Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Hal yang Perlu Disyukuri meski Gak Mudik Lebaran

5 Hal yang Perlu Disyukuri meski Gak Mudik Lebaran
ilustrasi sendirian menyiapkan makanan (pexels.com/Thirdman)

Orang-orang mulai meninggalkan rantau untuk kembali ke kampung halaman dan merayakan Lebaran. Libur panjang plus THR di tangan memberi mereka keleluasaan untuk mudik serta bergembira bersama keluarga. Akan tetapi, dirimu malah tertahan di rantau. Kamu sudah dipastikan tidak mudik tahun ini bahkan boleh jadi tahun-tahun sebelumnya pun sama.

Kalau dirimu sudah terbiasa gak mudik, barangkali kini nyaman saja merayakan Idul Fitri di mana pun. Namun, tak salah juga apabila kamu masih merasa gelisah bahkan sedih lantaran tidak bisa ikut pulang kampung seperti kebanyakan orang. Saat dirimu melakukan sesuatu yang berbeda dari tradisi, ada perasaan bersalah atau gak normal.

Tekanan mentalmu bertambah jika tak sedikit orang di sekitarmu terus mencecar alasanmu gak mudik. Bahkan sampai ada orang yang bertanya memangnya kamu tidak merindukan keluarga? Pertanyaan seperti ini tentu menyiksa sebab tak ada orang yang mati rasa terhadap keluarganya sendiri. Rasa kangen pasti ada.

Tambah menjengkelkan apabila ada orang yang seenaknya menyebutmu gak sayang pada orangtua di kampung. Ia bersikap sok tahu tentang hubunganmu dengan kedua orangtua. Di tengah perasaanmu yang campur aduk lantaran tidak ikut mudik, jangan lupa tetap bersyukur atas lima hal berikut.

1. Kamu punya pekerjaan meski harus tetap bertugas saat Lebaran

ilustrasi bekerja (pexels.com/Emediong Umoh)
ilustrasi bekerja (pexels.com/Emediong Umoh)

Penyebab orang gak mudik ialah pekerjaan yang mengharuskanmu tetap masuk. Tak cuma aparat keamanan dan tenaga medis yang tetap bekerja di musim libur panjang. Petugas kebersihan di berbagai tempat umum, koki, pelayan, wartawan, dan sebagainya juga masih bekerja ketika Idul Fitri.

Apabila semua sektor berhenti beroperasi malah kebutuhan masyarakat yang mudik menjadi kacau. Bekerja di hari libur termasuk Lebaran juga tidak semata-mata pengorbanan buat orang lain. Kamu pun tetap diuntungkan. Bagaimanapun juga punya pekerjaan lebih baik daripada menganggur.

Apalagi saat tak sedikit orang kehilangan pekerjaan dan harga berbagai kebutuhan mengalami kenaikan. Dirimu harus bersyukur sekali masih memiliki pekerjaan yang memberimu penghasilan rutin. Bahkan mungkin kamu memperoleh bonus khusus sebagai kompensasi gak bisa berkumpul bersama keluarga di hari raya.

2. Baik dirimu maupun keluarga di kampung sama sehatnya

ilustrasi menyiapkan makanan (pexels.com/Mikael Blomkvist)
ilustrasi menyiapkan makanan (pexels.com/Mikael Blomkvist)

Selain sumber penghidupan, kondisi kesehatan yang cukup prima juga utama. Gak bisa mudik tak apa-apa terpenting kesehatanmu baik-baik saja. Kalaupun dirimu justru tidak bisa mudik karena baru pulang dari rawat inap misalnya, setidaknya tinggal menunggu pemulihan.

Demikian juga kabar bahwa keluargamu di kampung dalam kondisi sehat sudah lebih dari segalanya. Seandainya keluargamu khususnya orangtua sakit keras, tentu bagaimanapun caranya dirimu harus pulang. Itu pun bukan kamu pulang dengan rasa bahagia melainkan justru waswas.

Kesehatan yang tak kalah pentingnya adalah terkait buah hati. Jika kamu dan pasangan baru dikaruniai momongan, sebaiknya memang gak ikut mudik dulu. Perjalanan berjam-jam, polusi, cuaca panas, serta potensi penyebaran penyakit dari banyak orang sangat membahayakan si kecil. Selama semuanya sehat, tidak ada alasan buat bersedih walaupun dirimu tak bisa mudik.

