengalaman merasa emosinya gak dihargai dapat memengaruhi kondisi psikologis sehari-hari. Individu yang sering mengalami invalidasi emosional cenderung memiliki emosi positif lebih rendah, reaksi stres lebih tinggi, serta lebih sensitif dalam situasi sosial.

Kebiasaan membenarkan emosi secara berlebihan membuat percakapan berubah menjadi ajang pembuktian. Kamu merasa perlu menjelaskan panjang lebar agar perasaanmu dianggap sah. Akibatnya, energi mental terkuras hanya untuk meyakinkan orang lain.

Latihan sederhana yang bisa kamu lakukan adalah menyebutkan perasaan secara langsung. Misalnya dengan mengatakan, “Aku merasa kecewa,” atau “Hal itu membuatku cemas.” Penjelasan tambahan boleh diberikan jika diperlukan, tapi gak harus menjadi bagian utama dari pesanmu.

Pendekatan ini bisa membantumu belajar menerima emosi tanpa rasa bersalah. Kemampuan mengenali dan mengungkapkan perasaan secara jelas justru menunjukkan kedewasaan psikologis. Sikap ini juga membantu orang lain memahami kondisimu tanpa harus melalui penjelasan yang berputar-putar.

Kebiasaan over-explaining sering muncul dari niat baik, seperti ingin menghindari konflik atau memastikan orang lain memahami maksudmu. Sayangnya, kebiasaan ini bisa membuatmu lelah secara emosional dan perlahan menurunkan rasa percaya diri. Terlalu sering menjelaskan diri juga membuat orang lain terbiasa menilai keputusanmu seolah perlu pembenaran.

Mulai mengurangi kebiasaan tersebut gak berarti menjadi kasar atau gak peduli, lho. Tujuannya justru agar komunikasi menjadi lebih jelas, tegas, dan menghargai diri sendiri. Belajar menetapkan batasan, menyampaikan pesan secara langsung, serta mengakui perasaan tanpa pembelaan berlebihan bisa membantu membangun mental yang lebih sehat.

Perubahan mungkin terasa canggung di awal. Akan tetapi seiring waktu, kamu akan menyadari bahwa gak semua hal perlu dijelaskan panjang lebar. Kadang satu kalimat sederhana sudah cukup untuk mewakili dirimu dengan jujur dan percaya diri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us