5 MBTI yang Gampang Menangis saat Marah, Bukan karena Sedih!

- INFP sering menangis saat marah karena merasa tidak dipahami atau disepelekan, membuat mereka merasa lega setelahnya.
- INFJ sulit mengekspresikan amarah secara frontal, sehingga tangisan menjadi jalan keluar untuk melepas emosi yang tertahan.
- ISFP kesulitan merangkai kata saat marah dan akhirnya tumpah lewat air mata, namun mereka kembali tenang tanpa menyimpan dendam setelahnya.
Emosi terkadang datang tanpa aba-aba, apalagi saat rasa kesal menumpuk terlalu lama. Ada orang yang memilih diam, ada juga yang langsung bereaksi lewat air mata. Menangis dalam kondisi marah kerap muncul karena perasaan tidak tersampaikan dengan baik.
Beberapa MBTI dikenal lebih mudah meneteskan air mata saat amarah memuncak. Reaksi ini bukan dibuat-buat, melainkan respons alami ketika emosi sudah penuh. Yuk simak! Ini MBTI yang paling gampang menangis saat marah, bukan karena sedih.
1. INFP

INFP selalu memendam perasaan sampai batas tertentu. Ketika ekspektasi pribadi berbenturan dengan kenyataan, rasa kecewa berubah jadi amarah yang sulit ditahan. Di titik itu, air mata sering keluar tanpa disadari.
Mereka menangis karena merasa tidak dipahami atau disepelekan. Emosi yang bercampur antara marah dan kecewa membuat reaksi ini terasa wajar bagi INFP. Setelah menangis, perasaan mereka biasanya jauh lebih lega.
2. INFJ

INFJ terlihat tenang di luar, tetapi emosinya cukup dalam. Saat amarah datang karena nilai atau prinsipnya dilanggar, mereka sulit mengekspresikannya secara frontal. Akhirnya, tangisan menjadi jalan keluar.
Air mata INFJ sering muncul saat mereka merasa terlalu banyak menahan diri. Mereka ingin suasana tetap kondusif, tetapi emosinya tetap mencari jalan keluar. Tangisan ini muncul sebagai bentuk pelepasan emosi.
3. ISFP

ISFP sensitif terhadap situasi yang terasa tidak adil. Ketika marah, mereka kesulitan merangkai kata untuk melawan. Emosi yang tertahan itu akhirnya tumpah lewat air mata.
Bagi ISFP, menangis bukan tanda kelemahan. Reaksi ini muncul karena perasaan mereka jujur dan spontan. Setelah emosi mereda, mereka akan kembali tenang tanpa menyimpan dendam.
4. ENFP

ENFP dikenal ekspresif dan emosional. Saat marah, perasaan mereka bisa langsung naik dengan cepat. Jika situasi terasa terlalu menekan, air mata pun muncul tanpa rencana.
Tangisan ENFP sering terjadi karena frustrasi. Mereka ingin didengar dan dimengerti saat itu juga. Ketika tidak mendapat respons yang sesuai, emosi mereka langsung meluap.
5. ESFJ

ESFJ sangat peduli pada hubungan dan suasana sekitar. Ketika usaha mereka dianggap sepele atau tidak dihargai, rasa marah muncul cukup kuat. Air mata keluar sebagai bentuk luapan emosi yang tertahan.
Mereka menangis karena merasa gagal menjaga keharmonisan. Perasaan bersalah dan kesal sering bercampur jadi satu. Setelah itu, ESFJ biasanya berusaha memperbaiki keadaan dengan cepat.
Menangis karena marah sering disalahpahami sebagai sikap berlebihan. Padahal, bagi beberapa MBTI, reaksi ini muncul karena emosi sudah terlalu penuh. Setelah air mata kering, perasaan justru lebih ringan dan pikiran kembali jernih.



