3. Punya makanan saat Idul Fitri bahkan beberapa hari setelahnya

ilustrasi makan sendirian (pexels.com/Gu Ko)
ilustrasi makan sendirian (pexels.com/Gu Ko)

Terlihat simpel, tapi bayangkan seandainya beras pun kamu tak punya. Dengan apa besok dirimu hendak mengisi perut? Andai pun kamu gak memiliki cukup uang untuk mudik, hidupmu aman selama masih bisa makan. Memang perkara dalam hidup ini tidak hanya makan.

Ada kerinduan pada keluarga di kampung halaman yang juga terasa mendesak untuk dipuaskan. Namun, terdapat kebutuhan yang lebih pokok dari itu. Ujaran makan gak makan yang penting kumpul pada kenyataannya tidak bisa diterapkan. Jangan biarkan kesedihan mendalam karena kamu tak mudik bikin hidangan di meja terasa hambar.

Tetaplah menikmatinya penuh syukur. Kalau di hari raya dirimu masih bisa makan dengan layak, artinya kamu juga telah menunaikan kewajiban membayar zakat. Dirimu mampu berbagi pada sesama. Nikmat mana lagi yang hendak didustakan olehmu? Jangan bilang kamu mending kelaparan daripada Lebaran gak pulang. Dirimu mungkin belum pernah benar-benar merasakan derita kelaparan.

4. Telah dipertemukan dengan Ramadan dan Syawal

ilustrasi makan sendirian (pexels.com/Michael Burrows)
ilustrasi makan sendirian (pexels.com/Michael Burrows)

Di mana pun kamu merayakan Idul Fitri, jangan melupakan nikmat besar yang baru saja bahkan masih dinikmati. Yaitu, pertemuanmu dengan bulan suci Ramadan yang baru berlalu serta Syawal. Ini artinya, kamu kudu mensyukuri nikmat usia. Ramadan dan Syawal berikutnya masih lama sekali.

Dirimu gak tahu apakah tahun depan masih dapat kembali berjumpa kedua bulan tersebut. Lebih baik memperbanyak rasa syukurmu akan nikmat saat ini daripada pikiran terus melayang ke kampung halaman dan bikin sedih gak bisa mudik. Jangan lupa untuk berdoa dengan sungguh-sungguh.

Supaya tahun depan baik kamu maupun keluargamu di mana pun berada dapat kembali berpuasa serta merayakan Idul Fitri. Ingat pula bahwa pulang kampung sebenarnya bisa dilakukan kapan saja. Dirimu jangan terlalu kaku soal mudik kudu ketika Lebaran. Hingga kamu lupa mensyukuri nikmat besar telah bertemu Ramadan serta Syawal.

5. Adaptasimu di rantau sangat bagus

ilustrasi menuang teh (pexels.com/Vlada Karpovich)
ilustrasi menuang teh (pexels.com/Vlada Karpovich)

Tidak semua orang mampu merayakan Lebaran di rantau. Sekalipun tempatnya merantau gak terlalu jauh dari kampung halaman dan mereka sudah sering pulang, tetap berkeras mudik Lebaran apa pun yang terjadi. Ini bukan hanya tentang besarnya kerinduan berkumpul bersama keluarga. Sedikit banyak ini juga menunjukkan kurangnya kemampuan beradaptasi dengan kehidupan di kota orang. 

Ada rasa tidak nyaman yang sangat kuat jika mereka harus bertahan di rantau ketika Idul Fitri. Meski seharusnya mereka masih bekerja, akhirnya memilih membolos apa pun konsekuensinya nanti. Beberapa orang sulit sekali menikmati perayaan Lebaran di rantau walaupun suasananya gak kalah meriah dengan di kampung halaman.

Apabila kamu merasa gak terlalu masalah merayakan Idul Fitri di mana saja, artinya penyesuaian dirimu bagus. Emosimu tak terlampau melekat pada daerah tertentu termasuk tanah kelahiran. Tanpa kamu sadari, ini memudahkanmu buat mengembangkan diri di mana pun berada. Tanah rantau bisa terasa seperti tanah kelahiran bagimu dalam waktu yang cukup singkat.

Sedikit sedih karena kamu gak mudik boleh-boleh saja. Namun, dirimu tak perlu murung terus apalagi sampai ada perasaan puasamu sia-sia. Ibadah puasamu tidak ada hubungannya dengan mudik. Puasa merupakan ibadah, sedangkan mudik Lebaran adalah tradisi. Kalaupun kamu tak pulang kampung masih dapat video call dengan orangtua dan saudara-saudara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Merry Wulan
EditorMerry Wulan
Follow Us